Jaga Pertama - Part 1

04.00

Senin dan Selasa kemarin, kelompok 'Darma Wanita' kami mendapat kehormatan untuk jaga VK alias kamar bersalin. Rasanya campur aduk antara grogi, excited, takut dan segala macem. 

Jaga pertama kami hari Senin mulai jam 7 pagi sampai jam 7 malem. Suasana masih santai dan selow. Saya dan temen-temen keliling VK ngeliatin ada apa aja sih di situ. Di kamar itu ada 3 orang pasien, yang satu keliatan sesak napas dan yang satu lagi santai kayak di pantai. 

Tiba-tiba, sekitar jam 07.30 suasana VK mendadak rame. Ada ibu yang didorong di atas brankar, pasien kiriman dari IGD. Langsung deh kita yang komuda ini panik, "iki kudu piye?" dan lagi koas-koas masih pada laporan pagi. Dokter jaga langsung nyuruh kami, "dek, ambilin partus set!" Saking paniknya, temen-temen saya lari dan kurang dari semenit udah ada 5 partus set di meja steril.

Dan di tengah ke-hectic-an itu, di mana saya? Benar! Saya berdiri bengong di ujung brankar si ibu yang hampir melahirkan. Saya cuma ngeliatan temen-temen berlarian sambil bengong.

Balik ke brankar. Bayi si ibu ini udah setengah jalan menuju 'real life'. Baru saya mau nanya, "kepalanya mana?" Tiba-tiba si bayi meluncur keluar secepat kilat dan lahir begitu saja. Bener-bener beda sama di video, ibunya sama sekali nggak keliatan ngejen kayaknya. Saya berasa nonton persalinan son of the mask di balik layar :|

Kepanikan nomor 2: "dek, ini plasenta (ari-ari) nya dicuci ya," kata dokter jaga. Giliran saya dan temen yang sedari tadi bengong pasang aksi. Kita bawa-bawa baskom nanyain semua suster, "sus, tempat nyuci ini di mana?" dan semua suster menjawab, "di sana," nggak jelas.

Setelah nemu wastafelnya, kami nyalain keran dan... "Mampus! Darahnya muncrat!" darah di baskom muncrat ke mana-mana. Buru-buru kami bersihin jangan sampe ketauan suster galak. 

Ternyata nih ternyata yang namanya ari-ari itu berat bro, beratnya hampir sama dengan bayi. Nggak heran ya kalo orang Jawa sering bilang ari-ari itu saudara kembar kita yang mati.

Lagi asik mainan dede bayi yang baru lahir, masuklah seorang ibu hamil didorong di atas brankar, mukanya masih muda, kayaknya lebih muda dari saya dan temen-temen. Waktu si ibu ini udah tenang di ruangannya, saya perhatiin mukanya lagi, dalam hati, "Men, ini mirip si junior (adek kelas yang juga mantan gebetannya mantan gebetan saya, eh apa sampe sekarang mereka masih deket ya, entahlah)."

Kami keluar dari ruang VK sekitar jam 08.30 dan kuliah sampai jam 13.00. Pas kami balik, si junior lagi dikerubungin dokter, koas, dan suster. Ternyata dia lagi ngejen-ngejen mau bersalin. Ya, namanya juga anak kecil, si junior yang umurnya belum genep 20 ini bukannya ngejen malah teriak. Kadang teriaknya kayak lagi ngapain gitu .____. (jangan tanya kayak lagi ngapain hayo?).

Setelah disentak sama suster yang galak, akhirnya si junior kuat ngejen dan anaknya lahir. Mukanya langsung sumringah. Tapi sumringahnya hanya berlangsung sebentar karena robek di jalan lahirnya harus dijahit, hahahahaha *tawa jahat sang senior gagal*. 

Lagi dijahit-jahit gitu, tiba-tiba satu temen nyeletuk, "kok ini mirip banget sama si junior ya?" Spontan saya angguk-angguk setuju. Dan dimulailah segala lelucon kampret itu sementara si junior lagi dimarahin dokter jaga gara-gara nggak mau pasang KB spiral.

Sekedar informasi, alat kontrasepsi itu macamnya banyak: kondom, kalender, suntik, pil, spiral (IUD), susuk (implan), steril (tubektomi/vasektomi). Alat kontrasepsi untuk jangka waktu pendek ada kondom dan kalender, tapi kemungkinan kebobolannya cukup tinggi. Untuk jangka waktu sedang ada pil (1 bulan), suntik (3 bulan), susuk (2-3 tahun), spiral (5-10 tahun. Dan untuk jangka panjang ada steril dengan jangka waktu selama-lamanya. 

KB jangka pendek utamanya dipakai untuk yang ingin menunda kehamilan, KB jangka sedang lebih banyak dipakai untuk mengatur kehamilan, dan KB jangka panjang dipakai untuk mengakhiri kehamilan baik karena anaknya udah banyak maupun karena alasan kesehatan dimana dia nggak boleh hamil lagi. 

Untuk junior yang masih berusia 19 tahun, disarankan pakai KB jangka sedang yaitu susuk atau spiral. Alasannya karena organ reproduksinya sebetulnya belum cukup matang dan siap untuk hamil dan bersalin, usia optimum untuk reproduksi adalah 20-35 tahun, kalau usianya kurang atau lebih maka kehamilannya lebih berisiko, makanya kalau mau punya anak lagi mending dia nunggu beberapa tahun. Selain itu, si junior dan suaminya (yang ternyata bukan mantan gebetan saya) memiliki kesan ekonomi kurang yang apabila dia punya terlalu banyak anak sekarang malah akan menimbulkan masalah sosial lainnya.

Ngegemesinnya si junior ini adalah dia nggak mau dipasang KB spiral karena dia kepingin melahirkan satu anak setiap tahun --" plis dek, ngeliat elo melahirkan dan dijahit aja gue jadi berpikir ulang kepingin melahirkan normal apa enggak --"

Yang saya denger, setiap pengguna Jampersal diwajibkan untuk dipasang KB spiral. Hm, menurut saya itu cukup logis karena negara udah baikan nih ngebayarin buat kamu melahirkan, tapi kalo kamu tiap tahun melahirkan ya rugi juga negara. Makanya negara rela ngebayarin kamu pasang spiral sekalian biar paling enggak 5-10 tahun lagi kamu baru melahirkan lagi.

Eh, btw, saya mau anter papa ke tempat travel. See you later, cerita saya belum selesai ;)

You Might Also Like

4 comments

  1. ngakak malam ini disponsori oleh tiwi.
    tanggung jawab kau dek!

    BalasHapus
  2. itu sebenernya cerita menegangkan lho *ngelap keringet*

    BalasHapus
  3. hahahahaha, selalu seru ya cerita jaga malam, ada ada aja, welcome to the jungle uwix.......

    BalasHapus
  4. iya ki, aku newbie nih, bantu-bantu yak :))

    BalasHapus