Kembali (ke) Sekolah

19.03

Yay! Another wish comes true!

Alhamdulillah wa syukurillah, I am accepted in psychiatry residency program of Medical Faculty Universitas Indonesia. Yes! Harus di-bold banget! Cita-cita kuliah di UI akhirnya kesampean, walopun jalannya berliku dan setelah berganti tujuan hidup puluhan kali. 

Dulu pas SMA pengin banget masuk UI. Pengin masuk Hubungan Internasional nya UI. Tapi ngga dikasih ijin sama orang tua buat kuliah di Jakarta. Mungkin karena anaknya gampang keseret pergaulan buruk kali ya hahaha. Sempet nantangin ortu buat daftar Fakultas Kedokterannya UI, tapi sadar diri belum keterima dimana-mana jadi ngga boleh kuliah jauh-jauh.

Selama belajar di Fakultas Kedokteran Undip, jadi punya cita-cita lain dan juga berganti-ganti: pengin jadi dokter Patologi Anatomi (tapi maunya sekolah di UI), mau jadi dokter Spesialis Anak Subspesialis Tumbuh Kembang (tapi maunya sekolah di UI), mau ambil Magister Pendidikan Kedokteran trus jadi dosen (tapi maunya sekolah di UI), mau jadi dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah (tapi maunya sekolah di UI), sampai mau jadi dokter Spesialis Paru karena keseringan dapet pasien sesak napas pas jaga (tapi tetep maunya sekolah di UI).

Tapi lambat laun, makin sadar kalo buah jatuh ngga jauh dari pohonnya. Seperti ibu, saya tertarik dengan ilmu psikiatri. Well, kalian mungkin berpikir psikiatri adalah ilmu yang absurd atau abstrak, even dokter dan pasiennya pun 'aneh'. Ngapain belajar kedokteran, kalo ujung-ujungnya pengin jadi psikiater, yang 'organnya' aja ngga jelas?

Saya dulu berpikir begitu. Suka heran sama ibu kok bisa sih tertarik psikiatri, kan absurd banget. Lalu ketika suatu ketika ibu saya bawain saya buku psikiatri yang gambarnya otak, instead of teori psikologi yang bejibun, baru deh saya ngeh, psikiatri itu ada organ yang dipelajari. Namanya otak. Dan yang dipelajari adalah fungsi luhur otak, sesuatu yang sangat spesial dalam diri kita, yang menjadikan kita manusia.

Dan sadarlah saya bahwa ilmu psikiatri itu keren banget karena di situ saya bisa belajar tentang neurosains. Seperti peristiwa biokimia macam apa yang terjadi di otak kita jika kita mengalami suatu hal dan peristiwa biokimia macam apa pula yang terjadi di otak kita yang mendorong kita untuk bertingkah laku tertentu. Science meets social. Menurut saya itu super cool. Dan saya makin pede untuk jadi psikiater dan mengkampanyekan di media sosial mengenai masalah-masalah kesehatan mental. 

Afterall, gangguan mental itu sama dengan gangguan lainnya, yang bisa juga diterapi dan mengalami kesembuhan. Jadi, nggak perlu lah menjauhi atau memusuhi orang karena dia punya gangguan mental. Sebagaimana orang sakit lainnya, mereka juga perlu kasih sayang dan pertolongan kita. 

Dan sebagaimana dokter spesialis lain yang ingin menyelamatkan pasiennya, psikiater juga bisa. Ambil contoh, di ruang IGD ada pasien minum racun karena pengin bunuh diri. Dokter bedah bisa bantu dengan bilas lambung supaya racun bisa dikeluarkan. Psikiater bisa bantu dengan memberikan terapi pada pasien agar tidak mengulangi upaya bunuh dirinya.

Nah untuk menjadi psikiater yang keren, saya ingin belajar di tempat terbaik, at least di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia. Semoga dengan belajar yang baik di tempat terbaik dapat menjadi awal yang baik untuk karir dan pendidikan saya ke depannya. Aamiin ya Rabbal Alamiin.

You Might Also Like

0 comments