My worry and how I cast it away

06.13

Setiap hari selama 10 bulan ini, selalu ada hal atau tugas baru yang belum pernah saya buat sebelumnya. Ketika dapat tugas-tugas itu saya cemas dan takut kalau saya nggak bisa mengerjakannya dengan benar. Saya takut saya mengacaukan segalanya. Tapi, pada akhirnya semua selesai dan tidak semengerikan yang saya bayangkan.

Misalnya hari ini. Saya terbangun dengan dismenore hebat yang membuat saya datang terlambat ke kantor. Dan belum lagi saya berangkat, seorang teman minta bantuan saya untuk kegiatan lokakarya pendidikan yang sedang diadakan oleh departemen kami. Duh, rasanya makin malas saja. Apalagi ini pertama kalinya saya mendapat tugas seperti itu dan saya nggak tahu harus kerja mulai dari mana. Ditambah dismenore yang tanpa ampun, saya bahkan nggak paham saat teman saya kasih penjelasan. Macam masuk kuping kanan keluar kuping kiri. But somehow, ketika acara mulai berjalan, saya mulai paham dan semua berjalan lancar. Bahkan, kelompok kami jadi yang selesai pertama kali.

Di lain waktu, ketika saya dapat tugas yang udah sering saya kerjakan sebelumnya, saya akan merasa lebih santai dan mengerjakannya dengan cepat. Tapi, ternyata pekerjaan saya dianggap tidak benar dan berkali-kali saya harus melakukan revisi. Yang terakhir adalah abstrak 200 kata yang harus saya revisi hingga delapan kali sampai dapat versi terbaik. Ketika itu saya udah putus asa dan tiba-tiba bos saya bilang, "Sudah bagus!" Rasanya super lega :")

Sejak selesai internsip, saya merasa lebih sering cemas dibanding sebelumnya. Saya bahkan cemas kalau jangan-jangan saya menderita gangguan cemas. Lalu saya melakukan self-diagnosis berdasarkan gejala yang saya alami. Dan memang di beberapa waktu saya cemas, namun di lain waktu saya tidak. Rasa cemas saya tidak menetap terus menerus dan tidak menyebabkan gangguan dalam kehidupan saya sehari-hari, walaupun di saat kecemasan saya sedang tinggi seringkali saya susah tidur, secara umum kecemasan yang saya alami masih tergolong normal.

Saya sudah tiga kali ngerjain soal MMPI (Minnesotta Multiple Personality Inventory) dalam periode saya merasa cemas itu dan hasilnya alhamdulillah baik-baik saja, walaupun dari hasil psikotes, refleksi diri, dan wawancara saya menunjukkan sedikit ciri paranoid. Mungkin karena saya lama hidup di keluarga yang agak perfeksionis dan sedikiiit obsesif kompulsif.

Dulu saya punya mantra. Mantra yang saya dapat dari salah satu edisi Cemeti (majalah SMA saya). 

Hari ini adalah hari esok yang kamu cemaskan kemarin.
Yang buat saya punya arti: apapun yang terjadi besok, seberat apapun itu, sesulit apapun itu, pada hari berikutnya ia hanya menjadi satu tantangan yang sudah terlewati, dengan kata lain tinggal kenangan. Itulah kenapa saya nggak pernah bilang, "Masih ada satu ujian lagi," tapi "Tinggal  satu ujian lagi." Kata 'masih' hanya menambah kecemasan saya dengan mengingatkan bahwa beban saya belum terangkat sepenuhnya. Sedangkan kata 'tinggal' mengurangi kecemasan saya karena berarti kebebasan sudah di depan mata.

Belakangan saya melupakan mantra itu. Mungkin karena selama ini mantra itu saya pakai ketika sedang ujian saja. Sedangkan ketika kita bekerja, ujian itu selalu ada dalam bentuk yang selalu baru. But, it doesn't mean that it's irrelevant. Mindset saya aja yang perlu diubah kalo 1 pekerjaan selesai bukan berarti 1 ujian terlewati tapi 1 hal baru yang berhasil kita achieve/ solve.

Dan satu lagi yang saya pelajari hari ini. Hidup itu nggak mesti selalu sempurna, begitu pula pekerjaan. Sedikit cacat nggak masalah asal nggak mengganggu atau mengubah inti dari pekerjaan itu. Seringnya, ketika kita melakukan suatu pekerjaan baru untuk bos atau atasan baru, kita takut bikin kesalahan, kita terlalu cemas dengan pendapat atasan atas pekerjaan kita. Thank God, saya punya teman yang bisa ingetin saya bahwa pekerjaan saya nggak harus sempurna, yang penting baik. Dan ternyata nggak menjadi perfeksionis itu bikin lega dan beban pikiran jauh berkurang.

You Might Also Like

0 comments