Hingga Nanti

01.42

Selagi nyusun wedding playlist, nggak sengaja saya denger lagu yang dinyanyiin sama Vidi Aldiano dan Andien di radio. Liriknya itu romantis tapi nggak cheesy dan OMG! pas banget buat dimasukin ke playlist yang lagi saya buat. Langsung lah saya googling liriknya dan ketemu deh judulnya: Hingga Nanti.



Liriknya yang paling bikin saya mewek bombay adalah:
Hingga ku, kau lupa selalu. Hanyalah cinta kita yang kan kuingat selalu.
Lupa. 
Kesannya klise, biasa, lumrah. 
Ya memang. Tapi jadi orang yang dilupakan entah bagaimana rasanya.


Pas denger bagian yang ini, yang saya inget adalah almarhum kakek saya setahun terakhir sebelum beliau meninggal dunia. Beliau udah lama punya sakit jantung, kemudian beberapa tahun terakhir kena serangan stroke dan kondisinya makin jelek hari ke hari. Mulai dari lupa hal-hal kecil makin memburuk sampai lupa sama saya cucunya, bahkan ibu saya, anaknya. 

Waktu itu, saya menganggapnya lucu karena beliau bolak balik menanyakan hal yang sama ke saya dalam selang waktu yang nggak begitu lama. Geli aja gitu. Tapi makin ke sini, makin saya dewasa, makin saya bakal hidup jauh dari orang tua, bawaannya sensitif kalo mikir mungkin hal yang sama bakal terjadi pada bapak ibu saya. Semoga aja enggak sih, semoga Allah kasih kesehatan selalu. Aamiin. 

Ngebayangin bapak ibu lupa sama saya aja rasanya nggak tahan untuk nggak nangis. Dan somehow saya jadi mikir apa itu juga yang ibu rasain waktu kakek berkali-kali nanya, "Kamu siapa?" The most significant person in your life has forgotten about you. Entah bagaimana rasanya itu. Yang cuma cucunya, yang cuma anaknya aja sedihnya minta ampun, gimana pasangannya yang menghabiskan lebih dari separo hidupnya bersama?

Almarhumah nenek saya melalui hari-harinya dengan dedikasi yang tinggi untuk keluarga dan pekerjaannya. She barely could rest. Beliau memimpikan masa pensiun yang indah, berlibur dengan suaminya, mengunjungi cucu satu dan yang lain, menyambangi sanak saudara. Tapi ketika akhirnya beliau bisa beristirahat dari pekerjaannya, suaminya jatuh sakit, dan beliau menghabiskan waktu merawat suaminya di rumah. Suami yang sedikit demi sedikit ingatannya mulai pudar.

Tapi bukankah begitu sebuah komitmen diuji? Setia menemani through good times and bad. Setiap orang yang memutuskan untuk menikah pasti nggak pernah berpikir untuk berpisah sampai ajal menjelang. Pasti inginnya menua bersama. Dan pasti berpikir untuk melalui masa mudah dan sulit bersama. Tapi, pasti juga tau, kalau ada saat mereka menjadi musuh satu sama lain. Ada masanya saling bersitegang. Dan pada akhirnya, maut akan memisahkan. Yang satu akan hidup tanpa yang lain, bila tidak cukup beruntung untuk 'dipanggil' bersamaan.

Pernikahan adalah sepaket kehidupan yang pasti ada susah senangnya. Saya setuju proses menikah harus bahagia, tapi jangan lupa yang kita hadapi nanti bukan dongeng Cinderella yang sehabis menikah bisa live happily ever after. Tubuh yang melemah, rambut yang memutih, dan ingatan yang menumpul adalah hanya beberapa 'cobaan' dalam sebuah hubungan, seperti yang diungkapkan lagu ini. Buat saya, lagu ini cerminan sinergi antara cinta dan komitmen yang saling menguatkan satu sama lain, terutama pada masa-masa kelam dalam pernikahan. Dan itulah yang membuatnya cocok untuk dijadikan lagu untuk pernikahan :)

You Might Also Like

0 comments