Selamat Hari Ayah, Papa

15.36

Papa, di ingatan masa kecil saya adalah sosok yang penyayang. Papa yang selalu jadi transporter. Gendong saya yang ketiduran di mobil, ke kamar. Papa selalu ajak saya duduk di pangkuannya, bahkan ketika nyetir. Rasanya seperti baru kemarin. Papa selalu antar jemput saya ke sekolah tiap hari Sabtu, ngobrol dengan satpam atau sopir antar jemput di depan gerbang sekolah. Karena papa, saya jadi belajar mengenal arah mata angin. Papa selalu bilang, "Saya tunggu di sebelah timurnya sekolah ya," atau "Saya ada di sebelah barat, dekat rumah sakit." 

Di ingatan masa remaja saya, papa adalah sosok pemarah yang menyeramkan. Hampir setiap minggu saya menangis karena gesekan-gesekan kecil dengan papa. Nggak terhitung berapa kali kami beradu mulut yang berujung saya menangis sambil kabur ke kamar dan membanting pintu. Diikuti papa dan ibu yang menggedor, menggebrak, dan mendobrak pintu kamar saya. Dan rentetan omelan mengalir dan membanjir, membuat saya terisak tanpa bisa berhenti. Papa sering hendak memukul ketika saya menjadi kurang ajar. Tapi entah karena papa yang nggak tegaan atau karena saya yang cukup gesit untuk berkelit sehingga hal itu hampir tidak pernah terjadi. 

Ketika beranjak dewasa, saya mulai bisa melihat sisi lain dari papa. Papa adalah orang yang bijak dan sangat menginspirasi saya dalam berkarir, berkeluarga, dan bersosialisasi dengan tetangga. Cerita-cerita yang mengisi perjalanan saat berkendara memperlihatkan sosok papa yang sesungguhnya. Papa selalu memberi petuah di saat yang tidak terduga. Ia mengajarkan untuk loyal dalam bekerja, untuk tidak berbuat curang, untuk tidak pernah terlambat datang ke kantor, untuk terus belajar, untuk tetap rendah hati dan menjalin silaturahmi dengan pekerja lainnya, untuk tetap memprioritaskan keluarga, untuk meluangkan waktu bersosialisasi dengan tetangga. 

Papa memang bukan bos besar atau seorang workaholic. Namun saya tau pasti, papa adalah sosok yang berintegritas tinggi, seorang ahli. Papa nggak pernah absen untuk mengunjungi keluarga atau tetangga yang terkena musibah. Sejauh apapun ia berada, ia selalu berupaya untuk datang. Keluarga dan tetangga bukanlah hal remeh temeh baginya. "Tetangga adalah keluarga terdekat kita," itu prinsip yang selalu ditanamkan agar kita selalu menghormati dan menjaga tetangga kita. 

Papa membuka wawasan saya tentang dunia orang dewasa melalui masalah ekonomi, sosial, dan politik. Lagu-lagu favorit papa adalah yang terbaik. Saya masih mendengarkannya hingga hari ini. Papa yang menularkan pada saya kebiasaan cuci tangan sebelum dan sesudah makan, menggunakan sendok dan garpu saat makan, dan menggunakan sumpit saat makan mi. Papa adalah peri baik hati yang membolehkan saya membeli lebih dari dua buku di Gram*dia karena papa akan beli buku lebih banyak lagi. Papa yang memaksa saya untuk belajar mengaji, berenang, dan main musik. Tiga hal yang awalnya tidak saya sukai, tapi kini saya nikmati dan rasakan manfaatnya. Kami sama-sama suka bermain puzzle, entah puzzle bergambar, teka-teki silang atau sudoku. Dan ternyata kesukaan saya menulis pun diwariskan oleh papa! 

Terlalu banyak hal menarik tentang sosok pria nomor satu di hidup saya itu. Namun setidaknya post ini cukup merangkum bahwa papa lebih dari sangat layak untuk diberikan ucapan "Selamat hari ayah," semoga papa sehat selalu dan bahagia selalu 💖

You Might Also Like

0 comments