(Bukan) Sekedar Bagging

06.24

Hai! 


Nggak terasa udah hampir setahun jadi koas. Sekarang udah stase ketujuh, tinggal tujuh stase lagi. Tapi tetep nggak siap kalo tahun depan (katanya) jadi dokter. 

Saya selalu selalu selalu mempertanyakan sama ibu, apa sih enaknya jadi dokter. Udah kerjanya ketemu orang sakit, belum lagi kuman, kotoran, dan segala masalah yang dia bawa, sekolahnya lama, liburnya jarang, urusannya sama nyawa orang, belum lagi segala tuntutan, dan gajinya nggak seberapa. Tapi ibu selalu selalu selalu jawab dengan jawaban yang klise, enaknya jadi dokter itu bisa kerja sambil nabung pahala. 

Tiap kali dijawab kayak gitu pasti saya melengos, klasik.

Beberapa hari yang lalu, waktu saya lagi jaga malam di IGD, ada pasien tinggalan dari sehari sebelumnya. Seorang anak laki-laki, usia 16 tahun, yang mengalami penurunan kesadaran setelah kecelakaan motor dan perdarahan otak karena kepalanya menghantam pohon. Anak ini dalam kondisi tidak sadar dan tidak bisa napas spontan. Mestinya dia dirawat di ICU dengan ventilator. Tapi karena ICU di rumah sakit kami penuh, begitu juga dengan ventilator yang jumlahnya terbatas, anak ini harus dirawat di IGD dengan bantuan alat seadanya.

Yang dimaksud dengan bantuan alat seadanya adalah semacam balon yang harus dipompa sesuai hitungan napas normal untuk memasukkan udara ke paru-paru pasien, supaya proses respirasi dalam tubuhnya tetap berjalan. Istilah kami bagging. 

Kami para koas, sering banget ngeluh kalo disuruh bagging. Alasannya? Karena kami jadi nggak bisa ngapa-ngapain. Saat bagging, koas harus konsentrasi penuh jangan sampai frekuensi napasnya terlalu cepat atau malah apneu. Jadi, yang bener, kami nggak bisa bagging sambil tidur, nulis laporan, atau sekedar smsan.

Waktu itu giliran saya bagging. Keluarga pasien ini datang menjenguk. Lagi bagging begitu, salah satu anggota keluarga deketin saya. Tanya-tanya tentang apa yang ada di monitor dan fungsi selang-selang yang dipasang. Termasuk juga tanya tentang yang saya lakukan di situ.

Saya jelasin satu-satu ke ibu ini, termasuk tentang indikasi dan tujuan bagging. Tiba-tiba si ibu ini nangis, sambil nepuk pundak saya, beliau bilang, "Terima kasih ya mbak. Mbak pasti capek duduk di sini dari tadi, baca monitor sambil bagging. Nanti Allah yang bales ya mbak." Saya iya iya bingung mesti jawab gimana.

Setelah ibu ini pamit, saya jadi mikir... Saya kan cuma duduk doang di sini, sambil bagging. Bagging ini mungkin buat saya dan koas lainnya adalah suatu kegiatan yang wasting time, karena jadi banyak kerjaan lain yang nggak kegarap, gara-gara SATU bagging. Tapi, buat pasien, SATU pompaan udara ke paru-paru pasien, berarti oksigen untuk jutaan sel tubuhnya, berarti hidup untuk sel-sel tersebut, dan akhirnya jaringan, organ, sistem, dan pasien itu sendiri. 

Sungguh bukan kami yang menghidupkan dan mematikan manusia. Tapi kami diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi bermanfaat di saat pasien begitu kesulitan untuk satu helaan napas, untuk mempertahankan hidupnya.

Sekarang saya ngerti kenapa dokter dekat dengan pahala. Hal sekecil duduk di samping pasien, monitoring, dan bagging bisa berarti untuk sebuah nyawa.

Selesai giliran bagging hari itu, saya berbisik di telinga pasien ini, "Dek, cepat sembuh ya."

You Might Also Like

3 comments

  1. tiwi, aku terharu bacanya :")

    BalasHapus
  2. makasih vit, 2 hari setelah bagging itu adeknya meninggal. semoga dia tenang di sana.

    BalasHapus
  3. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload music, foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus