Malaikat Jatuh dan cerita-cerita lainnya - Clara Ng

23.29


Malaikat Jatuh dan cerita-cerita lainnya merupakan kumpulan cerita pendek karangan Clara Ng. Kesepuluh cerita di dalamnya mengangkat tema yang sama yaitu cinta antara ibu dan anak. Dikemas dengan diksi yang manis dan imajinasi yang liar, cerita-cerita dalam buku ini mungkin lebih pantas disebut dongeng. Dongeng yang gelap, ya, karena semanis apapun cerita di buku ini, semua dibalut dengan suasana yang sama gelap, bau anyir, dan kematian. Berikut ini 2 cerita favorit saya dalam Malaikat Jatuh dan cerita-cerita lainnya:

Malaikat Jatuh

Cerita ini diawali dengan prolog mengenai legenda manusia bersayap yang hidup di pegunungan Teatimus. Ada kepercayaan bahwa jantung manusia bersayap ini dapat memberikan kehidupan abadi bagi yang memakannya. 

Beppu, manusia bersayap cacat, tersesat di kota. Diam-diam Louissa Manna mengikutinya. Anak perempuannya yang bernama Mae tengah sekarat. Manna berencana untuk mengambil jantung manusia bersayap agar anaknya sehat seperti sedia kala. Tapi sayang, yang didapatkan Manna hanyalah darah manusia bersayap. Darah mempunyai efek yang berbeda dengan jantung, efek yang harus dibayar mahal oleh Mae.

Louissa Manna telah berusia lebih dari tujuh ratus tahun, tapi dirinya masih terlihat cantik dan muda. Konon ketika ia masih muda dan baru saja melahirkan bayi, sebuah penyakit menjangkitinya. Ia ingin sembuh karena tidak ingin bayinya terlantar, maka tanpa pikir panjang ia memakan jantung manusia bersayap. Harga yang dibayar untuk keabadian ternyata sangatlah mahal, Manna sudah kehilangan banyak sahabat, saudara, anak, suami, dan kekasih. Manna lelah hidup sendirian. 

Tapi darah berbeda dengan jantung, Mae memang menjadi lebih kuat, hidupnya panjang, tapi dia membutuhkan darah segar lain untuk terus bertahan hidup. Manna memaksa Mae menemaninya hidup dengan cara yang mengerikan. 

Mula-mula Mae meminum darah kelinci, hingga suatu hari Mae menghabisi seluruh keluarga yang tinggal di seberang rumahnya. Warga kampung marah. Mereka menangkap Mae dan membakarnya hidup-hidup.

Istri Paling Sempurna

Cerita ini dinarasikan dari sudut pandang seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Ia selalu memperlakukan istrinya dengan sayang dan lembut, berusaha mengabulkan semua keinginan istrinya, memujanya. 

Dua bulan setelah pernikahan sakral mereka, sang istri hamil, dan pasangan suami istri ini pun merasa sangat bahagia. Sayang, kehamilan itu hanya bertahan tiga bulan, sang istri keguguran. 

Enam bulan kemudian, sang istri hamil kembali. Tapi, lagi-lagi, kehamilannya hanya bertahan sebentar. Sang istri kembali mengalami keguguran. Ia menjadi geram, penasaran, dan bersedih. Apa yang menyebabkan dirinya terus menerus keguguran? Namun, dari hasil pemeriksaan medis, tidak ditemukan kelainan apapun pada dirinya.

Di kehamilannya yang ketiga, setahun kemudian, sang istri bertekad untuk menjaga kondisi fisiknya agar tidak keguguran lagi. Usahanya membuahkan hasil, sembilan bulan kemudian sang istri melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan yang diberi nama Sabiya dan Liko. 

Sejak mempunyai anak, sang suami merasa terabaikan. Istrinya selalu saja sibuk mengurus bayi-bayi mereka. Walaupun begitu, rasa sayang sang suami tidak berkurang sedikitpun. Bahkan ia sudah merencanakan liburan mewah ke luar negeri dengan istrinya untuk merayakan ulang tahun pernikahan. Sang istri awalnya menolak karena tidak ingin jauh dari bayi-bayinya, tapi setelah dipaksa oleh suaminya, akhirnya ia mau pergi. 

Setiap hari selama liburan itu terasa seperti bulan madu kedua. Tapi situasi segera kembali seperti semula sekembalinya mereka ke rumah. Istrinya kembali sibuk dengan Sabiya dan Liko, sementara suaminya kembali terabaikan. 

Tahun-tahun berlalu, cinta sang suami pada istrinya tidak juga pupus, malah makin bertambah setiap harinya. Suatu hari, sang istri bercerita pada suaminya bahwa anak-anaknya minta ulang tahunnya yang ke tujuh belas dipestakan dengan mewah di ballroom hotel termahal di kota. Dengan berat hati, sang suami mengabulkannya. 

Sebenarnya sang suami tidak ingin datang ke pesta itu, konyol, menurutnya. Tapi ketika dia pulang ke rumah terlambat dua jam dari seharusnya, istrinya telah siap dengan gaun cantiknya. Istrinya tampak cantik dan bersinar-sinar, ia pun luluh. Untuk hal yang akan membahagiakan istrinya, ia tidak akan berpikir dua kali. 

Mereka memasuki ballroom mewah tersebut. Pesta hampir dimulai. Bergandengan, mereka berjalan menuju ke tengah ballroom. Mereka berdiri berdua, hanya berdua. Tidak ada siapa-siapa.

Sabiya dan Liko memang berusia tujuh belas tahun tepat hari itu. Tetapi, tujuh belas tahun yang lalu, bayi kembar dempet di kepala itu meninggal empat jam setelah dilahirkan. Orang tua tidak seharusnya menguburkan anak, tetapi kebalikannya. Istrinya tidak hanya menguburkan bayi kembarnya, ia juga harus menguburkan impiannya untuk memiliki anak kandung. Rahimnya mati bersama mereka. 

You Might Also Like

0 comments