What happens when I read Blink

05.00

Suatu hari saya memutuskan untuk beli Blink karena merasa very demotivated dengan pekerjaan yang saya lakukan setiap hari, jaga IGD 7-14 jam sehari, selama 4 bulan, dengan libur rata-rata 10 hari per bulan. Bosen dan tingkat stres nya tinggi sekali. Sampai-sampai saya nggak lagi berempati pada pasien, sebaliknya saya marah! It's like, "WHY DO YOU BRING ALL YOUR PROBLEMS TO ME! YOU MADE IT YOURSELF ANYWAY!" Dan itu sebuah alarm untuk saya. Saya nggak bisa bekerja dengan baik kalo masih begini. Saya perlu sesuatu untuk memotivasi. Saya entah mengapa percaya bahwa Blink akan membantu saya, paling nggak supaya saya merasa lebih baik dulu. 

Di bab awal saya membaca sebuah cerita tentang penelitian terhadap sekelompok dokter bedah. Dalam penelitian tersebut, mahasiswa diminta menonton video tanpa suara berdurasi hitungan detik mengenai dokter bedah yang sedang berbicara dengan pasiennya, dan mereka harus menunjuk siapa-siapa saja dari dokter tersebut yang berpotensi menerima tuntutan hukum dari pasiennya di kemudian hari.

Hasilnya, mereka bisa menebak dengan tepat walau hanya dari menonton video tersebut. Kuncinya ternyata mereka memperhatikan dokter tersebut saat berkomunikasi dengan pasien. Komunikasi yang kurang baik ternyata merupakan sumber utama sakit hati pasien sehingga mereka berpotensi untuk menuntut si dokter. Pasien tidak peduli lagi apakah dokter tersebut lebih pintar, berasal dari universitas yang lebih bergengsi, atau lebih senior. Pasien lebih menyukai dokter yang pandai berkomunikasi. It means tutur kata yang baik, attitude yang sopan, dan ekspresi yang mendukung.

Somehow saya merasa tertohok karena saat saya capek banget, komunikasi saya jelek banget. Dan saya ingin segera memperbaiki ini untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari kalau cara komunikasi saya terlanjur jadi kebiasaan. So, I start the change. No matter how mad I was that time, I tried my best to smile and talk softly. 

Dan seperti semua latihan yang berakhir dengan ujian, suatu hari saya dapet pasien super duper galak. Bayangin deh, ditanyain namanya siapa, dia malah ngasih saya kartu BPJS dan suruh saya baca sendiri namanya. Belum lagi waktu saya tanya apanya yang sakit, dia bentak sambil bilang, "mana saya tahu, periksa sendiri lah!" What?! Dalam hati saya ketawa, 'sial ini gue lagi diuji!' Saya jelasin aja ke dia kalau dia jawab pertanyaan saya akan mempermudah saya tahu dia sakit apa. Baru deh dia nggak ngomel-ngomel lagi. 

Di bab lain dibahas mengenai membaca situasi dengan cepat yang bisa menimbulkan keberhasilan atau kegagalan. Semua manusia sudah dibekali dengan naluri alamiah untuk menilai situasi, tapi kadang kita mengabaikannya karena faktor eksternal yang menyebabkan bias. Orang kadang menyebut naluri alamiah ini 'indera keenam'. Bukannya sombong, saya sering merasa punya 'indera keenam' ini, sayangnya saya juga sering mengabaikannya karena terlalu mengandalkan hal-hal yang logis dan riil, faktor eksternal. 

Beberapa waktu lalu, saya mengabaikan 'indera keenam' saya yang di kemudian hari saya sesali. Jadi ternyata 'indera keenam' itu walau letaknya di alam bawah sadar, ia berasal dari informasi yang kita terima sehari-hari bahkan tanpa kita sadari. Jadi, jangan abaikan intuisi atau 'indera keenam' yang kita punyai. Jangan pernah. Atau akan jadi seperti saya yang menyesal lagi dan lagi dan lagi.

Last but not least, ternyata kemampuan membaca situasi ini sesimpel dengan hal yang seringkali kita lakukan yaitu membaca pikiran orang melalui ekspresinya. Ternyata walaupun kita bisa mengontrol beberapa ekspresi, ekspresi yang sesungguhnya kita rasakan tetap akan tergambar walaupun sekilas melalui kedutan 1 otot mikro. Dan kita sering tidak menyadarinya, tapi lawan bicara kita bisa! Mungkin itu kenapa saat saya capek dan saya berusaha ngomong dengan baik-baik ke pasien, saya masih kena semprot. Mungkin mereka melihat rasa kesel saya dalam 1 kilatan mata atau 1 kontraksi otot mikro. Hahahaha. 

Kesimpulan saya yang terakhir, yang harus lebih ditanamkan bukan mengontrol suara atau wajah. Kontrol emosi, karena begitu mood kita happy rasanya nggak perlu fake di depan pasien. Kalo kata ibu, selalu berempati: jangan pikirkan pasien ini ganggu saya tidur malam, pikirkan dia kesakitan sampai nggak bisa tidur malam, saya harus bantu mengurangi rasa sakitnya. Guess my mom is the best doctor in this world!

You Might Also Like

0 comments