A Night To Remember - A Recital by Wibi Soerjadi

19.04


Semalem, untuk pertama kalinya saya nonton resital piano, bareng tiga temen saya, di Auditorium RRI. Jujur aja, saya juga baru kenal dengan yang namanya Wibisono ‘Wibi’ Agustinus Soerjadi ini. Saya bukan penggemar musik klasik juga sih, cuman kepingin tau aja. Hehe.
Jadi, Om Wibi Soerjadi ini adalah orang berdarah Jawa tulen, ayahnya berasal dari Muntilan dan ibunya dari Salatiga, yang lahir dan besar di Belanda. Beliau lahir di Leiden, 2 Maret 1970 (zodiaknya Pisces juga meeeen) dan pertama kali main piano pada umur 11 tahun. Lulus dengan nilai 10 atau terbaik dengan pujian dari Sweelinck Conservatorium. 
Prestasi beliau di dunia musik klasik udah banyak banget. Beliau udah menghasilkan beberapa album musik klasik yang hampir semuanya dapet gold atau platinum karena laku keras di pasaran, suatu hal yang jarang banget dicapai oleh pemusik klasik. Beliau juga sempat bergabung dengan banyak orkestra besar, seperti: London Philharmonic Orchestra, Tchaikovsky Symphony Orchestra Moscow, dan Leipzig Gewandhaus Orkest. Dan yang paling membanggakan, beliau mendapat gelar Ksatria Oranye Nassau oleh Ratu Beatrix.

Wibi Soerjadi

Dan semalem… Om Wibi main dengan sangat keren. Mata saya nggak bisa lepas melototin tangannya yang menekan tuts dengan penuh passion, penuh maskulinisme, tapi terlihat begitu cantik. Jari jemarinya yang lentik, gemulai menari di atas tuts, seperti melayang dan kadang saling menyilang. Dan nggak cuman itu, gesture nya juga jadi salah satu bagian penting dari resital semalem. Beliau mungkin cuman duduk, tapi dengan gesture nya dan tangannya, beliau terlihat seperti menari dengan sangat apik. 
Bagian paling menarik dari resital semalam adalah ketika beliau membawakan Dance of Devotion dan Amor and Psyche, karya komposisinya yang terdiri dari 9 bagian. Bener banget kalo beliau selalu dipuji atas karyanya yang bercerita karena saat memainkan Amor dan Psyche pun, beliau seperti sedang mendongeng. Mulai dari melodinya yang atraktif menampilkan pergantian suasana dari riang, kemudian lembut, menjadi marah, dan galau, hingga (lagi-lagi) tangan dan gesture nya yang ikut ‘menari’ sesuai dengan irama. Selain dua komposisi tersebut, karya Bach dan Liszt juga dibawakannya secara memukau. 
Sebagai penutup, Om Wibi Soerjadi memainkan lagu Bengawan Solo, dengan sentuhan yang sangat lembut. That was truly “A Night To Remember” :)

You Might Also Like

0 comments