Selamat Jalan
08.08Yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur, akan terobati
Yang sia-sia, akan jadi makna
Yang terus berulang, suatu saat henti
Yang pernah jatuh, 'kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti
--
Cungkilan lagu dari Banda Neira di atas, entah mengapa selalu terlintas di kepala, sejak tiga hari sebelum kepergianmu. Hari-hari dimana tiga cucumu tengah bersuka cita. Aku yang baru saja dinyatakan lulus ujian kompre. Adik yang baru saja berulang tahun ke-22. Dan cucu yang setia menemani tidurmu sebelum ia beranjak dewasa dan pergi merantau, baru saja melahirkan bayi laki-laki yang lucu, cicit ke-17-mu.
Dua minggu sebelumnya, papa dan adik mengunjungimu. Saat itu aku dan ibu tengah mengikuti workshop psikoterapi. Papa mengirimi kami, foto dirimu, yang begitu kuyu, yang tampak layu. Kusembunyikan pikiranku yang tidak nyaman dalam emoji tersenyum, tapi ibu dengan lugas bertanya, "Simbah kok nggak seperti biasanya? Apa sedang sakit?"
Aku berencana untuk pulang ke Semarang, menengok calon cicit ke-18-mu melalui alat USG dokter obsgin pilihanku. Sepanjang jalan kuberdoa, semoga engkau masih diberi waktu untuk bertemu. Semoga aku tak perlu menyaksikan wajah murung papaku. Papaku yang ceria itu, tak bisa kubayangkan matanya bengkak karena menangisimu.
Tiba di rumah, kutanyakan kabar tentangmu. Papa tidak banyak berkomentar, aku tau ia tau kondisimu yang sebenarnya. Namun, mengungkapkannya, ia khawatir itu menjadi doa yang tak diinginkannya. Ah, kami berdua terlalu mirip, aku bisa membacanya. Ibu menjelaskan mengenai kondisimu yang terkini dengan intelektualisasi yang dipaksakan, berharap Tuhan panjangkan usiamu.
Esok hari, ketika kami tengah berkendara kembali ke rumah, handphone papa berdering. "Keluarga diminta berkumpul, simbah dalam kondisi kritis," kata pakde di seberang sana. Serta merta, aku dan suami dipulangkan. Ibu dan papa bersiap-siap. Adik ditelpon dan diminta segera pulang dari Yogya.
Pukul 2 siang, ketika aku, adik, dan suami tengah makan besar (untuk sedikit merayakan ulang tahun adikku), ibu menelepon. Sebelum kudengar suaranya, kudengar isak tangis di belakang sana. 'Ini waktunya,' dalam hati kuberkata. "Simbah sampun kapundhut," ucap ibu di telepon memastikan apa yang ada di benakku. Sama seperti yang ia ucapkan 6 tahun lalu, juga 4 tahun lalu, ketika ayah ibunya tiada.
Keesokan harinya, barulah kubisa datang ke sana, setelah menyelesaikan segala urusan yang telah terencana. Aku yang merasa cukup kuat, pun runtuh menyaksikan wajah familier itu tertidur untuk selamanya. Aku sedikit berharap, ia terbangun dan tersenyum saat kakinya kusentuh. Seperti selama ini ketika ia tertidur di ruang televisi saat berkunjung ke rumahku. Aku berharap ia menyapaku dengan celoteh riang menggunakan bahasa daerahnya yang kumengerti tapi sukar untuk kutiru.
Di antara semua simbah yang kukenal, mungkin beliau yang paling dekat. Beliau hadir ketika aku dilahirkan. Di usianya yang saat itu menginjak 60 tahun, beliau pergi menggunakan kapal seorang diri ke sebuah pulau yang belum pernah disambanginya. Beliau juga hadir dan menemaniku mondar-mandir ke rumah sakit saat kelahiran adikku 22 tahun yang lalu. Beliau menemaniku mengurus segala urusan orang dewasa, ketika papa dan ibu berhaji 7 tahun yang lalu. Aku pernah kesal padanya dan kuyakin beliau pun pernah kesal padaku. Namun, rasa sayang itu tetap ada dan akan selalu ada. Yang kuingat, setelah pernikahanku 2 tahun yang lalu, kemampuan mengingatnya semakin memburuk. Lebaran lalu, beliau menanyakan siapa laki-laki yang terus bersamaku? Yang sudah tentu adalah suamiku. Jangankan aku, pada papaku pun beliau seringkali lupa.
Selamat jalan, Mbah Yah... Meskipun sedih, kami tahu ini yang terbaik bagimu. Tak perlu engkau bertanya lagi, "Kapan aku mati? Teman-temanku semua sudah mati." Istirahatlah dengan tenang. Terima kasih atas perjuanganmu selama ini. Kami pasti merindukanmu.
And we'll take care of my dad.
--
'Kita datang ke dunia ini sendiri, jadi kita tidak perlu takut kalau nanti pada waktunya harus kembali sendiri' - Papa, Desember 2018.

0 comments