Setengah 6 & 10

09.28

Waktu favorit saya untuk nyetir adalah jam setengah enam pagi dan jam sepuluh malam. Saya suka nyetir jam setengah enam pagi karena udara masih cukup bersih, langit mulai terang tapi matahari belum terik, dan jalanan cukup lengang untuk saya ngebut. Saya suka nyetir sepagi itu sambil jendela dibiarkan terbuka sedikit dan membiarkan angin dingin menampar pipi saya, menyibak rambut liar yang tetap berantakan walaupun disisir sepagian. Rasanya seperti ditampar dan disemangati untuk terus berlari seakan tak kenal garis finish.


Jam sepuluh malam adalah waktu ketika orang-orang lelah dan penat mencari jalan kembali dari peraduannya. Secara alamiah tidak seistimewa pagi. Tidak ada udara bersih atau langit biru muda. Mungkin kalau beruntung atau tanggalnya pas, ada bonus berupa langit cerah berbintang dengan bulan sebesar kue terang bulan. Tapi saya suka menyetir pukul sepuluh malam. Ketika kepenatan sudah sampai ubun-ubun, pegal menjalari sekujur kaki dan tangan, tapi masih cukup waras dan waspada untuk mata tetap terjaga sampai mobil terparkir manis di garasi rumah. Pukul sepuluh malam, saat yang tepat untuk menyetir pelan-pelan, membiarkan benak meregang, meluruskan simpul-simpul, merunut benang-benang tak kasat mata, mencari-cari makna sebuah pertanda. Bukan melamun, tapi tidak tepat juga dikatakan berpikir. Hanya aktivitas di antara keduanya. Hanya aktivitas otak selagi menemani ujung-ujung neuron menggelontorkan asetilkolin demi terjaganya ARAS, si pusat kesadaran. Tidak ada bunyi klakson meraung, tidak ada lampu yang terus berkedip memaksa untuk menambah kecepatan. Ketenangan yang langka di sirkuit yang seharian penuh sesak, panas, dan berdebu. Ketenangan yang selalu saya rindukan saat menyetir di waktu-waktu lain. 

You Might Also Like

0 comments