Bangka Belitung Tour Chapter 2

04.09

Hari kedua dari trip ini kami habiskan separuh hari di Belitung dan separuh berikutnya di Bangka. Kami udah bersiap sejak jam 6 pagi dan langsung check out untuk menuju dermaga di Pantai Tanjung Kelayang. Sampai di sana, belum ada rombongan lain, jadi rombongan kami adalah yang pertama datang untuk islands hopping.

Masya Allah, terharu banget lihat warna pasir, laut, dan langitnya. Indonesia itu... uh greget! Yang menyenangkan adalah selama islands hopping cuacanya cerah, jadi air lautnya pun tenang dan saya nggak mabok laut :))

Kami berlayar sambil melihat gunung-gunung batu sepanjang mata memandang. Masih aja takjub dari mana asalnya batu-batu itu, kok ya bisa bertebaran di tengah-tengah laut? Nggak abis-abis lah saya nyebut.

Tiba-tiba saya melihat sesuatu yang aneh tapi nyata, di tengah laut muncul gradasi warna biru - hijau (baru kali ini saya menyadari inilah warna yang disebut turquoise) - putih - turqoise - biru. Sejenak saya merasa seperti ada dua arus berbeda yang bertemu. Dan ternyata...

Itulah yang namanya Pulau Pasir, one of our destination in this islands hopping tour. Jadi literally pulaunya itu cuma pasir aja dan bukan hamparan yang luas, tapi cukuplah buat kami turun 'berdiri, jalan-jalan, dan berlarian di tengah laut'. We took a lot of photographs there. 

Di banyak brosur mengenai Belitung, gampang banget nemuin satu gambar Pulau Pasir dengan satu atau dua buah bintang laut di atasnya. Dan itu ternyata bukan pencitraan semata! Sewaktu di sana pun, saya ketemu satu bintang laut warna pink dengan tanduk-tanduk tumpul kecil berwarna kecoklatan. Aaaaaaak, walaupun bukan penggemar Spongebob Squarepants, saya super duper seneng bisa ketemu Patrick! Hihihi...

Kembali berlayar dari Pulau Pasir, kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Lengkuas yang terkenal. Awalnya saya nggak tau tentang ke-famous-an pulau ini, sampai Rijdzuan ngetag saya di salah satu foto di akun IG Pevita Pearce yang barusan liburan di pulau ini. Pulau Lengkuas adalah salah satu icon dari Belitung dengan mercusuarnya yang menjulang tinggi menusuk langit.

Sampai di Pulau Lengkuas, saya, ibu, dan papa kabur dari rombongan dan masuk ke dalam mercusuar. It was my first time being inside the lighthouse. Tiba-tiba merasa jadi anggota Lima Sekawan yang terjebak di pulau dan terpaksa harus menginap di dalam mercusuar. Buat kalian yang belum pernah masuk ke mercusuar, bangunan ini ternyata cukup luas di dalamnya, dan isinya cuma satu: tangga. Tapi nggak seperti yang saya kira sebelumnya, tangga di dalam mercusuar bukannya satu dan melingkar terus sampai ke lantai paling atas, tapi ya macem di tangga rumah gitu, tiap satu lantai berhenti, walaupun emang bentuknya spiral.

Mercusuar di Pulau Lengkuas punya delapan belas lantai, tapi kami cuma naik sampai sepertiganya aja. Kenapa? Karena kalau naik sampai delapan belas lantai bakal lama. Dan yang jelas saya nggak berani sih hahahahaha takuuut kalo pas liat ke bawah. Bahkan dari lantai keenam pun pemandangannya udah indah banget dan semakin keliatan bahwa laut di bawah kami punya air yang super jernih. Kami bahkan bisa melihat karang-karang di bawahnya. Kyaaaaaaa >.<

Perjalanan selanjutnya adalah ke... tengah laut untuk snorkeling! Ini boleh jadi ketiga kalinya saya snorkeling, tapi ini adalah pertama kalinya saya bener-bener menikmati snorkeling

Pertama kalinya saya snorkeling adalah empat tahun yang lalu (WHAT?!! EMPAT TAHUUN?! SAYA BARU SADAR UDAH LAMA BANGET WAKTU NULIS INI) waktu itu saya dan Ivana snorkeling di Tanjung Benoa Bali selagi mama-mama kita seminar. Sebelumnya saya udah bercita-cita snorkeling waktu diajak ke Lombok dan Bunaken, sayangnya saya mens dong pas udah sampe bandara tujuan T.T

Okay, jadi snorkeling pertama saya berjalan menyenangkan walaupun saya sempet stres karena nggak bisa napas pake mulut. Goggle untuk snorkeling (dan diving mungkin) kan nutupin hidung ya, jadi mau ga mau harus napas pake mulut. Nah di snorkeling pertama, pas nyemplung saya langsung panik karena nggak bisa napas pake hidung. Padahal kalo biasanya renang juga kayak gitu, tapi kan kalo renang kepalanya cuma nyelup bentar-bentar jadi bahkan nggak napas di dalem air. Nah ini...

Untungnya, 'nahkoda' kami mau terjun juga sebagai instruktur dan sabar ngebimbing kami supaya tenang dan nunjukin tempat-tempat dengan banyak ikan, terumbu, bahkan bintang laut! That way, I didn't feel any regret! Dan waktu itu kami dapet harga super murah, cukup 100 ribu rupiah aja :")

My second time snorkeling was rather bad. Setelah ngajakin temen-temen untuk ikutan eh udah dapet harganya lumayan ngempesin dompet, eeeeh kita langsung 'diumbar' gitu aja padahal panik ngga bisa napas, alhasil kembung deh minum air laut :( Kami cuma renang di situ-situ aja dan nggak dapet pemandangan alam bawah laut apapun.

So, this one is the best so far! Sebelum nyemplung saya udah pake goggle dan ngebiasain diri untuk napas pakai mulut, sempet agak khawatir sebelum nyemplung tapi kemudian BYURR!! dan saya menikmati suara napas saya di dalam air. Semacam suara yang kalian denger di acara Discovery Channel waktu tim lagi menjelajah alam bawah laut. Dalam hati saya seneeeeng banget! That was really awesome feeling!

Sementara yang lain masih panik (ceileee sombong hahaha) saya ngambil biskuit dan langsung diserbu ikan warna warni hihihi, sukaaaa banget, saya juga berenang kesana kemari ngelihat terumbu karang yang cantik-cantik rupanya. Saya kangen banget renang! Sejak berhijab, saya belum punya baju renang syar'i jadilah saya ngga pernah renang, kemarin pun snorkeling saya pake baju sehari-hari hahaha. Bersyukur banget lah dulu dipaksa sama orang tua saya untuk les renang, kalo nggak mana berani kayak ginian. Huhu love you ibu papa :3

Selesai snorkeling lanjut ke Pulau Batu Berlayar sambil ngeringin baju dan ngegosongin badan (baca: nongkrong di buritan). Dinamakan Pulau Batu Berlayar karena di sana banyak bebatuan yang gede dan tampak seperti layar. Di sini kami cuma foto-foto sebentar karena super duper ramai sama orang-orang yang baru berangkat islands hopping

Finally, we're back to marina. Bilas-bilas pake akua botol (karena ga ada air), ganti baju kemudian cusss ke Danau Kaolin. Danau Kaolin ada belasan bahkan mungkin puluhan jumlahnya di Kepulauan Bangka Belitung. Danau ini berwarna (lagi-lagi) turqoise dengan pasir putih di sekelilingnya. Sumpah cantik banget, pemandangannya mirip dengan Kawah Putih di Jawa Barat. Danau ini terbentuk dari bekas penambangan kaolin yang ditingalkan begitu saja dan teisi air sehingga membentuk danau.

Ini ironis banget, secara perusahaan penambang seharusnya mereklamasi kembali bekas galian barang tambang mereka. Tapi, seringkali mereka meninggalkan bekas tersebut begitu saja. Kalau udah begitu alam jadi rusak. Kalian bisa lihat dari pesawat kalau pulau ini bopeng-bopeng akibat bekas galian, terutama timah, yang terlantar. Kebetulan aja yang Danau Kaolin ini indah dan jadi tempat wisata, tapi ya jangan trus semua bekas galian ditinggalin gini :'(

Selesai itu, kami cusss sarapan dan menuju bandara untuk terbang ke Pulau Bangka. Before leaving, let me tell you something. Walaupun saya nggak tamat baca semua buku trilogi Laskar Pelangi, saya baca buku pertamanya sampai habis. Dan sampai di Belitung, saya bengong dong... Ternyata ini real nya Belitung yang pernah saya baca...

Rumah-rumah di Belitung tentunya nggak sepadat di Jawa, tapi bahkan ini nggak sepadat di pulau-pulau lain selain Jawa yang pernah saya datangi. Bahkan saat kemudian saya bandingin dengan pulau sekandungnya, Pulau Bangka, pulau ini terhitung sepi. Tour guide kami bercerita bahwa di Pulau Belitung ini nggak ada angkutan umum, jadi selama di sana kita perlu sewa kendaraan. Di sana juga jarang banget ketemu yang namanya minimarket. 

Rumah-rumahnya pun satu sama lain saling jauh-jauhan dan halamannya masih luas. Kadang geli ngeliatnya karena dalam satu deret, ada rumah yang paralel terhadap jalan tapi ada juga yang serong :)) Ada yang maju mepet jalan, ada juga yang jauh ke belakang. Beneran nggak teratur. Yang teratur dan seragam cuma atapnya. Hampir semua rumah di Belitung beratapkan seng. Kenapa?

Ternyata hal ini karena di Belitung tidak ada tanah merah untuk membuat genting dan batu bata. Makanya selain beratap seng, rumah-rumah di sini kebanyakan berdinding batako. Untuk mendapatkan genting dan batu bata, orang Belitung harus 'mengimpor' dari pulau-pulau lain.

Tanah di sana pun nggak terlalu subur, menurut pengakuan tour guide. Itulah kenapa selain makanan laut, makanan di Belitung terhitung cukup mahal. Untuk menu sederhana bisa habis 20 ribu rupiah sekali makan. Satu-satunya pohon buah yang saya lihat di sana adalah pohon pisang. Hehehe. 

Belitung dulu hidup dari timah. Tapi setelah eksploitasi besar-besaran oleh PN Timah beberapa dekade yang lalu dan kemudian diikuti kebangkrutannya, Belitung sempat menjadi pulau mati. Baru beberapa tahun belakangan penduduk Belitung sadar dengan potensi pariwisatanya. Terutama wisata lautnya.

Sadly, saat ini sedang berkembang wacana mengenai penggunaan kapal hisap untuk menggali timah di lepas pantai. Tentu aja ini bikin sedih dan nggak rela para nelayan dan penduduk Belitung yang baru melek. Bahkan saya pun nggak rela rasanya, apalagi ngelihat lautnya yang turqoise, bebatuan granit yang tersebar di lautan, dan keindahan terumbu serta ikan-ikannya. 

Dan yang paling penting, di Belitung, wisata lautnya masih tergolong murah. Kemarin kami tanya ke nelayan yang membawa kami islands hopping, ternyata sekali jalan mereka dibayar 'hanya' 500 ribu rupiah dan untuk snorkeling kami nggak ditarik biaya lagi. Padahal kami snorkeling bertujuh lho. Kalo di Bali udah abis jutaan kali. 

So, let's say no to kapal hisap! Demi warisan alam untuk anak cucu kita di masa depan. Kasihan kan nanti Bruni dan temen-temennya nggak bisa lihat lautan yang super indah....

[to be continued]

You Might Also Like

0 comments