Entrok, Sebuah Novel

20.45

Isinya nggak seceria covernya.
Itu yang saya pikir saat baca lebih dari setengah buku yang kemarin saya beli secara impulsif. Judulnya Entrok, buah karya dari Okky Madasari.

See, covernya berwarna ceria gini: pink, oranye, dan hijau.
Nggak kebayang isinya super suram.

Bersetting di Magetan, Jawa Timur, tahun 50-an, hidup seorang anak perempuan bernama Marni dengan emboknya yang miskin. Saking miskinnya, mereka tinggal di gubuk sempit yang terbuat dari anyaman daun kelapa dan beratap jerami. Sehari-hari simbok Marni ini bekerja mengupas singkong di pasar. Sudah jadi adat jaman itu, seorang perempuan yang bekerja serabutan di pasar hanya diupahi bahan makanan, bukan uang. 

Marni yang mulai tumbuh menjadi gadis sangat memimpikan untuk mempunyai entrok (bra/ BH), tapi gimana dia mau beli entrok kalau uang saja nggak punya? Akhirnya Marni memberanikan diri bekerja sebagai kuli angkut di pasar. Pada jaman itu, cuma laki-laki yang ilok jadi kuli angkut. Sekali mengangkut barang, Marni mendapat upah satu rupiah. Dikumpulkannya penghasilan tiap hari dan akhirnya Marni bisa membeli entrok yang lama diimpikannya. 

Dari keberhasilannya itulah, Marni semakin gigih mencari uang. Dia tidak ingin menjadi seperti ibunya yang hanya bekerja untuk bahan makanan, tanpa cita-cita lain. Marni pun memulai usahanya dari uang hasi nguli. Berawal dari menjual sayur keliling, kredit panci dan kebutuhan rumah tangga, hingga kredit uang. Hidup Marni pun menjadi makin makmur. 

Sayangnya, kehidupan tidak berjalan semulus itu. Marni dituduh mempunyai tuyul dan pesugihan yang membuatnya semakin kaya. Marni dikatai lintah darat. Ia juga diperas oleh oknum-oknum orde baru. Yang lebih ngenes, Marni dimusuhi anaknya karena tidak beragama.  

Marni yang buta huruf dan sejak kecil hidup dalam kemiskinan tidak pernah belajar tentang agama, tidak mengerti siapa itu Allah, dan apa itu solat, berdoa, mengaji, dan sebagainya. Sejak kecil Marni dididik simboknya untuk meminta pada leluhurnya (animisme) dengan tirakat dan bersyukur dengan sesajen-sesajen. Sebab itulah, Rahayu, anaknya, sangat membenci Marni. Bagi Rahayu yang berpendidikan tinggi dan mengerti agama, ibunya adalah seorang yang sirik.

Pertentangan dan perbedaan antara dua wanita inilah yang menjadi garis besar cerita dalam Entrok. Marni seorang yang gigih dan bekerja keras, melakukan apapun demi kemakmuran keluarganya dan pendidikan yang baik untuk anaknya. Dan Rahayu yang berpendidikan tinggi dan taat beragama, yang menganggap ibunya seorang pendosa. Dengan cara yang berbeda, mereka berhadapan pada tekanan yang sama, tekanan dari para penguasa. 

Berbagai konflik dalam buku ini aseli bikin gemes, mencak-mencak, dan pingin ngerobek bukunya. Hehehehe. Saking keselnya saya pingin berhenti baca dan buang buku ini entah ke mana, tapi selalu urung karena penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Okky bisa banget mengaduk-aduk perasaan pembacanya dengan isi cerita yang kuat dan terasa nyata. Buku ini banyak bercerita tentang pembodohan dan pengungkungan kemerdekaan berpikir manusia di jaman orde baru. Sempitnya pikiran, sistem yang otoriter, cikal bakal korupsi, dan matinya toleransi terhadap perbedaan itulah yang membuat kita mencak-mencak saat baca buku ini. Kesalahan-kesalahan kecil dalam penulisan nama tokoh tidak banyak berefek pada kekerenan buku ini. Aseli bikin merinding!

*picture taken from here

You Might Also Like

0 comments