Gangguan Lobus Frontalis

04.12


saya lagi suka banget sama istilah itu. hehe. istilah yang sempet disebut sama dosen saya di suatu perkuliahan. kenapa? ada kaitannya sama artis politik yang tiap hari nongol di tivi (dan gara2 mereka, saya anti banget sama yang namanya tivi, apalagi channel berita). 

jadi gini, di otak kita, sebelah depan itu, ada yang namanya lobus frontalis. fungsinya: untuk membedakan nilai yang baik dan buruk. nah, kalo lobus frontalisnya terganggu, otomatis si penderita akan kesulitan membedakan mana yang baik dan yang buruk. contoh: penderita tumor di bagian lobus frontalis dihadepin di sebuah meja yang ada uangnya, walopun itu bukan uang dia, dia tetep bakal ambil uang itu karena lobus frontalisnya terganggu dan dia nggak bisa bedain yang baik dan buruk.

sekarang kita liat kelakuan artis politik gedung keong yang tiap hari nongol di tivi. sering banget kan kita liat tingkah mereka yang kaya preman pasar ato kadang2 kaya binatang di taman safari, tapi, seriously, mereka nggak se- cute itu.

saya juga inget banget salah satu isi kolom seorang mantan rektor UNDIP di surat kabar paling gede di Jawa Tengah. saya lupa persisnya, tapi gini kira2:

"kalo dulu (alm.) Gus Dur bilang anggota DPR itu kayak anak TK, sekarang mereka sudah naik kelas, jadi anak SMA yang nakal, suka mem-bully orang."

well, nothing to say but agree!! saya juga merasa mereka itu nggak ada sopan santunnya nggak ngerti tata krama, nggak punya EQ dan SQ yang bagus. yah, mungkin ada yang ngaku punya IQ tinggi, tapi saya nggak seyakin itu. 

yang jelas saya merasa keputusan saya melewatkan program dan channel berita adalah keputusan yang benar. saya nggak punya waktu nonton orang2 dengan gangguan lobus frontalis bertengkar di ruang sidang, bikin ribut. 

sadar nggak sih mereka sedang menyakiti nurani rakyat yang katanya mereka bela, perjuangkan? saya sebagai rakyat sakit hati, pipi saya serasa ditampar, saya malu punya wakil yang seperti itu. bikin saya pengen jantur mereka satu2 pake dasi mahal yang nempel di dada mereka. 


You Might Also Like

6 comments

  1. Iya... Sering emosi kalau melihat MEREKA "rapat", yang menurutku itu bukan rapat, tapi adu mulut gag jelas.

    BalasHapus
  2. Aku nggak pernah tertarik mengikuti berita ataupun baca koran semenjak dahulu kala. Alasannya cuman satu. There's nothing but bad news on it. Salam :)

    BalasHapus
  3. mereka sendiri gak sadar gak ada bedanya sama massa lagi demo --,

    BalasHapus
  4. Jadi bertanya-tanya, "apa kita mempercayakan nasib bangsa di orang yang tepat?" Ckckck...

    BalasHapus
  5. woww...
    jadi pada punya tumor donk tuh anggota dpr
    ahhahaa....
    :P

    BalasHapus
  6. @ kukang: iya, tul!!

    @ dewa bantal: iya, berita jarang banget yang isinya bagus, jadi kangen masa orde baru. tapi, berita paling lumayan kemaren sih densus nangkep teroris :)

    @ enji: iya, pasti dulu kuliahnya juga nggak bener deh *curiga

    @ viita: jadi gimana dong nih?

    @ arfgan: eh, ada calon dokter yang lebih senior. gimana kalo kita jadi spesialis bedah onkologi anggota dpr?? :D

    BalasHapus