Panum PPGD (I)

18.53

Akhirnya panum minggu ketiga selesai, walaupun rasanya masih kurang dan mau mau lagi. Hehe. Selama seminggu ini saya belajar PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat), kebanyakan sih materinya mencakup ilmu bedah dan anestesi, salah dua dari beberapa bidang klinis favorit saya. Tiap hari saya dan teman-teman latihan pasang endotracheal tube, RJP, dan pembidaian. Asyik banget sumpah! Di hari Kamis kami juga latihan bedah, jahit, vena seksi, dan krikotiroidostomi pada kelinci. Kami juga belajar bagaimana memasang c-spine collar, transportasi pasien, juga resusitasi cairan. 

Dan lagi, dosen yang ngajar seminggu ini beragam banget. Ada yang ngocol abis tapi pengalamannya luar biasa hebat, ada yang kalo ngajar seloooooow supaya mahasiswanya nangkep (dan berhasil sih walaupun beberapa terkantuk-kantuk), ada profesor yang rela ngeluangin waktunya (bahkan beliau minta waktu lebih karena dia ingin sharing ilmu lebih banyak) untuk diskusi seru dengan mahasiswa mengenai kasus-kasus kegawatdaruratan, ada dosen nyentrik yang masuk kelas langsung nulis di papan tulis terus ngomel-ngomel sendiri sepanjang simulasi (entah kenapa saya kebayang si kakek di film Up!), ada dosen yang ngomongnya nggak jelas dan tiba-tiba ketawa sendiri (saya dan temen sekelas ikut ketawa karena si bapak ini ketawanya geli banget), dan ada dosen super cool, super keren, yang wajahnya sangar dan lempeng tapi begitu senyum atau ketawa aduh manisnya bikin meleleh ~ #tsaaaaahhh :))

Gara-gara panum minggu ini juga, saya makin kagum dengan dokter bedah. Mereka harus ngerti banget anatomi tubuh manusia, mereka juga mesti tau fisiologinya, belum lagi keterampilannya untuk bekerja dan bergerak cepat. Yang jelas mereka harus teteg, mereka harus tega sekaligus bersimpati dan menghormati tubuh pasiennya yang dibedah. Rusak (bedah) jaringan sesedikit mungkin, untuk menyelamatkan sebanyak mungkin. Dan ini pendapat saya pribadi sih, kalo dijejerin dokter bedah di antara dokter lainnya, kemungkinan saya bisa nebak karena profesionalismenya itu menguar bersama auranya. Hahahaha, bahasanya lebay banget. Tapi beneran lho ini, mereka itu keliatannya serius, agak-agak angkuh, lempeng, sedikit nyinyir, dan agak galak. Kadang guyonannya ngehe, sadis gitu, tapi logis dan realistis. Dan sama seperti dokter-dokter lain, mereka aslinya lembut dan perhatian ;;) Oh I wish I'll marry a surgeon someday! Aamiin.

PS. Saya dikatain aneh karena suka dokter bedah dibilang sama dengan suka cowok galak. Bukan di part itunya sih, cuma menurut saya dokter bedah itu identik dengan talk less do more, which menurut saya itu yang namanya LAKI!

You Might Also Like

0 comments