Hapus Emosinya, Bukan Memorinya

09.30

Sambil nunggu waktunya pake krim malam, boleh ya saya ngelantur dikit. 

Hobi saya untuk baca, nonton film atau drama seringkali membawa saya dalam kesimpulan kalau manusia itu suka memilih cinta yang sulit. Ralat, mungkin bukan suka, mungkin juga bukan memilih karena mana ada sih orang milih yang nggak enak, (like mom said yesterday: milih tuh yang enak, kan manusia berhak memilih), mungkin lebih tepat kalau disebut terlibat?

Contohnya banyak... Divortiare yang saya baca, why Alexandra doesn't just say "yes" to Denny when he asks her to marry him and move to NY? Padahal Alexandra dan semua orang di sekitarnya tau Denny sayang banget sama dia and nothing he couldn't do for her. Dan dia masih aja galauin Beno, mantan suaminya yang menurut dia kurang ajar dan ngeselin. Perahu Kertas, kenapa Kugy nggak bertahan aja sama Remi dan Keenan sama Luhde, instead of both of them being together and live -so called- happily ever after? Padahal Remi bener sayangnya sama Kugy begitu juga Luhde ke Keenan. Jan Di yang lebih milih Jun Pyo yang complicated dengan keluarganya, ketimbang Ji Hoo yang jelas satu-satunya wali yang dia punya sayang banget sama Jan Di.

Sometimes, kalo baca buku atau nonton film yang kayak gitu saya gemes setengah mati, gemes kalo nggak nge-goblok-goblok-in. Tapi bukannya novel dan film itu mengadaptasi dari kehidupan nyata ya? Dan yaaa, in real life, yang saya liat emang begitu keadaannya. Mungkin kamu dicurhatin orang lain, mungkin kamu ngalamin sendiri keanehan when you cannot just say "yes" to those who really love you and you, foolishly, still fight for a feeling that you never stop questioning if it really worth to be fought for. Yang ntar jatuhnya jadi galau maning galau maning. Hahahaha. 

Sejujurnya, saya masih nggak nemu jawabannya apa karena saya sendiri masih berputar di trek yang sama #curcol hahaha. Kadang saya pikir, hati punya otaknya sendiri yang nggak bisa diatur, yang bandel, yang sok tau mana yang paling benar. Hahahaha. Tapi, hati ya hati, otak ya otak... Emosi itu lewatnya hati, biarkan aja ngalir. Jangan sampe tersumbat, trus mampet. Memori itu nggak mungkin enggak kesimpen di otak. Jadi ya simpen aja, sampe waktunya dia terlupa sendiri. Kalo di kelas hipnoterapi di kampus saya, slogannya begini: hapus emosinya, bukan memorinya :)

You Might Also Like

0 comments