Urip Iku Urup

19.48

Ketika lampu telah dipadamkan dan ia larut dalam tidur yang nyenyak,
sembari menatapi wajahnya yang terpahat sempurna, 
sering saya bertanya:

"Apa yang terjadi ketika waktu itu saya memilih jalan yang lain?"

Akankah ada tempat senyaman pelukannya?
Beranikah saya keluar dari zona nyaman?
Mungkinkah saya bertemu dengan mereka yang saya temui hari ini?
Adakah saya tumbuh lebih baik dari ini?

---

Beberapa waktu yang lalu ketika seorang teman menelepon dan kami membahas segala hal, saya bertanya, "Kenapa ya, teman-teman kita nggak banyak yang mau dan berani untuk ke daerah terpencil? Di Jakarta, saya bertemu dengan teman-teman yang pergi ke Wamena, Sorong, Jayapura, Sumba, Mempawah, Gorontalo, dan lain sebagainya." 

"Mungkin karena di Jawa orang tua inginnya selalu "ngekepin" kita. Mau sebesar apapun anaknya, selalu diperlakukan seolah masih anak-anak, dijaga dan dicukupi kebutuhannya," ujarnya.

"Dan karena dibesarkan dengan cara seperti itu dan hidup nyaman dengan cara seperti itu, kita jadi enggan untuk melihat dunia luar dan merasa cukup hanya dengan hidup seperti itu," renung saya.

"Tapi saya bangga jadi orang Jawa," tukas teman saya, "Di sini saya bertemu dengan banyak orang Jawa. Mereka pekerja keras dan sopan. Nggak akan banyak kemajuan di sini tanpa orang Jawa," katanya.

---

Ketika pertama kali datang dan bekerja di Jakarta, bos-bos saya banyak yang bilang, "Kamu itu orang Jawa, tapi tidak seperti orang Jawa." "Maksudnya?" saya bertanya balik. "Orang Jawa itu kan biasanya 'nrimo', nggak berani menolak, nggak berani mengungkapkan pendapat. Tapi kamu beda. Kamu itu garang dan asertif." Wow, jadi itu yang ada di pikiran orang Jakarta tentang orang Jawa. Wow, jadi saya SEKARANG asertif? 

Dulu, ibu bilang hasil tes MMPI saya bagus. Saya cukup ambisius, ngeyelan, tapi kurang asertif. Kalau asertif diartikan sebagai mengungkapkan pendapat atau keinginan tanpa merugikan orang lain, mungkin memang saat itu (atau sebenarnya sekarang juga) saya kurang asertif. Sebagai orang yang ambisius dan ngeyelan, saya punya banyak pendapat pribadi yang mungkin bertentangan dengan orang lain. Dan seringnya saya menelan kembali pendapat, keinginan, bahkan perasaan saya tersebut bulat-bulat. Lalu pada saat semuanya sudah lepas kendali, saya bisa meledak dan menyakiti orang-orang di sekitar saya. Ibu minta saya untuk belajar menjadi lebih asertif. 

--- 

Menikah dengan dia dan pergi dari Semarang mungkin keputusan yang tepat. Saya bersyukur diberikan orang tua yang mau merelakan anaknya pergi. Yang nggak selalu "ngekepin" anaknya. Yang membolehkan saya untuk sekolah lagi di Jakarta, mengijinkan saya tinggal di sini, dan tidak menahan saya dengan kehidupan yang nyaman di Semarang. Karena tanpa pergi, saya nggak akan belajar hal baru, pengalaman baru. 


Mungkin detik dimana saya 'dilepaskan' adalah detik dimana saya tumbuh menjadi lebih asertif. Karena saya akhirnya bebas dan harus berani bersikap dan memilih bagaimana melanjutkan hidup saya.

Hidup di Jakarta, sedikit banyak merubah saya. "Kalo sendirian, jangan lupa pasang muka garang, mbak. Karena Jakarta itu ganas," kata adik sepupu saya yang lebih dulu tinggal di Jakarta. Saya pun mempraktekkan itu. Dan menjadi terbiasa dengan hal itu.

Tapi, menjadi garang sepanjang waktu itu melelahkan. Saya menyadari hal tersebut ketika saya lupa mengeluarkan kartu e-money saat akan keluar dari halte busway, lalu seorang anak remaja men-tap kartunya agar saya bisa keluar. Saya menyadari hal tersebut ketika melihat suami saya memberikan tempat duduk pada seorang ibu yang membawa anaknya di kereta. Saya menyadari hal tersebut ketika seorang ibu paruh baya mengajak saya mengobrol di lift apartemen. 

Di tengah kehidupan baru yang asing, kepedulian dari orang lain membuat saya trenyuh dan sadar bahwa justru di kerasnya kehidupan Jakarta, kita butuh lebih banyak orang untuk peduli. Waspada harus, tapi tidak harus selalu menjadi garang untuk waspada. Hati tetap harus hangat, meskipun kepala dingin. Saya sadar bukan cuma saya yang kadang merasa kesepian di belantara Jakarta yang keras. Kebaikan-kebaikan kecil kita mungkin berarti untuk orang lain dan membuat mereka ingin menularkannya lagi ke orang-orang lainnya.

---

Kalau orang bilang saya tidak se-Jawa itu. Mungkin mereka saja yang belum mengenal orang Jawa dengan baik. Orang Jawa itu lembut di luar, tapi selalu punya bara yang membuat mereka hidup, kuat, dan tahan banting, di mana pun mereka berada. Karena orang Jawa nggak hanya nrimo ing pandum, tapi juga percaya bahwa urip iku urup.

You Might Also Like

0 comments