Dokternya Lagi Sensi

09.02

I'm sorry if I'm being a sensitive bitch tonight. Mungkin pengaruh PMS, mungkin juga pengaruh jaga IGD 11 hari berturut-turut.

Beberapa hari yang lalu adalah Hari Dokter Indonesia, banyak dokter di kabupaten/ kota/ bahkan nasional yang melakukan aksi damai dalam rangka menolak program DLP. DLP adalah singkatan dari Dokter Layanan Primer, maksudnya dokter yang bekerja di fasilitas pelayanan primer, sebut saja Puskesmas.

Selama ini pendidikan dokter memakan waktu 5-6 tahun (waktu normal) untuk lulus menyandang gelar dokter. Untuk disumpah sebagai dokter pun, kami harus lulus Ujian Kompetensi Peserta Pendidikan Dokter (UKMPPD), asal Anda tahu, ini ujian yang rasanya bahkan lebih serem dari UAN. Percayalah...

Udah makan waktu segitu lama dan ujian yang memastikan kami kompeten sebagai dokter, kami masih harus mengikuti program Internsip. Program untuk ngelanyahin praktek jadi dokter sebelum bener-bener bisa praktek sendiri. Jadi total waktu yang dibutuhkan untuk jadi dokter 'beneran' adalah 6-7 tahun.

Dan seakan-akan pengin kami nggak buru-buru kerja, pemerintah mencanangkan program Dokter Layanan Primer, yang setara spesialis tapi kompetensi nya 11-12 dengan dokter umum. Masalahnya, dokter umum yang nggak mengikuti pendidikan DLP ini nantinya nggak boleh praktek di layanan primer (Puskesmas) apalagi di layanan sekunder (Rumah Sakit). Masa kuliah dari DLP ini adalah kurang lebih 2 tahun. Gila! Makin lama sekolahnya, ini kapan kerjanya, padahal hidup terus berjalan. LU PIKIR dokter nggak butuh HIDUP?!

Mari kita berhitung, misal kami semua lulus SMA usia 18 tahun, saya masuk kedokteran, sementara teman lain masuk jurusan lain. Saya lulus sarjana usia 21 tahun, di saat yang sama teman lain lulus juga dengan gelar dari jurusannya. Kemudian saya menghabiskan waktu 1,5 tahun koas, sementara teman saya udah mulai cari-cari kerja dan probably mendapatkan pekerjaan dengan salary yang bagus. 

Umur 23 tahun saya lulus dokter, teman dari jurusan lain mungkin sudah dapet penghasilan yang cukup mapan. Kemudian saya masih harus internsip, usia 24 tahun saya beneran jadi dokter nih dan mulai buka praktek, memulai dari 0. Sementara itu, teman dari jurusan lain udah punya tempat tinggal sendiri, minimal mulai nyicil KPR. 

Eh tapi, ada si DLP, dan saya harus sekolah lagi sampai usia 26 tahun. Temen yang lain udah punya keluarga dan hidup mapan, saya baru mulai dari 0 lagi. See... Itulah kenapa kami menolak DLP. Kami butuh hidup dan ngga bohong hidup butuh uang. Gimana kami bisa punya uang kalo kami dituntut sekolah sekolah dan sekolah sementara kami sekolah tanpa digaji. Di luar negeri program gini bisa jalan karena mereka sekolah sambil digaji, lah negara kita emang mampu? Masa iya sampe orang tua kami tua, kami masih harus minta uang sama orang tua?

Tapi pers semlohe ini ngawur dan malah beritain kalo kemarin itu dokter demo minta naik insentif, minta naik gaji. Bikin panas masyarakat dan terutama bikin panas dokter itu sendiri. Usaha kami untuk memperjuangkan diri kami sendiri malah difitnah. Belum lagi orang-orang bego dan malas baca yang ujug-ujug komentar memojokkan dokter. Yang 'dokter kok demo, pasiennya nggak dipikirin?' 'dokter gajinya udah banyak kok masih minta naik gaji lagi?' 'dokter kok ikut-ikutan politik' Helloooo.... IQRA'! Baca yang bener baru komentar dan Man... politics is part of our life. Kamu harus paham! Kalo nggak bakal ngleser-ngleser terbawa arus doang.

Dan rasanya sedih baca komentar-komentar itu, terlepas dari apa yang mereka alami sampai memandang dokter seburuk itu... As long as I know... Saya dokter internsip dan saya kerja di IGD selama 4 bulan penuh, cuma libur seminggu sekali, sampai nggak lagi ngerti hari. Taunya cuma pagi siang malam pagi siang malam lagi. Dan selama itu, saya dan dokter-dokter lain work our asses off. Kami tidur empat jam sehari, tapi otak kami harus tetep fresh. Kami makan mungkin cuma sekali sehari saking nggak sempatnya. Dan kata siapa kami digaji gede? Bahkan senior-senior saya masih banyak yang gajinya masih kalah tinggi dari pegawai BUMN tahun kedua. Apalagi internsip lah, dianggep sukarelawan doang. Dapetnya berapa harus suka dan rela. Tapi so far so good, sampai saya baca komentar-komentar yang duh kejamnya.

And I come to this conclusion: we cannot always please anyone. Bener banget! Jadi gimana ya? Yaudahlah tutup telinga aja sama omongan orang. Kita yang ngejalanin, kita dan Tuhan yang tau sebenernya gimana, orang mah bebas beropini. Nggak usah baperan. Kita nggak bisa nyenengin semua orang dan nggak bisa bikin semua orang setuju dengan pendapat kita. Jadi ya serah-serah lu aja deh. Yang penting saya kerja, niatnya nolong, kalo situ nggak suka yaudah bye!

You Might Also Like

0 comments