Bangka Belitung Tour Chapter 3

18.02

Perjalanan dilanjutkan dengan terbang ke Pangkal Pinang, Bangka menggunakan pesawat terbang. Ini pertama kalinya saya naik Garuda Indonesia Explore. Pesawat ini sekelas dengan Wings Air nya Lion dan NAM Air nya Sriwijaya, untuk menghubungkan pulau-pulau kecil di Indonesia Raya. Well, karena punyanya Garuda, tentu aja snack nya lebih enak :P


Walaupun cuaca di Belitung hari itu terbilang cerah, ternyata tidak begitu di Bangka. Ketika kami sampai, Bangka sedang diguyur hujan deras. Tujuan pertama kami adalah Museum Timah, excited banget untuk tahu lebih banyak tentang penambangan timah di Bangka Belitung! Sayangnya, waktu sampai di sana waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 dan karena punya pemerintah, yah bisa ditebak: sudah tutup.

Akhirnya kami makan siang kedua: Mie Koba. Personally, I didn't like its taste. Terlalu amis buat saya. Mie Koba adalah mie kuning berkuah dengan bumbu rempah dan seafood yang dimakan dengan telur rebus dan jeruk kunci. Fyi, jeruk kunci ini juga salah satu ikon Bangka Belitung. Serupa dengan jeruk nipis atau jeruk pecel, cuma ukurannya lebih kecil dan rasanya lebih manis. Kalian bisa nemu jeruk ini di setiap rumah makan di Bangka. Bahkan ada produk sirupnya buat oleh-oleh.

Selesai makan, kami beranjak ke Bangka Botanical Garden (BBG). BBG ini merupakan proyek CSR nya PT. Timah, untuk menyuburkan kembali lahan penambangan. Saya baru tahu, kalau kebanyakan lokasi bekas penambangan dipakai untuk kebun kelapa sawit. Secara ekonomi sih lebih menjanjikan, tapi secara lingkungan itu lebih merusak lingkungan. Karena kebun kelapa sawit, katanya, cuma berbuah sekali, dan kemudian tidak menghasilkan, sementara setelah ditanami sawit, tanahnya nggak lagi subur. Jadi biasanya setelah panen, kebun sawit dibakar, dan habislah sisa-sisa humus. Finally, bekas kebun sawit dijadikan lahan properti. Hmmm... hooman are greedy, aren't they?

Di BBG kita foto-foto sambil menikmati udara sejuk di antara pohon-pohon konifera. BBG sebetulnya dikonsep apik dengan tanaman-tanaman dan nantinya hewan-hewan di sepanjang jalan yang bisa kita lihat dari dalam mobil. Sayangnya, belum jadi. 

Nggak lama, kami melanjutkan wisata ke Kelenteng Dewi Laut. Kelenteng ini adalah tempat beribadah orang Budha. Banyak penduduk Bangka beragama Budha, kalo dipikir sih ini sesuai sama pelajaran IPS jaman dulu. Kerajaan Sriwijaya berdiri di Sumatera Selatan dan pernah menjadi pusat agama Budha. Banyak biksu-biksu di masa lampau yang mendalami agama Budha di sana. Dan kita tau sendiri kalau Kerajaan Sriwijaya pernah jadi kerajaan terbesar di nusantara, yang wilayah kekuasaannya sampai ke Madagaskar. 

Kelenteng Dewi Laut terkenal dengan patung 12 shio nya. I was so excited to take a picture with my shio icon: Monkey! Hahaha.

Perjalanan berlanjut dengaaaaan.... makan lagi. Seafood lagi. Karena udah bosen 3 hari makan seafood, I didn't eat the way I ate before. In fact, bahu dan tengkuk saya udah pegel tanda udah kelebihan kolesterol. Huft. Kami sempat mampir juga ke toko otak-otak segala rasa, maksudnya otak-otak rasa tengiri, cumi, udang, dan sebagainya. Tetep ya, seafood lagi. Dan satu lagi: martabak Bangka. Sayangnya saya udah terlanjur kenyang jadi yah, beli martabak Bangka depan indomaret mungkin rasanya nggak jauh beda.

Finally, hotel! Setelah snorkeling dan nggak mandi dan pake kerudung walaupun rambut basah. All I wanted was KERAMAS! Rasanya udah kayak gembel. But wait, hotelnya keren banget! Menumbing Heritage. Rasa Eropa di tengah kota Bangka. Tempatnya instragammable banget! Bahkan ada ruang yang khusus didekor untuk kita foto-foto. Kurang keren gimana?!

Dan yang geli adalah saat kita mau ke kamar yang ada di lantai 2 dan kita kayak monyet naik lift. Bingung! Saking niatnya ngedesain hotel yang antik, elevator di hotel ini dibuat menggunakan sistem sama dengan yang dipakai di museum-museum Eropa. I'll tell you how to deal with this. Supaya besok-besok nggak kamso kayak saya.

  1. Bayangkan sebuah kabin sempit dengan pintu kaca. Pintu kaca ini hanya punya sebuah handle yang terletak di luar. Pintu ini nggak bisa ditarik ketika elevator sedang berhenti di lantai tempat kita berdiri.
  2. Ketika lampu menyala, tarik handle dan masuk ke dalam kabin.
  3. Pencet angka lantai tujuan di salah satu sisi dinding.
  4. Jangan injak garis di sekitar pintu atau elevator ini tidak akan bergerak.
  5. Now, it's moving.
  6. Ingat, jangan injak garis di sekitar pintu atau elevator akan berhenti secara otomatis.
  7. Ketika sampai di lantai tujuan, jangan panik karena pintu nggak terbuka. You see, this is a manual handle door. 
  8. Dorong pintu, dan keluar dari kabin dengan santai. Elevator nggak akan bergerak karena pintu terbuka.
Dan kesalahan yang saya buat: 
  1. Narik-narik handle padahal elevatornya lagi di lantai atas. 
  2. Nginjek garis di sekitar pintu dan kebingungan saat tiba-tiba elevatornya mandek. 
  3. Berhasil sampai di lantai tujuan tapi bingung karena pintunya nggak kebuka, malah sibuk nyari tombol 'open'.
  4. Elevatornya turun lagi karena kelamaan ga keluar sementara di bawah ada orang yang udah nunggu si elevator.
  5. Ngakak-ngakak karena yang nunggu kenalan sendiri dan baru paham kenapa saya terjebak setelah baca aturan naik elevator (yang ternyata tertempel jelas di dinding kabin) :))))))))
  6. Bahkan babang bule di kabin ikutan ngakak karena kedodolan saya yang dari tadi nggak paham waktu dia bilang 'push push' ternyata maksudnya nyuruh saya dorong pintunya untuk keluar. Geblek!
And after showering, I slept beautifully...

[to be continued]

You Might Also Like

0 comments