Rabu, 27 Juli 2016

Random

Baru kembali dari kota yang selalu ingin ditinggalkan tapi selalu dirindukan, Semarang. Belum mandi, bau, gatel. Belum sholat. Tapi tiba-tiba lihat laptop, pengin dengerin satu lagi. Eh nambah jadi dua. Trus buka fb, trus buka blog. Trus rindu ngepost sesuatu yang nggak penting. Hahaha. Sosmed emang banyak, microblogging emang marak. Tapi nggak ada yang ngalahin the real blog untuk ngepost sesuatu nggak penting panjang, lebar, dan semi-rahasia. 

Semi-rahasia karena... follower saya pun entahlah sepertinya sudah tidak pernah menjamah blog. Semoga blogger/ blogspot awet selamanya ya. Separo hidupku ada di kamu. Ceile. Maapin ya bang pacar, gombalannya hari ini buat blog dulu. Still love you tho :3

Kamis, 30 Juni 2016

Belajar Bersyukur

"Manusia cuma bisa berencana, tapi Tuhan yang menentukan"
dan "Rencana Tuhan selalu lebih indah"

Hal itu sudah terbukti berkali-kali dan selalu selalu selalu saya syukuri. Walaupun untuk sampai ke tahap bersyukur, saya masih sama seperti manusia pada umumnya, melalui "5 stages of grieve".

Sejak lama saya pengin internsip di Jawa Tengah bagian selatan. Awalnya Magelang, kemudian Karanganyar, dan Temanggung. Alasannya simpel, daerahnya sejuk, dekat dengan Jogja, Solo, bahkan Magelang, which means deket sama mall, daaan selama ini udah sering koas stase luar di daerah Pantura, penginlah sekali-kali di daerah selatan.

Kemudian keinginan itu goyah karena alasan keluarga. Papa saya di Jogja, ibu di Semarang, dan adek akan segera mengejar cita-cita ke Bandung. Saya rasanya nggak tega aja ibu mesti sendirian di rumah. Jadi saya membuat prioritas baru: internsip di Semarang. Sayangnya eh sayangnya, karena kalah cepet-cepetan, saya dapat di Brebes (walaupun itu saya sendiri sih yang milih dengan pertimbangan sepersekian detik).

Awalnya saya kecewa dengan pilihan yang saya buat sendiri dengan sadar. Satu, karena inget omongan senior kalo internsip di sini nggak enak, kerja rodi. Dua, karena teman-teman deket saya dapet tempat internsip yang sama dan nggak jauh dari Semarang. Tiga, teman deket saya dapet di tempat yang saya idam-idamkan. 

Rasanya kesel, marah, pengin banget orang lain sengsara seperti perasaan saya waktu itu. Apalagi waktu ada yang tanpa sadar saling bilang, "Selamat ya dapet tempat sesuai keinginan." Rasanya pengin leave group dan memutuskan tali persahabatan. Hahaha, ya saya pernah se-nggrundel itu.

Apalagi saya dan dua orang teman saya termasuk kelompok minoritas di kelompok internsip Brebes. Duh! Kemudian saya inget dong kejadian setahun yang lalu.

Kejadiannya hampir sama. Saya dapet kompre di Rembang, terlepas dari kawanan saya. Rasanya persis sama. Tapi toh akhirnya, I made a lot of new friends, ketemu orang-orang yang keren dan passionate  di bidangnya, dan makin cinta dengan profesi saya. Bahkan, nggak nyangka saya dapet rejeki lagi di Rembang setelah lulus karena adanya networking yang terjalin saat itu.

"Fabi ayyi aalaa i rabbikumaa tukadzdzibaan" 
- [Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?]

Dengan keyakinan yang sama, saya berusaha mensyukuri keputusan yang sudah saya buat sendiri. Alhamdulillah, ternyataaa...
* Keluarga saya bahagia karena saya jadi deketan dengan keluarga Papa di desa (di jalur Pantura juga)
* Langsung dapet kos karena temen om saya yang kerja di Brebes punya kos-kosan deket RSUD
* Teman-teman saya yang dari kampus lain, orangnya baik dan kocak, saya kayak ketemu sama saudara yang udah lama terpisahkan
* Dan hal-hal di sini tidak semengerikan yang dibayangkan dan diceritakan
* Saya dapet libur lebaran dan kalo mau pulang tinggal naik kereta
* Saya bisa sering-sering main ke Cirebon karena tol Brebes Timur udah buka, Brebes-Cirebon 45 menit!

Bismillah semoga setahun ini lancar dan selalu baik-baik sama semuanya... And for my girls, maafin saya yang pernah punya rasa iri dengki pada kalian. Semoga kalian juga bahagia di sana :)

Minggu, 12 Juni 2016

Ikutan Ribut Soal Penutupan Warung Saat Ramadan

Di Indonesia, lagi rame-ramenya orang berdebat masalah boleh atau enggak warung buka saat Ramadan. Apalagi kalo bukan karena razia warung di Serang, Banten oleh Satpol PP beberapa waktu yang lalu. Nah, saya ada di kubu yang mana?

Jujur saya sebenernya nggak terlalu peduli warung itu mau buka atau tutup. Tapi mungkin saya ada di kubu warung boleh buka, seperti juga restoran-restoran mahal lainnya. Emang kenapa kalo ada orang makan? Trus yang puasa jadi kepingin? Trus mokah (buka puasa sebelum waktunya, saya belum cari tau kata ini asalnya dari mana dan penulisannya yang bener kayak apa)?

Saya rasa, orang Islam, yang emang udah berniat puasa karena Allah dan keimanannya, nggak akan dengan mudah tergoda untuk makan kok. Dan orang yang emang sedang tidak puasa atau punya common sense pasti dengan sendirinya malu makan di luar, di depan orang yang berpuasa. 

Jadi, kalo ada yang bilang warung harus ditutup untuk menghormati yang puasa (supaya nggak tergoda) kok kayaknya agak menghina ya? Masa iya, nggak sanggup nahan nafsu makan minum barang sehari aja (dikali 30 sih). Masa iya, orang yang berpuasa karena Allah selemah itu imannya sampe nggak tahan lihat lodeh di warung?

Lagipula, kalo nggak boleh buka warung, trus itu bapak ibu yang biasa jualan, selama puasa mau kamu kasih kerjaan apa? Trus kalo mereka nggak bisa kerja, mereka mau sahur dan buka pakai apa? Cari kerjaan lain? Bisa aja, kalo punya modal, keahlian lain, dan kalau mereka emang sangat kuat prinsipnya untuk menghormati orang yang berpuasa. Saya salut dengan mereka. Tapi, lagi-lagi, nggak semua orang bisa seperti itu...

Intinya puasa kan menahan hawa nafsu, artinya kita yang ngontrol diri kita supaya 'menang'. Bukan kita yang kontrol orang lain supaya kita 'menang'. Cukuplah warung itu ditutup dengan tirai kalau memang mau menghormati orang yang berpuasa, nggak perlu sampai menyita segala makanan yang dia jual.

Di dekat kos saya ada warung makan (nggak akan saya sebutin dimana, takut digrebek tiba-tiba), dia buka sejak jam 2 pagi sampai subuh dan lanjut dari jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Si ibu yang berjualan pun berpuasa lho. Bayangin dia bangun dari jam berapa untuk masak? Capek, tapi karena orang lain butuh makan makanya dia berjualan. Lingkungan saya memang heterogen, banyak perantauan dan banyak yang tidak berpuasa. Walaupun begitu dia jualan dengan warung yang super tertutup, nggak semua orang tau kalo warung itu buka, kecuali udah biasa.

Saya delapan hari ini belum juga puasa. Tapi, di rumah saya tetap ikut sahur dan minum hanya setelah orang serumah sudah buka. Di kos saya mungkin ke warung untuk beli makan tapi saya pun makan sembunyi-sembunyi di kos dan saya punya banyak 'simpanan' supaya saya nggak perlu jajan siang-siang bolong. 

Saya ingat punya teman Nasrani yang selama sebulan tinggal bareng saya di bulan Ramadan. Waktu saya sahur, dia sarapan. Waktu saya sholat dzuhur, dia secepat kilat makan siang (dia nggak mau keliatan lagi makan siang saat saya selesai sholat, dia MALU tidak puasa padahal itu bukan kewajibannya). Dan waktu saya buka, dia makan malam. 

Nggak sedikit juga teman saya yang rutin puasa Senin Kamis melihat makanan dimana-mana tapi nggak batal juga. 

See, semua itu kembali lagi pada individunya. Kembali pada keimanan yang berpuasa dan common sense mereka yang nggak berpuasa.

Buat saya alasan warung boleh tetap buka adalah karena mereka yang berjualan butuh menyambung hidup, pasang tirai saja cukup lah untuk menghormati yang berpuasa. Dan yang puasa, coba diingat lagi puasa itu untuk menahan hawa nafsu bukan untuk menghilangkan 'stimulan' yang ada di luar sana. Karena semut di seberang pulau tampak dan gajah di pelupuk mata tak tampak.

Rabu, 13 April 2016

Iseng aja nyetel mp3 di laptop dan nemu lagu Especially For You tapi bukan versinya MYMP, melainkan si Kylie dan Jason yang entah siapa itu (dan entah gimana saya dapet lagu ini). Mungkin ini versi aslinya ya... Mungkin...


Selasa, 12 April 2016

Cheese in The Trap

taken from here

Adalah suatu judul komik webtoon yang saya subscribe kedua setelah Dice. Waktu itu baru mulai episode pertamanya dan dari sinopsisnya kok serial cantik banget, hihi, dulu saya hobi baca komik serial cantik. 

Makin lama makin suka dengan tokoh-tokohnya. Terutama Hong Seol si tokoh utama yang pekerja keras dan Yoo Jung si mahasiswa teladan yang menyimpan rahasia gelap dalam dirinya. Hmmm... Belum-belum aja udah menarik, yah kata pacar saya, saya ini agak terobsesi sama orang psycho. 

Januari lalu, komik ini keluar drama korea nya. Walaupun pas trailer awal saya agak nggak suka sama aktor aktrisnya (karena belum kenal), pas nonton jadi sangat sangat sangat sukaaaaa!!! Selain alur ceritanya yang hampir persis, tokoh-tokohnya kayak hidup dari webtoon gitu. Mereka kayak pas banget sama yang digambarkan di webtoon, bahkan ke gesture dan gaya bicaranya persis yang saya bayangkan. 

Sayangnya, endingnya bikin galau... Yah kalau kalian udah nonton pasti kalian tau. Dan sampe sekarang saya belum move on dong. Saya udah ngulang nonton drama ini dari awal untuk ketiga kalinya. Amazing, nggak pernah kayak gini sebelumnya. 

PS. Soundtracknya bagus-bagus bangeeeeett! Gilak gilak!

Renungan Mantan (Calon) Mahasiswa

Tahun ini adek saya ujian nasional SMA dan tahun ini juga dia akan mulai kuliah. Beda dari saya yang "sangat" diarahkan untuk masuk jurusan tertentu, adek saya diberi kebebasan total. Mulai dari jurusan yang diambil sampai di mana dia akan kuliah.

Bahkan, dia pun mengalami kegalauan. Dia galau karena banyak pilihan yang bisa diambil, sedangkan dulu saya galau karena pilihannya sedikit sekali. 

Banyak sih kalau mau jujur. Dan setelah saya pikir lagi, dengan otak dewasa saya, saya yang dulu membatasi diri saya sendiri. Seperti yang pernah saya bilang di suatu post dulu, saya ini kurang ngeyel. Dan kurang bersyukur, pada saat itu.

Beberapa waktu lalu, saat sedang bersih-bersih kamar, saya menemukan sebuah diary jaman SMA. Dulu saya emang rajin banget nulis diary. Sejak kuliah saya nggak bisa rutin dan akhirnya kegiatan itu jadi terbengkalai. NAAAH, di diary itu saya selalu nulis doa "semoga keterima di FK UNDIP". Dan voila! Di situlah saya keterima, satu-satunya, dan bahkan sekarang sudah lulus.

Saya bahkan nggak menulis "semoga keterima di HI UGM". Well, ini sangat mungkin dan saya pun sadar, selama ini saya memasang semacam victim mentality pada diri saya, semacam mekanisme pertahanan diri, dan menyalahkan orang tua saya untuk hal kuliah kedokteran. Padahal faktanya, itu bagian dari usaha saya dan merupakan hal yang selalu menjadi doa saya ketika itu. Astaghfirullahaladzim, begitu nggak bersyukurnya saya...

Setelah melalui semua perkuliahan, perkoasan, dan lain sebagainya. Setelah sekarang saya lulus. Saya sangat bersyukur. Bersyukur buat segala pengalaman, buat kesempatan untuk membantu orang yang kesulitan. Memang seringkali merasa lelah, kesel karena nggak bisa istirahat, waktu main yang kurang, tapi ketika dihadapkan lagi pada pasien yang butuh pertolongan, semua itu hilang, yang ada di kepala cuma gimana caranya biar orang ini nggak kesakitan. Persis seperti kata ibu dulu.

Saya ini orang yang nggak bisa berdebat blah blah blah, nggak menonjol, dan saya rasa itulah yang bikin dulu saya minder dan jadi nggak terlalu berdoa buat masuk HI. Saya suka ngobrol dengan orang secara private, saya merasa "dibutuhkan saat orang kesusahan" adalah salah satu bukti eksistensi diri saya. Dan itulah yang bikin sekarang saya merasa nyaman dengan profesi ini. Saya rasa bahkan pada waktu itu pun saya sadar tapi saya terlalu angkuh untuk mengakui. Namanya juga remaja, penginnya selalu membangkan sama orang tua.

Profesi ini udah membawa saya ke banyak perenungan hidup, ceileh... Serius... Saya suka dengan profesi ini dengan segala bentuknya. Profesi ini mungkin yang paling bikin saya nyaman. Yang dipikirkan orang tentang dokter seringnya adalah pasti dapet pekerjaan dan pasti kaya. Yang nomer satu bener, yang nomer dua entahlah... 

Dokter itu memulai karirnya dari nol, beberapa puluh ribu, beberapa ratus ribu, barulah juta-jutaan. Bukan seperti lulusan sarjana lainnya yang jadi pegawai dengan pendapatan mungkin dari nol langsung ke berjuta-juta. Dan insya Allah, upah yang diterima dokter itu sesuai dengan apa yang dikerjakan, begitu pula dengan amalnya. Kata guru-guru saya, "Jadi dokter itu, satu kaki Anda sudah di surga, tinggal perilaku lainnya membawa satu lagi kaki kita ke mana." 

Pada akhirnya, semua pekerjaan adalah sama. Rejeki itu nggak kemana, asal kita selalu berusaha, berdoa, dan bertawakal. Adek-adek yang pengin jadi dokter, mungkin punya motivasi yang beda-beda. Apapun itu kalo sudah jadi pilihan dan akhirnya keterima di FK, harus selalu bersyukur. Di FK (dan di jurusan apapun) itu nggak mudah untuk bertahan. Insya Allah dengan bersyukur, mengeluhnya jadi kurang, capeknya jadi kurang, hikmahnya yang bertambah. Aamiin...

PS. Jangan takut, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya ilmu, somehow kita akan lebih sabar dan ikhlas menghadapi berbagai macam pasien. Saya pun masih terus berusaha jadi dokter yang lebih baik lagi. 

Kamis, 31 Maret 2016

Common Sense

Banyak, banyak banget artikel yang bisa ditemui di majalah, koran, maupun media online yang belakangan ini menyudutkan dokter. Mulai dari dugaan malapraktik, affair dengan perusahaan farmasi, dan yang sekarang lagi booming adalah masalah dokter puskesmas pegang-pegang doang. Well, topik saya di sini bukan itu.

Entah anggapan masyarakat atau Anda tentang profesi dokter, atau yang lainnya, itu bagaimana... Please, do respect, at least at the time when you need them. It is called "common sense".

Pernah suatu waktu saat sedang jaga malam, seorang dokter dan dua orang perawat sudah beranjak tidur. Bahkan waktu jaga malam, petugas kesehatan yang sedang jaga diperbolehkan tidur saat tidak ada pasien, well, petugas kesehatan juga punya irama sirkadian yang sama. Dan jangan dikira mereka bisa tidur nyenyak. Mata bisa saja terpejam, tapi telinga selalu siaga. Saya sendiri bahkan selalu mimpi sedang menangani pasien saat sedang tidur di waktu jaga malam.

Tiba-tiba terdengar bel, tanda pasien datang. Mereka bergegas menghampiri pasien. Bel terus berbunyi, berkali-kali. Petugas berpikir ini mungkin kasus gawat darurat. Tidak sampai satu menit, pasien mendapatkan pelayanan. 

Saat diminta untuk mendaftar, pasien malah ngomel-ngomel seolah mengatakan petugas tidak becus dengan tugasnya. Saat dipanggil untuk diperiksa, pasien berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki, menyeret kursi dengan kasar, dan duduk dengan suara bergerudukan seolah marah. Ketika ditanyai mengenai keluhannya, pasien yang penampilannya necis dan berada ini, malah menjawab dengan nada membentak. Saat diperiksa ia terus bersungut-sungut. Entah apa yang membuatnya kesal.

Dan lucunya, pasien ini mengatakan, "Saya ini cuma radang tenggorokan. Minta obat yang bagus." Dan dari gelagatnya, ia tidak ingin diperiksa, hanya ingin mendapatkan obat.

...

Dear patients, people, whatever you are...

Nggak ada salahnya periksa tengah malam, memang sudah tugas kami yang berjaga untuk mengatasi keluhan Anda bahkan di dini hari sekalipun. Cuma yang saya heran, di mana common sense nya?

Kalau bukan sesuatu yang gawat (mengancam jiwa) dan darurat (mendadak), nggak perlu lah pencet bel berkali-kali dan ngomel walau kami sudah datang secepat kilat. Atau kalau Anda punya lebih banyak waktu, periksalah di waktu-waktu yang wajar.

Dan kalau Anda sudah yakin Anda sakit apa, enggan diperiksa, belilah obat over the counter di apotek. Konsultasikan dengan ahli farmasi untuk mendapatkan obat yang sesuai.

Hari gini mudah kok mengakses medikasi pertama di kala Anda sakit. Banyak aplikasi yang bisa diakses, seperti alodokter.com, doktersehat,com, mayoclinic.com, bahkan di pinterest jika Anda masukkan keyword home medication banyak sekali cara-cara mudah untuk mengurangi keluhan Anda.

Kita sama-sama saling menghormati saja. Petugas kesehatan berusaha melayani Anda sebaik mungkin, menghormati Anda. Anda juga seharusnya sama, hormati kami dengan prosedur dan pekerjaan kami. Tidak hanya pada petugas kesehatan, termasuk dengan semuanya. Hormati orang-orang yang berusaha memberi pelayanan yang baik pada Anda. At least, when you need their help. It is common sense.

Even at a time I hated a cop for taking my license, another time I respect him for helping me make a new ID card.