Jodoh

01.17

Bagaimana anak manusia menemukan jodohnya, seringkali nggak terpikir oleh saya, jadi saya yakin pasti ada campur tangan Tuhan yang memungkinkan segalanya.

Ada pasangan yang lama pacaran tapi ngga bisa menikah karena si calon mantu ngga sesuai kriteria calon mertua. Tapi, ada juga yang tetap bisa menikah walaupun ngga sesuai kriteria.

Ada pasangan yang ngga bisa menikah karena terbentur aturan perusahaan. Tapi, ada juga kok yang bisa.

Ada pasangan yang ngga bisa menikah karena beda agama. Nyatanya, banyak juga yang bisa menikah.

Ada yang pacarannya lama sama siapa, ujung-ujungnya nikahnya sama siapa.

Ada dua orang baik yang menjadi jahat pada satu sama lain, namun ada dua orang yang mungkin jahat, tapi menjadi baik karena satu sama lain.

Banyak hal ajaib yang bikin saya heran tentang penyatuan dua insan yang berbeda.

...

Akhirnya, saya sampai ke pemikiran bahwa yang namanya jodoh itu mungkin ngga hanya orang yang baik dengan yang baik, tapi orang yang tepat dengan orang yang tepat. Setepat teori lock and key antara enzim dan substrat. Karena seringkali saya menemukan dua orang baik, yang kalo dari kacamata kita, kita akan bilang mereka ini cocok banget. Tapi pada kenyataannya mereka yang menjalani, ada benturan yang segitu gedenya sampai bikin konflik di antara kehidupan mereka yang awalnya sama-sama baik-baik saja.

Dan kalo udah ketemu orang yang tepat, ngga perlu waktu lama-lama deh. Hati mantap, semua oke, langsung deh nikah. Ga pake lama, ga pake banyak dosa. 

Saya juga jadi percaya bahwa jodoh harus diupayakan. Even, pada orang yang ngga lama kenalan langsung nikah. Walaupun keliatan effortless, saya yakin itu adalah buah dari doa dan ibadah yang tidak berkesudahan, juga niat mantap dalam hati untuk membangun keluarga di diri dua orang tersebut. Susah lho untuk memantapkan hati. Karena kalo kita lihat di Awkward Yeti, hati kan sukanya lari ke sana kemari, melakukan apapun yang dia sukai. Dan who knows, resistensi dalam diri dan keluarga yang mereka hadapi.

Jodoh harus diupayakan. Alasannya karena perbedaan itu akan selalu ada, bahkan sampai nanti berkeluarga. Memang restu orang tua penting, apalagi kita di Indonesia ini, pernikahan tuh bukan hanya urusan dua orang, tapi hajatnya keluarga besar. Tapi, yang akan menjalani itu kita, yang paling kenal dengan calon pasangan kita di antara keluarga besar itu juga kita. Jadi, kalo memang niat dan sungguh-sungguh, kita lah yang harus memediasi. 

Contoh sepele, orang tua perempuan akan pilih calon mantu yang punya pekerjaan mapan. Dan kata netijen, pekerjaan mapan di mata calon mertua itu, peringkat satunya adalah pegawai BUMN. Apalagi kalo bapak kita atau calon mertua kita adalah pegawai BUMN. Nah, calon mantu yang bukan pegawai BUMN, apalagi pegawai swasta yang nama kantornya aja orang masih asing, pasti bakal jadi sasaran empuk untuk disingkirkan.

Kata saya, kalo kalian berdua niat dan sungguh-sungguh untuk menikah, yakin bahwa yang satu adalah jodoh yang lain, kalian harus bekerja sama untuk meluluhkan hati calon mertua tadi. Yang cewe misalnya mulai deh curi-curi kesempatan untuk cerita tentang gimana sih cowo ini, tentang kebaikan dia, kelebihan dia, jelasin tentang pekerjaan dia, apa prestasi dia di tempat kerja, gimana rencana kehidupan kalian nantinya, gimana nanti dia bisa memenuhi kebutuhan keluarga kalian. Boleh juga cerita sedikit tentang kelemahannya, kekurangan si cowo, tapi kemaslah dengan baik dan cantik, sedikit diplomatis gapapa. Tunjukin juga kalau kamu dan dia adalah tim yang solid yang tau bahwa mungkin ada rintangan ini itu, tapi kalian punya strategi untuk melewati rintangan tersebut.

Nah, yang cowo juga. Jangan karena ortunya si cewe ga suka, trus langsung nyerah. Kalo sungguh-sungguh, tanya dong emang kriteria nya kayak apa. Penampilan kurang rapi? Rapiin. Pekerjaan kurang mapan? Kasih tau pekerjaanmu seperti apa dan prestasi kerjamu seperti apa dan rencana masa depan. Kalo bisa dan mungkin, turutin aja dulu kalo camer suruh kamu daftar kerja di perusahaan A. Tapi realistis ya, jangan lu lulusan sekolah bisnis, trus bilang bakal jadi dokter bedah demi camer. Kalian harus paham bahwa camer ingin kalian punya kerjaan mapan karena camer ingin yang terbaik untuk anaknya, sampai kapanpun. Bahkan ketika anaknya udah nikah. Camer gamau anaknya hidup susah. Ibadah belum sempurna? "Makanya saya mau nikah sama anak, Om. Karena menikah kan menyempurnakan ibadah." :)) Pokoknya, selama masih bisa diupayakan dan upaya itu membawa kamu menjadi orang yang lebih baik, lakoni aja. 

Ujian pertama adalah saat untuk menuju pernikahan itu. Selain resistensi dari luar di atas, kita juga bakal menghadapi resistensi dari dalam diri. Kalo resistensi dari luar itu ujian untuk kerjasama dan kekompakan, resistensi dari dalam adalah ujian untuk ego, komitmen, dan kesungguhan. Misal, kalian sekantor nih, trus ada aturan yang bilang ga boleh nikah sama temen sekantor. Ada dua pilihan: (1) salah satu mengalah dan resign, cari kerja lagi; (2) putus, ga jadi nikah. Nah, tinggal pilih aja gimana. Kalo masih berat sama kerjaan dan mungkin salary yang lumayan, yah... mungkin memang doi bukan jodoh kita. Kalo kita yakin doi adalah jodoh kita dan bener-bener yakin nih mau nikah, hal gitu mah kecil. Kan Allah janji, bahwa orang yang menikah akan dibukakan pintu rejekinya, jadi ngapain khawatir. Toh, menikah kan menyempurnakan ibadah juga dan setiap ibadah pasti akan diganjar rejeki.

Kemudian agama. Perbedaan agama itu jadi masalah yang sangat krusial kalo kalian menganggap agama adalah sesuatu fundamental dalam kehidupan. Kalo engga mah, bebas. Nikah beda agama juga kelar. Umumnya sih di Indonesia, masalah agama bisa jadi sumber resistensi dari dalam maupun luar. Lagi-lagi saya bilang, inipun bisa diupayakan. Kalau salah satu mau ngalah, yaudah beres. Caranya kalo udah terjebak dalam hubungan beda agama gini adalah belajarlah dari agama kalian masing-masing. Yang cewe perdalam dulu belajar agamanya, begitu juga yang cowo. Lalu, belajarlah mengenai agama satu sama lain, si cewe belajar agama si cowo dan si cowo belajar agama si cewe, dari diskusi dulu aja deh. Nah, kalau dari situ kok berdua ini tergiring ke salah satu agama. Ya sudah, kalian tinggal menghadapi resistensi dari keluarga. Kalau dari situ kok berdua malah tidak ingin meninggalkan agama masing-masing, putuslah baik-baik dan cukuplah kalian berteman. Itu tandanya kalian memang tidak berjodoh.

Yang terakhir adalah orang tua. Beruntunglah kita yang punya orang tua ngga punya kriteria neko-neko. Untuk yang orang tuanya kriteria nya berlembar-lembar, harus kerja ekstra untuk meyakinkan bahwa orang yang kita pilih itu baik untuk kita. Kalau udah berupaya sekuat tenaga, udah berdoa pagi siang sore malam, orang tua tetep ngga kasih ijin untuk nikah. Hmmm... Fix, belum jodoh. Ngga usah dibawa pusing, terima aja dengan (berusaha) ikhlas, sedih boleh, nangis boleh, tapi harus inget bahwa jodoh kita yang sebenarnya pasti ada di luar sana. Berikhtiar dan terus berdoa, insya Allah cepat dipertemukan.

You Might Also Like

0 comments