Searching and Related Things
04.34Kemarin, sehabis konsultasi masalah proposal tesis, saya dan ketiga temen saya memutuskan untuk nonton. Ada satu film yang pengin kami bertiga tonton, judulnya Searching (maapin yang satu terlalu suka sama Iko Uwais jadi nonton Miles 22). Saya pertama kali tau ada film ini secara ngga sengaja karena posternya nampang di timeline Twitter. Trus karena tampang pemainnya Asia banget, ramelah geng Korea-an di Twitter. Jadi pengin nonton. Apalagi pas tau kalo filmnya berkaitan sama sosmed gitu. Secara saya anaknya curious banget sama hal-hal berbau sosmed, pengin bikin penelitian tentang itu bahkan.
Long story short, kita nonton Searching. Ternyata, ini bukan film bikinan Korea macem Train to Busan. Ini adalah film Hollywood yang pemerannya orang Asia, Korea lebih tepatnya. Bercerita tentang kehidupan keluarga Kim. Ada David Kim sang ayah, Pamela Kim sang ibu, dan Margot Kim si anak. Sepeninggal sang ibu, kehidupan keluarga ini merenggang. Suatu hari, Margot Kim pamit untuk nggak pulang malam itu dengan alasan belajar bareng di rumah seorang teman. Tengah malam, ketika tengah tertidur pulas, David mendapatkan tiga panggilan tak terjawab dari Margot. Keesokannya, David balik menghubungi Margot, tapi tidak mendapat jawaban. Singkat cerita, David melapor ke polisi dan polisi meminta David untuk mencari tahu siapa saja orang yang terakhir kali dihubungi oleh putri semata wayangnya. Saat itulah David menyadari, ia tidak mengenal teman-teman Margot dan mulailah ia mencari tahu tentang anaknya lewat akun sosial media.
Film ini unik! Pengalaman baru banget karena sebagai penonton full sepanjang film, kita disajikan cerita dari layar. Layar apapun. Layar komputer, hape, televisi, sampai monitor CCTV. Kita tahu David "kepo" kehidupan Margot juga karena kita ikut melihat dia klik sana klik sini, buka akun sana buka akun sini. Rasanya seperti kita ikutan kepoin kehidupan si Margot di dunia virtual sana.
Ceritanya sendiri menarik, memberi kejutan di sana sini dan bikin kita menebak-nebak si anak ini ilang kemana, siapa yang bawa, dan sebagainya. Cuma emang karena saya lagi sakit dan abis minum obat jadi agak bolot dan ekspresinya tumpul. Hahaha.
Alur ceritanya juga pas, cuma di akhir menurut saya agak terlalu terburu-buru. Jadi kayak agak ga nangkep.
Untuk pemain filmnya sendiri, tokoh sentral di film ini adalah David Kim dan Detektif Rosemary Vick. Keduanya punya akting yang bagus dan greget. Suka!
Satu hal lagi yang menarik. Saya seneng banget karena yang diceritakan di sini adalah keluarga Asia dan berkaitan dengan sosmed. Jadi keinget sama beberapa jurnal yang pernah saya baca. Kalian tau dong kalo pengguna internet terbanyak adalah orang Asia, dan ini ada alasannya.
Dibandingkan dengan orang Barat, orang Timur atau Asia punya budaya yang lebih tertutup. Nah, salah satunya adalah dalam hal berkomunikasi. Bukan rahasia lagi, kalo kita anak muda harus ngomong dengan sopan ke yang lebih tua. Bukan cuma cara penyampaiannya, tapi juga isi hal yang kita omongin karena banyak hal yang tabu untuk dibahas dalam budaya ketimuran, misalnya aja masalah perasaan. Kalo kita lihat, di film-film Barat, seorang anak bisa marah dan beradu argumen sama orang tuanya. Tapi yaudah itu sesuatu yang wajar. Nah, kita di Asia, adu argumen sama orang tua bisa disabet kalo nggak diam.
Hal semacam itu dan karena sejak kecil kita kayak lebih sering disuruh untuk diam anteng, nggak bawel, nggak banyak omong, nggak banyak tingkah. Jadi ketika tumbuh pun, remaja Asia cenderung jadi orang yang penurut dan nggak ngomong kalo nggak ditanya. Beda banget sama remaja Barat yang lebih berani untuk bicara dan berekspresi. Dan ketika menjadi dewasa, kita jadi "nggak berani" untuk berekspresi juga, misalnya untuk mengapresiasi orang lain atau untuk menyampaikan rasa simpati ke orang lain.
Padahal, sebagai manusia, kita butuh nih penyaluran emosi, baik positif maupun negatif. Karena budaya yang seperti itu, orang Asia sering malu atau nggak pede untuk berhadapan dengan orang lain secara langsung, ia lebih banyak menyalurkan perasaannya lewat media sosial atau internet, membuat pertemanan baru dengan orang-orang asing, bersembunyi di balik persona baru yang diciptakan di dunia maya. Ya kayak saya ini wkwk. Kalo di sini kayak ngomong sayang sama mama papa aja gampang banget, padahal aslinya ga pernah ngomong langsung. Segitunya? Yes. Dan saya yakin ini nggak cuma terjadi sama saya.
Dan ya, dibanding cowok, cewek lebih banyak yang kecanduan sosmed. Walaupun di film ini, si Margot nggak kecanduan sosmed ya, tapi sekalian aja edukasi mengenai kecanduan internet. Kenapa? Karena cewek itu dari sononya kebutuhan untuk bersosialisasi lebih besar dibanding cowok. Sedangkan, cowok cenderung kecanduan online games. Kenapa? Karena cowok suka tantangan dan kompetisi, dari sononya.
Jadi pas liat Margot sama bapaknya ini, saya jadi keinget sendiri tentang saya dan papa, dulu pas jaman saya SMA. Misal nih, saya cuma berdua sama papa. Trus kayak diem-dieman. Papa di depan tivi, saya di kamar. Trus papa ini nggak pernah yang nanyain gimana sekolah, beda sama ibu yang tiap hari nanyain. Tiba-tiba aja ke kamar saya trus ngajakin nonton bola. Udah gitu doang. Kocak sih kalo diinget-inget.
Tapi lambat laun berubah juga sih. Mungkin gara-gara saya anaknya terlalu bawel dan ekspresif. Semua-semua diceritain ke papa sama ibu, termasuk praktikum spermatologi, sampe papa mohon-mohon saya supaya stop cerita gimana saya nyedot sperma pake pipet 😂😂 kayaknya saya yang gila sih. Papa juga makin ke sini makin ekspresif. Paling ekspresifnya adalah pas ngirimin saya foto ibu masih mahasiswa trus bilang "Cantik ya? Dulu yang naksir banyak, tapi aku yang dipilih 😁"
PS. Mungkin nggak semua orang Asia gitu, hanya mostly. Dan saya rasa lingkungan tempat tumbuh dan berkembang juga pengaruh banget sih 😊

0 comments