Pelecehan Seksual

20.49

Disclaimer: post berikut mengandung hal-hal yang mungkin membuat Anda tidak nyaman, disarankan untuk tidak membaca apabila Anda berusia di bawah 18 tahun.

Beberapa hari ini baca tentang pelecehan seksual, dari buku Rupi Kaur "the sun and her flowers" sampe suatu posting di twitter tentang stigmatisasi korban pelecehan seksual dan bagaimana itu membentuk suatu Rape Culture, walaupun mungkin bentuknya cuma perkataan, tapi cukup bikin orang yang mengalami pelecehan seksual jiper juga untuk bicara mengenai masalahnya dan memilih diam. Misalnya menyalahkan si cewek yang jadi korban pelecehan seksual dengan bilang, "Salah sendiri lu pake baju terbuka," atau dengan bilang, "Ih keganjenan lu orang cuma digodain doang, bukan lu doang kali yang digodain". Atau ucapan seperti, "Lu kan cowok, lawan dong, masa lu kalah," pada laki-laki korban pelecehan seksual." Dan yang paling sering kita denger, "Kucing dikasih ikan asin masa sih nolak?" which is sangat seksis. [Tirto.ID]

Isu ini cukup heboh beberapa waktu lalu ketika seorang pedangdut yang sedang naik daun mendapatkan Direct Message di akun sosial medianya yang isinya melecehkan dia sebagai wanita. Banyak yang bersimpati, tapi nggak sedikit juga yang menyalahkan si pedangdut ini, yang katanya gayanya ganjen lah, genit lah, pakaiannya minim lah, dan sebagainya.

Pelecehan seksual itu, menurut yang pernah saya baca adalah perilaku yang merujuk pada seks, baik fisik maupun verbal, yang tidak diinginkan. Jadi misal, ada dua orang gremet-gremetan, tapi sama-sama mau, namanya bukan pelecehan seksual. Sementara, ada cowok yang godain cewek, suit-suitin di pinggir jalan, dan ceweknya nggak nyaman, itu udah termasuk pelecehan seksual.

Pelaku pelecehan seksual nggak selalu cowok dan korbannya pun nggak selalu cewek. Tapi, karena cowok lebih tinggi kadar testosteronnya sehingga kerja otaknya mengenai seks juga lebih aktif daripada cewek, jadi lebih sering juga dia jadi pelaku. Pelecehan seksual juga nggak mesti terjadi antarlawan jenis, tapi juga di antara mereka dengan jenis kelamin yang sama. Dan tau nggak sih, pelecehan seksual bisa meninggalkan trauma psikologis yang dalam di diri korbannya? Dan who knows, korban pelecehan seksual, bisa juga menjadi pelaku pelecehan seksual.

Soal baju terbuka dan implikasinya terhadap terjadinya pelecehan seksual jelas ada. Dan walaupun terkesan seksis, kenyataannya memang kucing yang dikasih ikan asin nggak bakal nolak. 

Waktu dulu saya kuliah forensik, saya belajar juga tentang pemerkosaan. Dan menurut KUHP, pelaku pemerkosaan itu selalu laki-laki. Kenapa? Karena sudah takdir biologisnya laki-laki kalau merasa terangsang akan 'berdiri'. Kenapa bisa gitu? Ya karena laki-laki kadar testosteronnya lebih tinggi daripada wanita. Cewek dengan baju terbuka, akan meningkatkan risiko untuk merasa terangsang pada laki-laki. Itu normal. Yet, laki-laki yang otaknya matur dan nggak sakit (nggak dalam pengaruh zat alkohol, narkoba, nggak mengalami penyakit di otaknya, nggak mengalami gangguan jiwa, dll) akan mampu menjaga perilakunya. Nah, pelaku pelecehan seksual, dan lebih parah lagi pelaku pemerkosaan, either otaknya belum matur atau emang sakit otak. 

Saya pernah mengalami pelecehan seksual sewaktu SMA. Dan sejujurnya, saya nggak pernah cerita ke siapa-siapa sebelum ini, cuma ke suami saya aja, itupun setelah menikah. Kenapa? Ya karena malu dan jijik dan kesal! Padahal kalo dipikir lagi hal itu bukan salah saya.

Sekolah saya ada di salah satu jalan protokol di Semarang, di dekat Lawang Sewu yang terkenal itu. Waktu itu, Lawang Sewu belum jadi tempat wisata seperti sekarang. Dulu bangunan itu cukup kumuh dan sepi. Lawang Sewu terkenal karena pernah masuk di acara Dunia Lain, dari dulu bangunan tersebut memang dikenal angker. Konon katanya, ada penjara bawah tanah di Lawang Sewu.

Saya dan dua orang teman biasa nyegat angkot di depan Lawang Sewu. Nah, hari itu kami iseng, pengin ikutan tur penjara bawah tanah. Setelah bayar, kita berangkat dengan pemandu dan beberapa anak dari sekolah lain. Sekolah jelek pokoknya. Di lorong bawah tanah yang gelap, becek, dan pengap itu, tiba-tiba lampu senter si pemandu mati dan tiba-tiba dada saya digerayangi tangan-tangan anak cowok dari sekolah lain itu. Bukan cuma saya, tapi juga dua teman saya yang lain. Saya marah, langsung saya pukul tangan-tangan itu sambil mengumpat.

Ketika kami keluar dari bawah tanah, saya ingat anak-anak cowok itu saling tertawa sambil melihat ke arah kami, sementara saya merasa malu, marah, sekaligus ingin menangis. Wajah saya terasa panas. Rasanya ingin saya tonjok muka mereka. Kesal dengan tangan-tangan kurang ajar itu juga dengan sepatu saya yang jebol karena terendam air selama di lorong bawah tanah. 

Saya tau banget kalo pelecehan seksual itu bisa terjadi pada siapa saja dan dimana saja, nggak peduli kamu pakai baju apa. Demi Tuhan, waktu saya SMA itu, saya pakai baju seragam, dan saya nggak pernah sekalipun ngecil-ngecilin baju seragam kayak banyak teman lain. Baju saya selalu kedodoran, rok saya lebih panjang dari lutut. And yet, saya tetap mengalami pelecehan seksual. 

Tapi tetep aja, menurut saya pakai baju yang tertutup lebih baik daripada pakai baju yang terbuka. Karena kita nggak tau orang kayak apa yang akan kita temui. Nggak semua orang otaknya matur dan sehat, kita nggak akan tau dia bisa menahan diri apa enggak. Tapi kalau berbaju tertutup seenggaknya kita sudah melakukan pencegahan agar mata-mata nggak mengarah ke kita karena yes, cowok adalah makhluk yang sangat visual.

Kalau kita menemui orang yang pernah mengalami pelecehan seksual, entah itu cewek atau cowok. Dengarkan dia, tapi jangan kalian judge dia. Kalau dia merasa hal itu membuat mereka nggak nyaman dan mengganggu hidup dia sehari-hari. Misal jadi kebawa-bawa mimpi, jadi sedih terus-terusan, nggak bisa tidur, nggak nafsu makan, dan sebagainya, coba deh cari pertolongan psikolog atau psikiater. 

Dan buat para cowok tukang pelecehan seksual di luar sana, coba deh cari kesibukan lain yang lebih bermanfaat dibanding suit-suitin cewek di jalan, goda-godain cewek. Otak ngeres jangan dipiara. Sayang amat, Tuhan udah kasih otak disia-siain. Kalo ga dipake tolong dikubur aja, bersama diri Anda sekalian.

You Might Also Like

0 comments