Senin, 05 Desember 2016

Jadi?

Was my childhood too beautiful or was it least beautiful that I don't want to grow up?

Minggu lalu mungkin minggu terberat saya selama tugas di IGD. Mungkin karena jaga 11 hari berturut-turut dan 2 di antaranya adalah double shifts. Lemah bingit, iya. Rasanya sampe udah nggak konsen, nggak bersemangat, emosian, capek melulu. Pucuknya adalah saya merasa bosen jadi dokter. Padahal belum ada setahun ini. Huft. Jadilah saya membombardir hampir semua dokter umum yang saya temui, "Dok, dokter bosen nggak jadi dokter?" Hahaha, dan jawabannya hampir sama yang intinya karena udah jadi mata pencaharian, ya mau nggak mau harus kerja, karena kalo nggak kerja nggak dapat uang, nggak bisa hidup.

Well, sampai kapan saya perlu diingetin kayak gitu? Saya ini udah dewasa dan punya kewajiban yang harus dipenuhi: berpenghasilan sendiri untuk hidup. Masa ya mau minta orang tua terus? Rasanya pengin jadi anak-anak terus dan bergantung sama orang tua, tapi orang tua sendiri juga makin tua lagi, nggak seproduktif dan seaktif dulu. 

Saya sering banget denger cowo saya ngomong, "I love my job!" which one come first I don't know, tapi dia emang bisa menunjukkan sisi terbaik dari dirinya di pekerjaannya. Sementara saya masih bertanya-tanya kapan saya dengan percaya diri bisa bilang begitu.

Jadi inget, beberapa waktu yang lalu ada dokter di tempat saya internsip ngajakin untuk ikut kegiatan volunteerism tentang memberi 'bahan bermimpi' untuk anak-anak desa mengenai pekerjaan kita. Intinya di dalam kegiatan itu, kita harus menjual profesi kita dan menunjukkan kecintaan kita terhadap profesi kita. Dan saya ngomong dengan memelas dong, "Gimana caranya saya menunjukkan kecintaan saya pada profesi ini, kalo saya sendiri masih nggak tau saya cinta atau enggak."

Emang keliatan banget dokter yang satu ini beda. Kalo yang lain menyerah begitu lihat pasien jelek, dia akan berusaha sekuat tenaga supaya pasien ini jadi bagus lagi. Mungkin orang kayak gini ini yang dari dulu cita-citanya pengin jadi dokter, pikir saya. 

Saya nggak pengin menyalahkan dan menyesali masa lalu. Saya bisa sampe sini aja udah perlu disyukuri banget... Tapi saya nggak pengin kerja hanya untuk mengisi weekdays, saya ingin bisa seperti Rijdzuan yang bilang kalo saya sukaaaaa banget sama kerjaan yang saya punya sekarang. Even this man said that he never gets bored of his job *applause. Saya ingin kerja dengan bahagia supaya nggak merasa lelah sepanjang waktu. Jadi, saya harus gimana?

Senin, 28 November 2016

Stigma tentang Anak Ilmu Sosial

Stigma, menurut KBBI, adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Banyak orang yang menderita karena adanya stigma ini. Di berbagai bidang pasti ada aja orang yang jadi korban stigma yang dibuat dan terlanjur menempel di masyarakat. Berikut ini saya akan sedikit bahas contoh nyata yang saya temui di bidang pendidikan.

Beberapa bulan lalu, saya mendapat kesempatan menjadi salah satu tim interviewer kepribadian untuk sebuah organisasi nirlaba di bidang youth exchange. Peserta terakhir yang saya wawancarai hari itu adalah anak berprestasi yang bisa dibilang menderita karena stigma yang melekat di masyarakat tempat dia tinggal sekaligus dipercaya oleh dirinya sendiri. Dia keren banget, menurut saya. Saya mah apa jaman SMA nggak ikut ekstrakurikuler, nggak ikut organisasi. Nah, dia ini udah menghasilkan sebuah karya ilmiah yang bahkan berhasil memenangi sebuah penghargaan. Karya ilmiah yang dia buat waktu itu mengenai kenyataan dan harapan anak-anak SMA mengenai orang tuanya. Hasilnya, ternyata kebanyakan anak mengharapkan orang tuanya memberikan lebih banyak pujian seperti Mario Teguh atas usahanya ketimbang terus menerus menuntut si anak, bahkan dengan kata-kata kasar dan kekerasan fisik. Anak-anak berpikir hal tersebut dapat memacu mereka untuk berprestasi lebih baik lagi. Wow! Bahkan saya selama ini cuma berangan-angan doang dan nggak pernah bikin karya ilmiah macam itu. Saya mah gitu orangnya *sigh.

Well, sembari wawancara, saya membaca berkas tentang kepribadiannya dan bertanya tentang apa hal yang membuat dia sangaaaat down. Jawabannya agak mengagetkan, sekaligus tidak. Dia sedih karena saat penjurusan dia masuk ke jurusan Ilmu Sosial, bukannya Ilmu Alam. Agak mengagetkan, karena saya pikir orang yang begitu peduli dengan kondisi sosial di sekitarnya dan bahkan bikin karya ilmiah bertema sosial, ternyata nggak kepingin masuk jurusan Ilmu Sosial. Dia ingin masuk jurusan Ilmu Alam karena bercita-cita jadi ahli mesin atau scientist (adek saya banget!). Dia cerita kalau saat itu dia nggak bisa terima dan menangis berhari-hari. Dia bahkan tanya ke gurunya, kenapa dia nggak bisa masuk kelas Ilmu Alam? Dan gurunya bilang, dari hasil penilaian dia lebih cocok di kelas Ilmu Sosial, bukan karena dia nggak mampu di kelas Ilmu Alam. Dan sejujurnya, itu juga yang saya lihat dari dia.

"Kenapa kamu nggak mau masuk kelas Ilmu Sosial?" Karena kelas itu identik dengan anak-anak nakal kak. Saya malu dan takut dipandang sebagai anak nakal karena saya anak sosial. Nggak kaget sih, memang stigma seperti itu masih ada sampai jaman modern seperti sekarang. Walaupun saya sendiri nggak terpengaruh.

Saya mungkin orang yang simple-minded. Menurut saya, yang kamu lakukan harus sesuai dengan apa yang kamu minati, baru apa yang kamu lakukan dengan baik. Karena ketika kamu udah berminat, kamu pasti bisa melakukan dengan baik. Saya sendiri sejak SMP sudah berangan-anagan untuk masuk kelas bahasa atau sosial. Simply karena saya suka kedua bidang itu, terutama yang pertama. Dan saya sadar banget, karena sukaaaaa pelajaran bahasa, saya jadi menikmati saat-saat saya belajar bahasa Inggris, bahasa Jepang, bahasa Indonesia, bahkan bahasa Jawa! LKS saya mungkin udah hampir penuh walaupun belum ada setengah semester berjalan. Dan usaha nggak mengkhianati, nilai bahasa saya di rapor selalu jauuuh di atas nilai mata pelajaran lainnya. Sampai suatu saat di kelas Ilmu Alam saya dibilang salah jurusan oleh salah satu teman saya. I was!

Alasan saya waktu itu nggak masuk di kelas bahasa maupun sosial karena kedua orang tua saya masih memiliki cap stigma terhadap anak-anak kelas sosial. Mirip yang dialami si peserta di atas. Bahkan ada salah satu teman saya yang memang pintar, tapi dia berwawasan sosial luar biasa, sampai diajak bertemu guru BK, karena dia memilih untuk kelas sosial. Bahkan guru pun memberikan stigma!

Saya jadi kepikiran, dari mana stigma itu awalnya terbentuk?

Mungkin awalnya sederhana. Mereka yang berminat atau nilainya menonjol di bidang IPA masuk kelas Ilmu Alam, sedangkan yang berminat atau menonjol di bidang IPS masuk kelas Ilmu Sosial. Kemudian macam main komunikata yang di hulu ngomong apa sampai hilir jadi apa, terjadi salah kaprah, bukannya memasukkan yang nilainya menonjol di bidang IPS ke kelas sosial, mereka memasukkan yang nilainya kurang di bidang IPA ke kelas sosial, walaupun mungkin si siswa ini nilainya nggak menonjol juga di bidang IPS. Jadilah kelas sosial semacam buangan untuk mereka yang gagal masuk ilmu alam. Lebih parah lagi kalau si anak ini sebenernya nggak ada minat di kelas sosial dan jadi asal-asalan. Memang sih anak kelas sosial nggak sekutu buku anak ilmu alam, namanya juga sosial ya udah sewajarnya skill mereka dalam bidang itu menonjol. Nah, orang juga sering menyalahkaprahi ini dengan cap 'anak nakal'.

Kalau memang berminat dengan bidang bahasa atau sosial dan ingin memperdalamnya, jangan takut dicap dengan stigma. Kenyataannya, banyak anak bahasa atau sosial yang emang sejak awal berminat dan menonjol di bidang tersebut bersinar lebih terang daripada anak ilmu alam yang mungkin jiwanya entah dimana tapi karena orang tua selalu bilang: IPA IPA IPA akhirnya dia ngikut arus aja. Waktu si peserta ini mengungkapkan kegundahan hatinya, saya suruh dia googling tentang Iman Usman. Dia peduli tentang isu sosial, dia dulu masuk kelas sosial, dan lihat apa yang dia lakukan sekarang. Dan itu hanya satu dari sekian banyak anak sosial yang sukses. Karena kesuksesan nggak bergantung kamu anak ilmu alam atau ilmu sosial. Kamu bisa sukses karena passion, kerja keras, dan doa tanpa henti. Jadi berhentilah mengasihani diri dan tunjukin kalo anak sosial juga bisa berprestasi. 

Dan di wawancara selanjutnya dia cerita kalau dia saat ini sedang meneliti tentang anak miang yang memilih putus sekolah dan membantu orang tuanya jadi nelayan. Dia melakukannya karena kehidupan anak miang ini sudah menggelitik pikirannya sejak lama. So, what you say? Is he a perfect kind to be a scientist? Or an awesome anthropologist, a sociologist, a psychologist, you name it?
Banyak banget yang pengin saya lakukan: bangun pagi, ngaji, olahraga, mandi, nyuci, nyetrika, beberes kamar, blogging, belajar IELTS, belajar TPA, baru deh balik ke IGD buat kerja. Tapi, karena saya nggak disiplin, jadilah semua rencana itu berantakan. Huft.

Rabu, 26 Oktober 2016

Dokternya LagI Sensi

I'm sorry if I'm being a sensitive bitch tonight. Mungkin pengaruh PMS, mungkin juga pengaruh jaga IGD 11 hari berturut-turut.

Beberapa hari yang lalu adalah Hari Dokter Indonesia, banyak dokter di kabupaten/ kota/ bahkan nasional yang melakukan aksi damai dalam rangka menolak program DLP. DLP adalah singkatan dari Dokter Layanan Primer, maksudnya dokter yang bekerja di fasilitas pelayanan primer, sebut saja Puskesmas.

Selama ini pendidikan dokter memakan waktu 5-6 tahun (waktu normal) untuk lulus menyandang gelar dokter. Untuk disumpah sebagai dokter pun, kami harus lulus Ujian Kompetensi Peserta Pendidikan Dokter (UKMPPD), asal Anda tahu, ini ujian yang rasanya bahkan lebih serem dari UAN. Percayalah...

Udah makan waktu segitu lama dan ujian yang memastikan kami kompeten sebagai dokter, kami masih harus mengikuti program Internsip. Program untuk ngelanyahin praktek jadi dokter sebelum bener-bener bisa praktek sendiri. Jadi total waktu yang dibutuhkan untuk jadi dokter 'beneran' adalah 6-7 tahun.

Dan seakan-akan pengin kami nggak buru-buru kerja, pemerintah mencanangkan program Dokter Layanan Primer, yang setara spesialis tapi kompetensi nya 11-12 dengan dokter umum. Masalahnya, dokter umum yang nggak mengikuti pendidikan DLP ini nantinya nggak boleh praktek di layanan primer (Puskesmas) apalagi di layanan sekunder (Rumah Sakit). Masa kuliah dari DLP ini adalah kurang lebih 2 tahun. Gila! Makin lama sekolahnya, ini kapan kerjanya, padahal hidup terus berjalan. LU PIKIR dokter nggak butuh HIDUP?!

Mari kita berhitung, misal kami semua lulus SMA usia 18 tahun, saya masuk kedokteran, sementara teman lain masuk jurusan lain. Saya lulus sarjana usia 21 tahun, di saat yang sama teman lain lulus juga dengan gelar dari jurusannya. Kemudian saya menghabiskan waktu 1,5 tahun koas, sementara teman saya udah mulai cari-cari kerja dan probably mendapatkan pekerjaan dengan salary yang bagus. 

Umur 23 tahun saya lulus dokter, teman dari jurusan lain mungkin sudah dapet penghasilan yang cukup mapan. Kemudian saya masih harus internsip, usia 24 tahun saya beneran jadi dokter nih dan mulai buka praktek, memulai dari 0. Sementara itu, teman dari jurusan lain udah punya tempat tinggal sendiri, minimal mulai nyicil KPR. 

Eh tapi, ada si DLP, dan saya harus sekolah lagi sampai usia 26 tahun. Temen yang lain udah punya keluarga dan hidup mapan, saya baru mulai dari 0 lagi. See... Itulah kenapa kami menolak DLP. Kami butuh hidup dan ngga bohong hidup butuh uang. Gimana kami bisa punya uang kalo kami dituntut sekolah sekolah dan sekolah sementara kami sekolah tanpa digaji. Di luar negeri program gini bisa jalan karena mereka sekolah sambil digaji, lah negara kita emang mampu? Masa iya sampe orang tua kami tua, kami masih harus minta uang sama orang tua?

Tapi pers semlohe ini ngawur dan malah beritain kalo kemarin itu dokter demo minta naik insentif, minta naik gaji. Bikin panas masyarakat dan terutama bikin panas dokter itu sendiri. Usaha kami untuk memperjuangkan diri kami sendiri malah difitnah. Belum lagi orang-orang bego dan malas baca yang ujug-ujug komentar memojokkan dokter. Yang 'dokter kok demo, pasiennya nggak dipikirin?' 'dokter gajinya udah banyak kok masih minta naik gaji lagi?' 'dokter kok ikut-ikutan politik' Helloooo.... IQRA'! Baca yang bener baru komentar dan Man... politics is part of our life. Kamu harus paham! Kalo nggak bakal ngleser-ngleser terbawa arus doang.

Dan rasanya sedih baca komentar-komentar itu, terlepas dari apa yang mereka alami sampai memandang dokter seburuk itu... As long as I know... Saya dokter internsip dan saya kerja di IGD selama 4 bulan penuh, cuma libur seminggu sekali, sampai nggak lagi ngerti hari. Taunya cuma pagi siang malam pagi siang malam lagi. Dan selama itu, saya dan dokter-dokter lain work our asses off. Kami tidur empat jam sehari, tapi otak kami harus tetep fresh. Kami makan mungkin cuma sekali sehari saking nggak sempatnya. Dan kata siapa kami digaji gede? Bahkan senior-senior saya masih banyak yang gajinya masih kalah tinggi dari pegawai BUMN tahun kedua. Apalagi internsip lah, dianggep sukarelawan doang. Dapetnya berapa harus suka dan rela. Tapi so far so good, sampai saya baca komentar-komentar yang duh kejamnya.

And I come to this conclusion: we cannot always please anyone. Bener banget! Jadi gimana ya? Yaudahlah tutup telinga aja sama omongan orang. Kita yang ngejalanin, kita dan Tuhan yang tau sebenernya gimana, orang mah bebas beropini. Nggak usah baperan. Kita nggak bisa nyenengin semua orang dan nggak bisa bikin semua orang setuju dengan pendapat kita. Jadi ya serah-serah lu aja deh. Yang penting saya kerja, niatnya nolong, kalo situ nggak suka yaudah bye!

Sabtu, 22 Oktober 2016

Bangka Belitung Tour Chapter 2

Hari kedua dari trip ini kami habiskan separuh hari di Belitung dan separuh berikutnya di Bangka. Kami udah bersiap sejak jam 6 pagi dan langsung check out untuk menuju dermaga di Pantai Tanjung Kelayang. Sampai di sana, belum ada rombongan lain, jadi rombongan kami adalah yang pertama datang untuk islands hopping.

Masya Allah, terharu banget lihat warna pasir, laut, dan langitnya. Indonesia itu... uh greget! Yang menyenangkan adalah selama islands hopping cuacanya cerah, jadi air lautnya pun tenang dan saya nggak mabok laut :))

Kami berlayar sambil melihat gunung-gunung batu sepanjang mata memandang. Masih aja takjub dari mana asalnya batu-batu itu, kok ya bisa bertebaran di tengah-tengah laut? Nggak abis-abis lah saya nyebut.

Tiba-tiba saya melihat sesuatu yang aneh tapi nyata, di tengah laut muncul gradasi warna biru - hijau (baru kali ini saya menyadari inilah warna yang disebut turquoise) - putih - turqoise - biru. Sejenak saya merasa seperti ada dua arus berbeda yang bertemu. Dan ternyata...

Itulah yang namanya Pulau Pasir, one of our destination in this islands hopping tour. Jadi literally pulaunya itu cuma pasir aja dan bukan hamparan yang luas, tapi cukuplah buat kami turun 'berdiri, jalan-jalan, dan berlarian di tengah laut'. We took a lot of photographs there. 

Di banyak brosur mengenai Belitung, gampang banget nemuin satu gambar Pulau Pasir dengan satu atau dua buah bintang laut di atasnya. Dan itu ternyata bukan pencitraan semata! Sewaktu di sana pun, saya ketemu satu bintang laut warna pink dengan tanduk-tanduk tumpul kecil berwarna kecoklatan. Aaaaaaak, walaupun bukan penggemar Spongebob Squarepants, saya super duper seneng bisa ketemu Patrick! Hihihi...

Kembali berlayar dari Pulau Pasir, kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Lengkuas yang terkenal. Awalnya saya nggak tau tentang ke-famous-an pulau ini, sampai Rijdzuan ngetag saya di salah satu foto di akun IG Pevita Pearce yang barusan liburan di pulau ini. Pulau Lengkuas adalah salah satu icon dari Belitung dengan mercusuarnya yang menjulang tinggi menusuk langit.

Sampai di Pulau Lengkuas, saya, ibu, dan papa kabur dari rombongan dan masuk ke dalam mercusuar. It was my first time being inside the lighthouse. Tiba-tiba merasa jadi anggota Lima Sekawan yang terjebak di pulau dan terpaksa harus menginap di dalam mercusuar. Buat kalian yang belum pernah masuk ke mercusuar, bangunan ini ternyata cukup luas di dalamnya, dan isinya cuma satu: tangga. Tapi nggak seperti yang saya kira sebelumnya, tangga di dalam mercusuar bukannya satu dan melingkar terus sampai ke lantai paling atas, tapi ya macem di tangga rumah gitu, tiap satu lantai berhenti, walaupun emang bentuknya spiral.

Mercusuar di Pulau Lengkuas punya delapan belas lantai, tapi kami cuma naik sampai sepertiganya aja. Kenapa? Karena kalau naik sampai delapan belas lantai bakal lama. Dan yang jelas saya nggak berani sih hahahahaha takuuut kalo pas liat ke bawah. Bahkan dari lantai keenam pun pemandangannya udah indah banget dan semakin keliatan bahwa laut di bawah kami punya air yang super jernih. Kami bahkan bisa melihat karang-karang di bawahnya. Kyaaaaaaa >.<

Perjalanan selanjutnya adalah ke... tengah laut untuk snorkeling! Ini boleh jadi ketiga kalinya saya snorkeling, tapi ini adalah pertama kalinya saya bener-bener menikmati snorkeling

Pertama kalinya saya snorkeling adalah empat tahun yang lalu (WHAT?!! EMPAT TAHUUN?! SAYA BARU SADAR UDAH LAMA BANGET WAKTU NULIS INI) waktu itu saya dan Ivana snorkeling di Tanjung Benoa Bali selagi mama-mama kita seminar. Sebelumnya saya udah bercita-cita snorkeling waktu diajak ke Lombok dan Bunaken, sayangnya saya mens dong pas udah sampe bandara tujuan T.T

Okay, jadi snorkeling pertama saya berjalan menyenangkan walaupun saya sempet stres karena nggak bisa napas pake mulut. Goggle untuk snorkeling (dan diving mungkin) kan nutupin hidung ya, jadi mau ga mau harus napas pake mulut. Nah di snorkeling pertama, pas nyemplung saya langsung panik karena nggak bisa napas pake hidung. Padahal kalo biasanya renang juga kayak gitu, tapi kan kalo renang kepalanya cuma nyelup bentar-bentar jadi bahkan nggak napas di dalem air. Nah ini...

Untungnya, 'nahkoda' kami mau terjun juga sebagai instruktur dan sabar ngebimbing kami supaya tenang dan nunjukin tempat-tempat dengan banyak ikan, terumbu, bahkan bintang laut! That way, I didn't feel any regret! Dan waktu itu kami dapet harga super murah, cukup 100 ribu rupiah aja :")

My second time snorkeling was rather bad. Setelah ngajakin temen-temen untuk ikutan eh udah dapet harganya lumayan ngempesin dompet, eeeeh kita langsung 'diumbar' gitu aja padahal panik ngga bisa napas, alhasil kembung deh minum air laut :( Kami cuma renang di situ-situ aja dan nggak dapet pemandangan alam bawah laut apapun.

So, this one is the best so far! Sebelum nyemplung saya udah pake goggle dan ngebiasain diri untuk napas pakai mulut, sempet agak khawatir sebelum nyemplung tapi kemudian BYURR!! dan saya menikmati suara napas saya di dalam air. Semacam suara yang kalian denger di acara Discovery Channel waktu tim lagi menjelajah alam bawah laut. Dalam hati saya seneeeeng banget! That was really awesome feeling!

Sementara yang lain masih panik (ceileee sombong hahaha) saya ngambil biskuit dan langsung diserbu ikan warna warni hihihi, sukaaaa banget, saya juga berenang kesana kemari ngelihat terumbu karang yang cantik-cantik rupanya. Saya kangen banget renang! Sejak berhijab, saya belum punya baju renang syar'i jadilah saya ngga pernah renang, kemarin pun snorkeling saya pake baju sehari-hari hahaha. Bersyukur banget lah dulu dipaksa sama orang tua saya untuk les renang, kalo nggak mana berani kayak ginian. Huhu love you ibu papa :3

Selesai snorkeling lanjut ke Pulau Batu Berlayar sambil ngeringin baju dan ngegosongin badan (baca: nongkrong di buritan). Dinamakan Pulau Batu Berlayar karena di sana banyak bebatuan yang gede dan tampak seperti layar. Di sini kami cuma foto-foto sebentar karena super duper ramai sama orang-orang yang baru berangkat islands hopping

Finally, we're back to marina. Bilas-bilas pake akua botol (karena ga ada air), ganti baju kemudian cusss ke Danau Kaolin. Danau Kaolin ada belasan bahkan mungkin puluhan jumlahnya di Kepulauan Bangka Belitung. Danau ini berwarna (lagi-lagi) turqoise dengan pasir putih di sekelilingnya. Sumpah cantik banget, pemandangannya mirip dengan Kawah Putih di Jawa Barat. Danau ini terbentuk dari bekas penambangan kaolin yang ditingalkan begitu saja dan teisi air sehingga membentuk danau.

Ini ironis banget, secara perusahaan penambang seharusnya mereklamasi kembali bekas galian barang tambang mereka. Tapi, seringkali mereka meninggalkan bekas tersebut begitu saja. Kalau udah begitu alam jadi rusak. Kalian bisa lihat dari pesawat kalau pulau ini bopeng-bopeng akibat bekas galian, terutama timah, yang terlantar. Kebetulan aja yang Danau Kaolin ini indah dan jadi tempat wisata, tapi ya jangan trus semua bekas galian ditinggalin gini :'(

Selesai itu, kami cusss sarapan dan menuju bandara untuk terbang ke Pulau Bangka. Before leaving, let me tell you something. Walaupun saya nggak tamat baca semua buku trilogi Laskar Pelangi, saya baca buku pertamanya sampai habis. Dan sampai di Belitung, saya bengong dong... Ternyata ini real nya Belitung yang pernah saya baca...

Rumah-rumah di Belitung tentunya nggak sepadat di Jawa, tapi bahkan ini nggak sepadat di pulau-pulau lain selain Jawa yang pernah saya datangi. Bahkan saat kemudian saya bandingin dengan pulau sekandungnya, Pulau Bangka, pulau ini terhitung sepi. Tour guide kami bercerita bahwa di Pulau Belitung ini nggak ada angkutan umum, jadi selama di sana kita perlu sewa kendaraan. Di sana juga jarang banget ketemu yang namanya minimarket. 

Rumah-rumahnya pun satu sama lain saling jauh-jauhan dan halamannya masih luas. Kadang geli ngeliatnya karena dalam satu deret, ada rumah yang paralel terhadap jalan tapi ada juga yang serong :)) Ada yang maju mepet jalan, ada juga yang jauh ke belakang. Beneran nggak teratur. Yang teratur dan seragam cuma atapnya. Hampir semua rumah di Belitung beratapkan seng. Kenapa?

Ternyata hal ini karena di Belitung tidak ada tanah merah untuk membuat genting dan batu bata. Makanya selain beratap seng, rumah-rumah di sini kebanyakan berdinding batako. Untuk mendapatkan genting dan batu bata, orang Belitung harus 'mengimpor' dari pulau-pulau lain.

Tanah di sana pun nggak terlalu subur, menurut pengakuan tour guide. Itulah kenapa selain makanan laut, makanan di Belitung terhitung cukup mahal. Untuk menu sederhana bisa habis 20 ribu rupiah sekali makan. Satu-satunya pohon buah yang saya lihat di sana adalah pohon pisang. Hehehe. 

Belitung dulu hidup dari timah. Tapi setelah eksploitasi besar-besaran oleh PN Timah beberapa dekade yang lalu dan kemudian diikuti kebangkrutannya, Belitung sempat menjadi pulau mati. Baru beberapa tahun belakangan penduduk Belitung sadar dengan potensi pariwisatanya. Terutama wisata lautnya.

Sadly, saat ini sedang berkembang wacana mengenai penggunaan kapal hisap untuk menggali timah di lepas pantai. Tentu aja ini bikin sedih dan nggak rela para nelayan dan penduduk Belitung yang baru melek. Bahkan saya pun nggak rela rasanya, apalagi ngelihat lautnya yang turqoise, bebatuan granit yang tersebar di lautan, dan keindahan terumbu serta ikan-ikannya. 

Dan yang paling penting, di Belitung, wisata lautnya masih tergolong murah. Kemarin kami tanya ke nelayan yang membawa kami islands hopping, ternyata sekali jalan mereka dibayar 'hanya' 500 ribu rupiah dan untuk snorkeling kami nggak ditarik biaya lagi. Padahal kami snorkeling bertujuh lho. Kalo di Bali udah abis jutaan kali. 

So, let's say no to kapal hisap! Demi warisan alam untuk anak cucu kita di masa depan. Kasihan kan nanti Bruni dan temen-temennya nggak bisa lihat lautan yang super indah....

[to be continued]

Selasa, 18 Oktober 2016

Bangka Belitung Tour Chapter 1

Hello!

Saya menghitam dalam waktu tiga hari saja! Yang saya suka dari stase IGD ini adalah liburnya dirapel 3-4 hari jadi lumayan cukup buat jalan-jalan. Dan kemarin, pas giliran saya libur, pas banget ibu dan papa mau berlibur ke Bangka Belitung bareng temen-temennya. Yaudah deh, saya ikutan...

Kami berangkat Jumat pagi dengan pesawat ke Jakarta kemudian lanjut ke Tanjung Pandan, Belitung. Dasarnya saya ya, kalo nggak cari masalah nggak lega rasanya hahaha. Saya udah berhasil ngelewatin security check tanpa lepas ikat pinggang, eh di security check berikutnya ketauan dong, trus disuruh lepas. Saya beralasan celana saya melorot kalo nggak dipakein ikat pinggang, si mbak security yang nyolot bilang, "Kalau melorot saya pegangin." Akhirnya saya lepas dan bener melorot, tapi si mbak security nggak mau pegangin. Pas ngambil barang-barang lagi, saya protes dong ke dia, "Mbak gimana sih, katanya mau pegangin kalo melorot. Dari tadi saya udah teriak-teriak minta pegangin, eh mbak diem aja, ah nggak bener nih." Hahahaha, pasti si mbak itu bete banget deh sama orang kayak saya :P

Sampai di Tanjung Pandan, terjadilah keributan kecil gara-gara si tour guide bilang kalo hari itu kami nggak bisa islands hopping seperti yang tertulis di jadwal perjalanannya. Alasannya adalah para nelayan yang biasa nyeberangin kita dari pulau satu ke pulau lainnya semuanya nggak kerja karena demo menolak kapal hisap. Kapal hisap adalah kapal-kapal yang digunakan untuk menambang timah di lepas pantai. Mereka menolak adanya kapal hisap itu karena lingkungan laut akan jadi rusak dan nggak indah lagi, otomatis mengganggu sektor pariwisata yang lagi berkembang di Belitung.

Setelah negosiasi dan segalanya, akhirnya kami memutuskan untuk islands hopping keesokan harinya. Risikonya kami harus memundurkan jadwal perjalanan ke Bangka.

Hari pertama di Tanah Belitong, kami diajak makan di tepi pantai dan di situlah awal kuliner seafood kami. Ada satu ikan yang belum pernah saya makan seumur hidup saya. Sampai sekarang saya masih nggak tau pasti nama ikannya karena ada yang bilang itu ikan ayam-ayaman, ada yang bilang itu ikan sesuatu dan sesuatu (saking lupanya). Yang jelas ini ikan lain daripada yang lain. Ikan ini punya kulit yang keras banget sampe nggak bisa dimakan. Asli! Saya makan ikan ini dibakar tanpa bumbu dan rasanya udah enak banget, mungkin karena seger dari laut ya... 

Berikutnya kami ke daerah Bukit Berahu. Berahu adalah perahu dalam bahasa Belitong. Di sana ada kursi-kursi dan meja-meja kayu yang ditata rapi di bawah pepohonan rindang, ditemani angin laut sepoi-sepoi dan view ombak yang memecah pantai dan birunya laut. Kalau ingin ke pantai, kita bisa berjalan menuruni tangga yang cukup tinggi. Di sini juga kita bisa pesan minuman es kopi khas Belitong dan pisang goreng yang maknyusss.

Dari Bukit Berahu, kita cuss ke Pantai Tanjung Tinggi. Pantai ini nih yang jadi tempat syuting film Laskar Pelangi. Pemandangan yang kita lihat pertama kali adalah bebatuan yang saling menutupi satu sama lain, sehingga kesan pertama seperti kita akan masuk ke sebuah goa. Tapi, kemudian dengan berjalan di antara batu-batu yang seperti labirin itu, kita akan menemukan kejutan berupa pantai dengan pasir kuarsa lembut berwarna putih dan lautan biru kehijauan.

Pas pertama kali lihat ini, rasanya Masya Allah indah bangeeeeeet!!! Dan pantai ini seru banget buat foto-foto. Papa dan ibu saya pun foto post wed di sini :)) Kami foto-fotoan di berbagai sudut pantai dengan berbagai batu yang super huuugeeee. Sampai terheran-heran saya kok bisa ya ada batu segede-gede gunung di laut dan pantai macam di Belitong ini. 

Setelah bosen foto-foto saya dan beberapa temen ibu a.k.a. dosen saya pas kuliah main perahu karet. Mulai dari terombang-ambing aja kebawa arus sampai akhirnya mahir. Walaupun abis itu celana basah sampe ke dalem-dalem tapi rasanya soooo fun!!

Next kita belanja oleh-oleh. Oleh-oleh di Belitong ini kebanyakan adalah segala jenis krupuk dari hasil laut. Ada kerupuk ikan, cumi, udang dengan berbagai macam bentuk. Daan... kaos-kaos yang ada di sini kualitasnya nggak jauh beda dengan yang sering kita temui di Joger. Dan later on saya baru tau kalo oleh-oleh di Belitong ini walaupun serupa dengan di Bangka, tapi harganya lebih murah. Oh iya, satu lagi oleh-oleh yang khas dari Belitong ini adalah sirup jeruk kunci. Jeruk kunci sendiri bentuknya mirip dengan jeruk pecel, dengan ukuran yang lebih kecil. Rasanya kalau dalam bentuk buah waktu itu saya sempat nyicipin sih asem, tapi herannya ada yang bilang rasanya manis. Atau saya lagi sial aja ya? Jeruk kunci ini sering kita temuin di tempat-tempat makan sebagai perasan di atas seafood, mungkin untuk ngurangin amisnya ya?

Berikutnya kami makan di Restoran Dynasty yang konon katanya cukup legendaris di Belitong. Di sana kami menikmati hidangan kepiting yang uaaaah super enaaak (apalagi dibandingin yang ada di Brebes yang kayaknya udah disimpen di lemari es entah berapa lama). Ada juga hidangan kepiting telur, jadi kepiting itu isinya diambil, diolah dan dimasukkan lagi ke cangkangnya kemudian digoreng dengan telur. Rasanya agak mirip otak-otak. 

Selesai makan malam, kami beranjak ke Hotel Grand Hatika. Kata-katanya sih hotel ini juga salah satu yang paling bagus di Belitung. Well, buat saya hotel ini agak creepy karena banyak lorong-lorongnya dan agak gelap. Beberapa kali saya nyaris kesasar waktu mau ke kamar ibu di lantai bawah. Di seberang hotel ini ada kafe-kafe pinggir pantai macem di Bali, uh kalo nggak capek sih sebenernya pengin banget main keluar, tapi apa daya saya gampang tepar sejak stase IGD jadi abis mandi langsung deh tidur nyenyaak.

Yang penting lagi menurut saya dari nginep di hotel adalah breakfast nya. Dan menurut saya, breakfast di Grand Hatika ini not bad. Saya suka potato wedges nya dan buburnya pun keliatan enak. Dan satu lagi, kalau nginep di sini agak lama pasti asik karena bisa nyewa sepeda dan keliling-keliling di kawasan pantai sekitar situ.

[to be continued]

Selasa, 04 Oktober 2016

---

Empat bulan ini saya berhasil survive jadi dokter internsip dan jadi anak rantau. Mungkin cerita saya nggak semenarik dan seajaib mereka yang internsip di pedalaman atau di daerah pedesaan dengan pemandangan gunung-gunung dan pantai yang bikin adem jiwa raga. Tapi insya Allah ada hikmah yang bisa diambil (ceile udah macem bu hajah).

Internsip di puskesmas artinya belajar lebih banyak tentang kesehatan masyarakat, baik yang sifatnya kuratif (penyembuhan) dan terlebih lagi yang sifatnya promotif dan preventif (pencegahan). Nah, kegiatan favorit saya selama internsip adalah penyuluhan.

Inget nggak sih jaman kita masih SD dan dapet tugas untuk pidato di depan kelas? Waktu saya SD, pidato nggak cuma jadi ujian praktek buat bahasa Indonesia, tapi juga bahasa Jawa (bahasa daerah saya). Wuh, keinget gimana satu badan gemeteran dan mulut cuma semacam speaker yang ngeluarin suara dari kaset di otak yang terus-terusan diputar dari malam sebelumnya. Apalan mati!

Selama penyuluhan, bahkan saya kaget waktu tiba-tiba dengan tenang begitu aja ngambil mic dari bu bidan dan dengan kata-kata yang keluar begitu saja mulai membuka acara dan memberikan materi, tanpa ada rasa waswas atau keringet dingin. Yah masih gemetar dikit sih. Belum lagi saat diskusi dan ada pertanyaan yang aneh-aneh, kok ya bisa lho berpikir dengan kepala dingin. Dalam hati bilang, "Kok bisa ya saya kayak gini?" 

Dan somehow saya menyadari sesuatu bahwa pendidikan saya selama koas kemarin walau kayaknya gitu-gitu aja ternyata udah menempa mental saya. Dari yang awalnya gampang banget cemas kalo mau ketemu orang jadi santai dan rileks. Well, walaupun kalo urusannya sama yang gawat-gawat ya masih tetep aja cemas. But, I think it's only a matter of time. Kalo bahasa kita, jam terbang. 

To us doctor, managing our anxiety is not something we learn at school. It is something we gain from our experience. Not that I am an expert, but I am pretty sure, I am a better person than I was then. And I will not stop trying to be a good doctor for the society of today and tomorrow :)