Renungan Mantan (Calon) Mahasiswa

06.38

Tahun ini adek saya ujian nasional SMA dan tahun ini juga dia akan mulai kuliah. Beda dari saya yang "sangat" diarahkan untuk masuk jurusan tertentu, adek saya diberi kebebasan total. Mulai dari jurusan yang diambil sampai di mana dia akan kuliah.

Bahkan, dia pun mengalami kegalauan. Dia galau karena banyak pilihan yang bisa diambil, sedangkan dulu saya galau karena pilihannya sedikit sekali. 

Banyak sih kalau mau jujur. Dan setelah saya pikir lagi, dengan otak dewasa saya, saya yang dulu membatasi diri saya sendiri. Seperti yang pernah saya bilang di suatu post dulu, saya ini kurang ngeyel. Dan kurang bersyukur, pada saat itu.

Beberapa waktu lalu, saat sedang bersih-bersih kamar, saya menemukan sebuah diary jaman SMA. Dulu saya emang rajin banget nulis diary. Sejak kuliah saya nggak bisa rutin dan akhirnya kegiatan itu jadi terbengkalai. NAAAH, di diary itu saya selalu nulis doa "semoga keterima di FK UNDIP". Dan voila! Di situlah saya keterima, satu-satunya, dan bahkan sekarang sudah lulus.

Saya bahkan nggak menulis "semoga keterima di HI UGM". Well, ini sangat mungkin dan saya pun sadar, selama ini saya memasang semacam victim mentality pada diri saya, semacam mekanisme pertahanan diri, dan menyalahkan orang tua saya untuk hal kuliah kedokteran. Padahal faktanya, itu bagian dari usaha saya dan merupakan hal yang selalu menjadi doa saya ketika itu. Astaghfirullahaladzim, begitu nggak bersyukurnya saya...

Setelah melalui semua perkuliahan, perkoasan, dan lain sebagainya. Setelah sekarang saya lulus. Saya sangat bersyukur. Bersyukur buat segala pengalaman, buat kesempatan untuk membantu orang yang kesulitan. Memang seringkali merasa lelah, kesel karena nggak bisa istirahat, waktu main yang kurang, tapi ketika dihadapkan lagi pada pasien yang butuh pertolongan, semua itu hilang, yang ada di kepala cuma gimana caranya biar orang ini nggak kesakitan. Persis seperti kata ibu dulu.

Saya ini orang yang nggak bisa berdebat blah blah blah, nggak menonjol, dan saya rasa itulah yang bikin dulu saya minder dan jadi nggak terlalu berdoa buat masuk HI. Saya suka ngobrol dengan orang secara private, saya merasa "dibutuhkan saat orang kesusahan" adalah salah satu bukti eksistensi diri saya. Dan itulah yang bikin sekarang saya merasa nyaman dengan profesi ini. Saya rasa bahkan pada waktu itu pun saya sadar tapi saya terlalu angkuh untuk mengakui. Namanya juga remaja, penginnya selalu membangkan sama orang tua.

Profesi ini udah membawa saya ke banyak perenungan hidup, ceileh... Serius... Saya suka dengan profesi ini dengan segala bentuknya. Profesi ini mungkin yang paling bikin saya nyaman. Yang dipikirkan orang tentang dokter seringnya adalah pasti dapet pekerjaan dan pasti kaya. Yang nomer satu bener, yang nomer dua entahlah... 

Dokter itu memulai karirnya dari nol, beberapa puluh ribu, beberapa ratus ribu, barulah juta-jutaan. Bukan seperti lulusan sarjana lainnya yang jadi pegawai dengan pendapatan mungkin dari nol langsung ke berjuta-juta. Dan insya Allah, upah yang diterima dokter itu sesuai dengan apa yang dikerjakan, begitu pula dengan amalnya. Kata guru-guru saya, "Jadi dokter itu, satu kaki Anda sudah di surga, tinggal perilaku lainnya membawa satu lagi kaki kita ke mana." 

Pada akhirnya, semua pekerjaan adalah sama. Rejeki itu nggak kemana, asal kita selalu berusaha, berdoa, dan bertawakal. Adek-adek yang pengin jadi dokter, mungkin punya motivasi yang beda-beda. Apapun itu kalo sudah jadi pilihan dan akhirnya keterima di FK, harus selalu bersyukur. Di FK (dan di jurusan apapun) itu nggak mudah untuk bertahan. Insya Allah dengan bersyukur, mengeluhnya jadi kurang, capeknya jadi kurang, hikmahnya yang bertambah. Aamiin...

PS. Jangan takut, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya ilmu, somehow kita akan lebih sabar dan ikhlas menghadapi berbagai macam pasien. Saya pun masih terus berusaha jadi dokter yang lebih baik lagi. 

You Might Also Like

0 comments