Sekelumit tentang Amba

06.23

Belakangan saya sedang baca Amba. Ketertarikan saya pada novel ini antara lain karena nama tokohnya yang eksotis: Amba dan Bhisma, serta ceritanya yang bersetting di masa-masa kelam revolusi Indonesia di tahun 1965. Lagipula, sejarah selalu membawa harum misteri yang membuat saya (agak) penasaran. Haha, saya bukan orang yang punya ketertarikan mendalam terhadap hal apapun. Apapun. 


Berikut beberapa kutipan dari Amba, yang saya rasa menarik.

"Amba tahu, Bapak diam-diam bangga karena punya andil dalam membesarkan dia; seakan ia telah menabung untuk hari depannya. Sebab anak perempuan yang akan dapat mengurus dirinya sendiri kelak ia dewasa sama nilainya dengan sepuluh bocah lanang."
"Ia tak mau pulang. Ia tak mau kembali ke hal-hal lama, menghidu bau-bau lama, menatap wajah-wajah lama. Tapi ia anak sulung, ia tahu sesuatu tentang tanggung jawab. Tak ada tanggung jawab yang lebih mulia ketimbang membalas budi Ibu, meskipun membalas budi tidak berarti harus hidup bersama Ibu."
"Amba tumbuh bersama kisah Putri Amba yang pada suatu hari, bersama kedua adik kembarnya, Ambika dan Ambalika, diculik oleh Bhisma dari sebuah sayembara. Mereka akan dikawinkan dengan Raja Wichitawirya dari Kerajaan Hastinapura. Amba menyaksikan bagaimana tunangannya, raja muda Salwa, dipermalukan setelah ia menantang Bhisma dan dikalahkan di tengah hutan, di hadapan pasukannya. Setelah itu, kegilaan. Amba menyaksikan bagaimana rasa kehormatan laki-laki mengalahkan semua emosi di muka bumi- dan ia, putri kerajaan, dicampakkan setelah kekalahan itu, karena Salwa malu, karena Salwa punya harga diri yang lebih tinggi ketimang cintanya. Tapi putri itu juga ditolak oleh penculiknya, karena Bhisma, ksatria luhur itu, ingin membuktikan rasa bakti yang tinggi, lebih tinggi ketimbang rasa kemanusiannya. Putri Amba menyimpan dendam kesumat sebesar samudra. Seluruh hidupnya adalah persiapan pembalasan terhadap kaum lelaki."
"Memasak tak ubahnya perkawinan. Belajar menunggu dan jangan sekalipun memasukkan tanganmu ke dalam air yang keruh."
"Ada padamu yang membuatku percaya, membuatku merasa aman. Kau mengingatkanku pada nilai-nilai yang dalam. Nilai-nilaiku sendiri. Kau membuatku merasa berguna. Dan karena itulah aku merasa aman bersamamu." 
"Apa cinta pada tanah air harus begini membingungkan?"
"Perjalanan: melatih diri untuk tetap menjaga jarak seraya berbagi begitu banyak."
"Laki-laki itu mengatakan dengan suara seorang dokter, Saya tahu sedikit-banyak tentang tanggug jawab, tapi jangan tanyai saya tentang politik."
"Nama itu, Bhisma, akan mengingatkannya pada namanya sendiri, Amba, dan bagaimana keduanya bertaut sampai hari penghabisan. Yang satu tak bisa disebut tanpa yang lainnya, tak bisa mati tanpa yang satunya."
"Kakakku seperti bara di dekat sumbu, yang kapan saja bisa tersulut dan menyebabkan kekacauan. Ada juga padanya perasaan terpenjara terus-menerus, sebuah kesedihan yang sangat dalam, yang ia tak kuasa hindari. Kita semua tahu betapa bahayanya merasa diri kita terpenjara, sebab dengan itu kita tahu kita harus membebaskan diri dari penjara itu."
"Kamu memilih untuk melepaskan yang kau miliki karena ada tujuan dalam hidup yang membuatmu tidak gelisah lagi."
"Bila kita harus saling memanggil dengan nama yang berbeda, akan berubahkah perasaan kita terhadap satu sama lain? Akan berkurangkah engkau sebagai engkau, aku sebagai aku?"
"Bhisma membebaskannya dari rasa terbelenggu pada tempat yang ia sendiri tak tahu persis apa dan di mana, dan apa pula yang menyebabkannya ingin dibebaskan."

Sebenarnya, selain kutipan di atas banyaaaaaak sekali paragraf yang menarik karena berkaitan dengan sejarah, komunisme, revolusi, penjajahan, dan Nazi. Saya kagum dengan Mbak Laksmi yang melakukan investigasi mendalam untuk pembuatan buku ini. Keren! By the way, karena saya sendiri belum selesai baca, kapan-kapan disambung lagi ya :)

You Might Also Like

0 comments