Thank God, I Am The Way I Am

03.13





Sebuah obrolan ringan di suatu siang yang panas, udah mengingatkanku untuk kembali bersyukur sama Tuhan.

...

Dimulai dari obrolan tentang betapa panasnya siang itu, aku dan seorang teman mulai berkeluh kesah, "Panas gini, mesti berangkat les. Padahal badan capek banget," katanya.

"Iya, makanya aku langsung ke sini dari sekolah. Kalo balik dulu, aku males berangkat lagi," kataku sambil senderan di deket kipas angin.

"Iya, mending gitu. Daripada nggak berangkat les. Sayang kan? Ortu kita udah bayar mahal, malah kita sia-siain."

...

Di suatu kesempatan lain....

"Nanti lulus, mau lanjut kuliah di mana?" tanyaku waktu itu, polos.

"Wah, nggak tau. Belum tentu bisa kuliah. Insya Allah, kalo ada rezeki, pengen juga sii kuliah. Kalo nggak ada, ya, kerja," jawab dia.

...

Saat yang lain pula...

"Eh, kamu suka nonton sinetron "X" gak?" tanyaku, berharap bisa ngobrolin sinetron favoritku.

"Nggak pernah nonton tv. Di rumahku nggak ada tv. Kalo mau nonton mesti ke rumah bude," jawabnya sambil terus membaluri kakinya dengan lotion.

Aku diam terpaku.

"Di rumahku cuman ada radio. Rumahku kecil, paroan sama rumah bude. TV ada di tempat bude. Di tempatku, aku sama adikku cuman punya radio. Itu juga udah cukup. Lebih bisa nemenin belajar daripada tv," katanya lagi.

"Kamu sama adikmu? Nah, orang tuamu?" tanyaku pelan, tanpa bermaksud mengusik perasaannya.

Dia tersedak pelan dan menjawab dengan suara yang tercekat di kerongkongan, "Orang tuaku... kerja. Ayahku di luar kota, ibuku di luar negeri," ada jeda kosong, "Ibuku TKW."

Aku kaget, teridam lagi. Tapi, aku nggak pengen suasana yang tadinya hangat jadi beku.

"Luar negerinya mana?" tanyaku mencairkan suasana.

"Hong Kong."

"Kalo pulang berapa kali setaun?"

"Dua kali."

...

...

Ilustrasi pertama ngingetin aku untuk nggak malas dan menyia-nyiakan kesempatan yang ada dan telah diusahakan oleh orang tuaku. Selama ini, aku sering bolos les, dan lupa dengan jumlah yang nggak sedikit, yang mesti dibayar sama orang tuaku, untuk aku bisa lebih maju. Aku harus bersyukur pada Tuhan atas itu.

...

Ilustrasi kedua ngingetin aku kalo di dunia ini, masih banyak orang yang pengen ngelanjutin pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi, mereka terhambat masalah biaya. Sementara aku yang (insya Allah) ada biaya untuk terus melanjutkan pendidikan, malah ngot-ngotan mau sekolah. Telalu banyak mau, terlalu banyak nuntut, terlalu banyak ngeluh. Padahal, aku nggak dibebani harus membantu ekonomi keluarga. Kali ini aku harus bersyukur lagi pada Tuhan karena orang tuaku masih mampu membiayaiku untuk mencari ilmu untuk beberapa tahun ke depan dan aku belum perlu bekerja di usiaku yang masih terlalu muda ini.

...

Ilustrasi ketiga ngingetin aku untuk bersyukur karena walopun kedua orang tuaku selalu pulang malem karena bekerja, ato bahkan mereka sering ditugaskan ke luar kota, seenggaknya kita masih sering berkumpul. Selama ini, aku selalu aja ngeluh dan merasa kurang diperhatikan. Padahal di luar sana masih banyak anak yang kurang waktu berkumpul dengan keluarganya, tapi mereka masih bisa berdiri tegar. Terima kasih Tuhan.

...

Terima kasih Tuhan, sudah mengingatkanku, untuk kembali bersyukur pada- Mu.

You Might Also Like

0 comments