Habibie & Ainun

07.41

Baru aja kelar nonton 'Just Alvin: Cinta untuk Ainun' sekeluarga. Ketebak kan bintang tamunya: Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, dan Bapak B.J. Habibie, sang pembuat pesawat yang romantis di dalam ke-teknokrat-annya. 

He is super romantic. Really. Saya bisa sampe melongo denger kata-kata puitis meluncur dari mulut beliau, begitu juga ekspresinya yang menerawang seperti beliau melihat ada Ibu Ainun di setiap sudut. Pemandangan yang amat sangat romantis dan melenakan. 


Reza as Habibie and Bunga as Ainun
Saya dua kali nonton Habibie & Ainun, sekali bareng temen-temen dan yang sekali lagi bareng keluarga. Which part make you cry most? Saya cuma nangis sekali. Jujur. Saya nangis saat, entah itu malam atau pagi buta, Pak Habibie dan Ibu Ainun ke Bandung mengungunjungi hangar di mana Gatotkoco berdiam, setelah laporan pertanggungjawabannya ditolak. Kemudian beliau menumpahkan kekecewaannya dan menangis. Entahlah, menurut saya, itu adalah bagian paling mengharukan. Mungkin karena seorang pria yang punya cita-cita untuk bangsanya dan mendedikasikan seluruh waktunya untuk itu dikecewakan oleh segelintir orang yang berbeda kepentingan. Mungkin. Saya belum baca cerita lengkapnya di buku :P


See... That good-looking couple >.<
Saya suka banget akting Reza dan Bunga di film itu, selain Reza yang jago dengan perannya sebagai Bapak Habibie lengkap dengan gesture, mimik, cara bicara, logat, dan cara berjalannya, they make a good-(looking) couple. Hahahaha. Serius, saya suka. Apalagi pas adegan mereka berdua pake jaket seragam launching Gatotkoco dan glasses. Aaahhh, surely they make not only a good-looking couple, but also a fashionable one. Cakep! Walaupun banyak yang bilang Bunga nggak pantes berperan jadi Ibu Ainun atau apapun itu, saya suka dia. Menurut saya (lagi), di situ dia terlihat cerdas, cantik, anggun, dan punya wibawa = karakter wanita keren.

Yang agak mengganggu pikiran saya sepanjang film ini adalah... Jadi, Ibu Ainun mengorbankan ke-dokter-annya kah? Lagi-lagi saya belum baca bukunya, jadi mungkin saja saya salah. Ah, saya harus cepat-cepat baca bukunya! Kembali ke topik, ya itu tadi jadi pertanyaan saya. Rasanya agak kesel, agak nggak rela, dan bertanya-tanya: perasaannya Ibu gimana ya? Beliau masih punya ambisi dan beliau masih punya rasa 'sayang' dengan profesinya tersebut, menurut yang saya lihat di film, saat beliau ingin sekolah spesialis. Kemudian muncul pertanyaan lain lagi: kapan beliau mulai rela untuk 'mengorbankan' profesinya? Idealnya, semua orang ingin ambisi, mimpi, cita-citanya terwujud. Tapi bukannya, cinta, apalagi dalam sebuah pernikahan, itu teramat kompleks? Dan rasanya perlu mengalaminya sendiri untuk memahami hal yang demikian itu. I have no idea, ego saya masih terlalu tinggi. 


Buku Habibie & Ainun, belum baca ._.
Adegan yang menurut saya paling romantis adalah waktu Pak Habibie ngasih birthday cake untuk Ibu Ainun dengan mainan pesawat di atasnya sambil bilang kalau kado ulang tahunnya sudah terbang 14 jam yang lalu, kurang kece gimana coba dikadoin pesawat terbang hasil jerih payah suami bertahun-tahun... Ajegile... Hmmm, yang saya tangkep dari semua romantisme Bapak dan Ibu di film ini adalah:
Entah siapa yang melengkapi siapa, sepasang suami istri itu adalah satu.
Dari mana asalnya pemikiran saya itu, saya kurang paham. Kalau sempurna itu sama dengan satu, tanpa Ibu Ainun, Bapak Habibie itu mungkin hanya tiga perempat atau setengah, mungkin beliau nggak akan jadi sehebat ini. Sama saja dengan Ibu Ainun, tanpa Bapak Habibie, mungkin beliau hanya pecahan yang sama. Sepasang suami istri itu ibaratnya lock and key  di teori enzim, kalau bukan pasangannya, bukan jodohnya, ya nggak akan terjadi metabolisme itu.

Ah, makin panjang saya nulis, saya makin nggak paham hahahaha. Pokoknya film Habibie & Ainun itu super duper keren: semuanya! Aktingnya Reza dan Bunga, jalan ceritanya, soundtracknya, aktingnya Hanung yang ngeselin, segala joke nya, old fashion nya, settingnya, dan of course pesan sponsornya juga dong ;)

Gute nacht!

You Might Also Like

0 comments