Coming Home

10.19

Sejak pembantu terakhir keluar dari rumah kami, saya hampir selalu pulang ketika rumah masih kosong. Saya benci menjadi yang paling pertama sampai di rumah. Terlintas di kepala saya sedaftar hal yang harus saya lakukan: turun dari mobil, buka gembok, dorong pagar, masukin mobil ke garasi, dorong pagar, kunci gembok, buka kunci, tutup kunci, masuk ke rumah yang gelap, nyalakan semua lampu, kasih makan ikan, naik ke kamar. Dan ketika ada yang pulang, saya harus turun untuk membukakan pintu. 

Kadang secara sengaja saya menunggu waktu semua orang pulang, lalu saya pulang. Cukup bunyikan klakson, skip segala kerempongan, masuk rumah, dan beristirahat. 

Mungkin beban psikologisnya ya, saya merasa gloomy kalo mendapati rumah gelap dan kosong. Tidak ada kehangatan. 

Suatu hari ketika papa pulang awal, ibu minta saya untuk segera pulang dan jadi pertama yang sampai di rumah. Saya bilang, "Sekali-kali gapapa kan, papa duluan yang sampai rumah." Lalu ibu menjelaskan bahwa papa itu kepala keluarga, sudah bekerja seharian, sudah lelah, dan saya harus menyambut papa ketika pulang. 

Dalam hati saya protes, saya juga lelah, saya juga mau disambut. Tapi ketika sudah berkeluarga, saya sadar bahwa ucapan ibu benar. Suami saya sebagai kepala keluarga bekerja keras seharian, berangkat lebih pagi, pulang lebih malam. Sudah sepantasnya sebagai istri saya menyambut dengan hangat ketika ia pulang. Supaya berkurang rasa lelahnya, supaya bertambah rasa ikhlasnya. Ketika saya tidak di rumah, saya nyalakan lampu dan sediakan makan malam, supaya ia tidak merasa sepi yang selama ini saya tahu.

You Might Also Like

0 comments