Bangka Belitung Tour Chapter 1

02.47

Hello!

Saya menghitam dalam waktu tiga hari saja! Yang saya suka dari stase IGD ini adalah liburnya dirapel 3-4 hari jadi lumayan cukup buat jalan-jalan. Dan kemarin, pas giliran saya libur, pas banget ibu dan papa mau berlibur ke Bangka Belitung bareng temen-temennya. Yaudah deh, saya ikutan...

Kami berangkat Jumat pagi dengan pesawat ke Jakarta kemudian lanjut ke Tanjung Pandan, Belitung. Dasarnya saya ya, kalo nggak cari masalah nggak lega rasanya hahaha. Saya udah berhasil ngelewatin security check tanpa lepas ikat pinggang, eh di security check berikutnya ketauan dong, trus disuruh lepas. Saya beralasan celana saya melorot kalo nggak dipakein ikat pinggang, si mbak security yang nyolot bilang, "Kalau melorot saya pegangin." Akhirnya saya lepas dan bener melorot, tapi si mbak security nggak mau pegangin. Pas ngambil barang-barang lagi, saya protes dong ke dia, "Mbak gimana sih, katanya mau pegangin kalo melorot. Dari tadi saya udah teriak-teriak minta pegangin, eh mbak diem aja, ah nggak bener nih." Hahahaha, pasti si mbak itu bete banget deh sama orang kayak saya :P

Sampai di Tanjung Pandan, terjadilah keributan kecil gara-gara si tour guide bilang kalo hari itu kami nggak bisa islands hopping seperti yang tertulis di jadwal perjalanannya. Alasannya adalah para nelayan yang biasa nyeberangin kita dari pulau satu ke pulau lainnya semuanya nggak kerja karena demo menolak kapal hisap. Kapal hisap adalah kapal-kapal yang digunakan untuk menambang timah di lepas pantai. Mereka menolak adanya kapal hisap itu karena lingkungan laut akan jadi rusak dan nggak indah lagi, otomatis mengganggu sektor pariwisata yang lagi berkembang di Belitung.

Setelah negosiasi dan segalanya, akhirnya kami memutuskan untuk islands hopping keesokan harinya. Risikonya kami harus memundurkan jadwal perjalanan ke Bangka.

Hari pertama di Tanah Belitong, kami diajak makan di tepi pantai dan di situlah awal kuliner seafood kami. Ada satu ikan yang belum pernah saya makan seumur hidup saya. Sampai sekarang saya masih nggak tau pasti nama ikannya karena ada yang bilang itu ikan ayam-ayaman, ada yang bilang itu ikan sesuatu dan sesuatu (saking lupanya). Yang jelas ini ikan lain daripada yang lain. Ikan ini punya kulit yang keras banget sampe nggak bisa dimakan. Asli! Saya makan ikan ini dibakar tanpa bumbu dan rasanya udah enak banget, mungkin karena seger dari laut ya... 

Berikutnya kami ke daerah Bukit Berahu. Berahu adalah perahu dalam bahasa Belitong. Di sana ada kursi-kursi dan meja-meja kayu yang ditata rapi di bawah pepohonan rindang, ditemani angin laut sepoi-sepoi dan view ombak yang memecah pantai dan birunya laut. Kalau ingin ke pantai, kita bisa berjalan menuruni tangga yang cukup tinggi. Di sini juga kita bisa pesan minuman es kopi khas Belitong dan pisang goreng yang maknyusss.

Dari Bukit Berahu, kita cuss ke Pantai Tanjung Tinggi. Pantai ini nih yang jadi tempat syuting film Laskar Pelangi. Pemandangan yang kita lihat pertama kali adalah bebatuan yang saling menutupi satu sama lain, sehingga kesan pertama seperti kita akan masuk ke sebuah goa. Tapi, kemudian dengan berjalan di antara batu-batu yang seperti labirin itu, kita akan menemukan kejutan berupa pantai dengan pasir kuarsa lembut berwarna putih dan lautan biru kehijauan.

Pas pertama kali lihat ini, rasanya Masya Allah indah bangeeeeeet!!! Dan pantai ini seru banget buat foto-foto. Papa dan ibu saya pun foto post wed di sini :)) Kami foto-fotoan di berbagai sudut pantai dengan berbagai batu yang super huuugeeee. Sampai terheran-heran saya kok bisa ya ada batu segede-gede gunung di laut dan pantai macam di Belitong ini. 

Setelah bosen foto-foto saya dan beberapa temen ibu a.k.a. dosen saya pas kuliah main perahu karet. Mulai dari terombang-ambing aja kebawa arus sampai akhirnya mahir. Walaupun abis itu celana basah sampe ke dalem-dalem tapi rasanya soooo fun!!

Next kita belanja oleh-oleh. Oleh-oleh di Belitong ini kebanyakan adalah segala jenis krupuk dari hasil laut. Ada kerupuk ikan, cumi, udang dengan berbagai macam bentuk. Daan... kaos-kaos yang ada di sini kualitasnya nggak jauh beda dengan yang sering kita temui di Joger. Dan later on saya baru tau kalo oleh-oleh di Belitong ini walaupun serupa dengan di Bangka, tapi harganya lebih murah. Oh iya, satu lagi oleh-oleh yang khas dari Belitong ini adalah sirup jeruk kunci. Jeruk kunci sendiri bentuknya mirip dengan jeruk pecel, dengan ukuran yang lebih kecil. Rasanya kalau dalam bentuk buah waktu itu saya sempat nyicipin sih asem, tapi herannya ada yang bilang rasanya manis. Atau saya lagi sial aja ya? Jeruk kunci ini sering kita temuin di tempat-tempat makan sebagai perasan di atas seafood, mungkin untuk ngurangin amisnya ya?

Berikutnya kami makan di Restoran Dynasty yang konon katanya cukup legendaris di Belitong. Di sana kami menikmati hidangan kepiting yang uaaaah super enaaak (apalagi dibandingin yang ada di Brebes yang kayaknya udah disimpen di lemari es entah berapa lama). Ada juga hidangan kepiting telur, jadi kepiting itu isinya diambil, diolah dan dimasukkan lagi ke cangkangnya kemudian digoreng dengan telur. Rasanya agak mirip otak-otak. 

Selesai makan malam, kami beranjak ke Hotel Grand Hatika. Kata-katanya sih hotel ini juga salah satu yang paling bagus di Belitung. Well, buat saya hotel ini agak creepy karena banyak lorong-lorongnya dan agak gelap. Beberapa kali saya nyaris kesasar waktu mau ke kamar ibu di lantai bawah. Di seberang hotel ini ada kafe-kafe pinggir pantai macem di Bali, uh kalo nggak capek sih sebenernya pengin banget main keluar, tapi apa daya saya gampang tepar sejak stase IGD jadi abis mandi langsung deh tidur nyenyaak.

Yang penting lagi menurut saya dari nginep di hotel adalah breakfast nya. Dan menurut saya, breakfast di Grand Hatika ini not bad. Saya suka potato wedges nya dan buburnya pun keliatan enak. Dan satu lagi, kalau nginep di sini agak lama pasti asik karena bisa nyewa sepeda dan keliling-keliling di kawasan pantai sekitar situ.

[to be continued]

You Might Also Like

0 comments