Bangka Belitung Tour Chapter 4

07.02

Setelah packing dan sarapan di restorannya Menumbing Heritage Hotel yang nggak kalah cantiknya, kami foto-foto lagi dan bersiap melanjutkan perjalanan di hari terakhir. Tujuan pertama kami adalah Parai Beach Resort. 

Parai Beach Resort yang terdapat di Sungailiat menyuguhkan pemandangan pantai, yang sayangnya karena udah lihat pantai-pantai super cantik di Belitung, pantai ini kelihatan biasa aja. Batu-batu granitnya nggak sebanyak di pantai-pantai Belitung dan area resort nya sendiri terbilang kurang terawat. Kami hanya berfoto di sepanjang jembatan yang menyerupai dermaga dan di bebatuan sekitarnya. 

Tujuan berikutnya adalah Pantai Tongaci. Di pantai ini tersedia fasilitas water sports. Saya dan beberapa anggota wisata lainnya yang hobi olahraga air langsung semangat! Kita udah ngebayangin main banana boat, paralayang, dan sebagainya. Turned out it was a very hot sunny day without any wind blow. Alhasil saya cuma ngumpet di balik payung, literally di bawah payung-payung yang bergantung cantik di salah satu sudut, dan jalan-jalan di galeri lukisan yang ada di situ. 

Di tengah panasnya pantai, di kejauhan tampak kapal-kapal kecil berisi tong-tong yang mengebulkan asap kehitaman. Kata tour guide kami, itu adalah para nelayan yang sedang menambang timah di laut Bangka. Dan sesungguhnya hal itu menyebabkan rusaknya alam bawah laut di Bangka. Nah, demo yang sedang berlangsung di Belitung bertujuan mencegah praktek penambangan bawah laut serupa.

Tujuan berikutnya adalah makan siang di suatu restoran. I can't remember the name. Yang jelas salah satu restoran terbaik di sana yang menyediakan lagi-lagi seafood. Saya udah nyerah sama kepiting yang saya suka banget, demi hidup yang lebih baik :)))

Tujuan berikutnya adalah Pantai Tikus Emas yang dikembangkan oleh salah seorang pengusaha kaya asal Bangka. Saya awalnya menduga pengusaha itu bershio Tikus Emas, seperti nama pantai itu. Ternyata, dinamakan pantai tikus emas, karena pantai itu dulunya terhalang ilalang setinggi manusia sehingga dimanfaatkan oleh para penyelundup (tikus) untuk menjual timah (emas - barang berharga) secara ilegal.

Ketika kami berada di pantai ini, cuacanya sangat menyenangkan, tidak terlalu panas dengan angin yang bertiup sepoi-sepoi. Saya pun nggak tahan untuk berlari dan barang mencelupkan kaki ke air laut yang hija turqoise. Nggak lama kemudian, tepat setelah kami masuk ke mobil, tiba-tiba turun hujan super deras, sehingga perjalanan terakhir kami ke Kelenteng Puri Tri Agung, yang konon katanya merupakan replika sebuah kelenteng terbesar di China, batal. 

Selesailah perjalanan kami di Belitung dan Bangka, kemudian kami kembali ke bandara untuk terbang ke Jakarta kemudian ke Semarang. Perjalanan ini meyakinkan saya bahwa Indonesia itu benar-benar punya sumber daya maritim yang luar biasa. Ini baru Bangka dan Belitung, masih ada ratusan pantai dengan keajaiban dan hasil lautnya yang luar biasa. Rasanya nggak habis-habis mengucap masya Allah dan alhamdulillah. Terima kasih ya Allah atas segala anugerahmu ini, semoga kami dan penerus kami bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Aamiin.

You Might Also Like

0 comments