Gue vs BPJS
07.40Sebelum gue baca bahwa salah satu penyebab defisitnya BPJS adalah karena peserta yang ga tertib bayar iuran, gue udah merasa bahwa itu memang salah satu penyebab. Karena sejujurnya gue juga lama banget ngga bayar BPJS. My bad...
Kalo dalam kasus gue, masalahnya jelas, malas. Kenapa malas? Karena gue merasa BPJS ngga terlalu berfaedah. Misalnya, karena gue sekarang tinggal di Jakarta, sementara faskes primer masih di Semarang, gue ngga bisa periksa dan bayar pake BPJS kecuali keadaannya emergensi. Padahal, banyak masalah kesehatan yang sifatnya nggak emergensi tapi cukup mengganggu, misal batuk pilek, sakit maag.
Di sisi lain, gue tau kalo beli obat pake BPJS suka dibatasi jumlahnya, sementara sebagai dokter, gue ngerti jenis apa obat yang perlu gue pakai dan seberapa banyak gue mesti beli, jadi mending gue beli sendiri. Lagi-lagi BPJS ga kepake.
Alasan lain kenapa gue malas adalah karena sejak awal gue nggak punya niatan untuk daftar BPJS kecuali terpaksa. Kenapa terpaksa? Karena ketika gue berangkat internsip, gue diwajibin untuk daftar BPJS. Tujuannya baik karena kalo ada apa-apa yang emergensi selama internsip gue bisa berobat pake BPJS, tapi setelahnya ngga kepake. Mau keluar pun ngga bisa. Huft.
Dan yang terakhir karena sejak gue sekolah dan tidak mendapatkan gaji tetap seperti sebelumnya gue jadi agak eman-eman untuk membayar sesuatu yang gue nggak merasakan faedahnya.
Itu alasan kenapa gue malas bayar BPJS. Nah, alasan orang lain?
Yang paling sering gue denger dari pasien ketika gue praktek adalah lagi-lagi keterpaksaan. Misal, dalam satu keluarga yang sangat pas-pasan, penghasilan cukup untuk hidup sehari-hari tapi nggak cukup untuk bayar asuransi sekeluarga, ada satu anggota keluarga yang punya penyakit kronik dan harus berobat rutin tiap bulan. Satu-satunya asuransi kesehatan yang masih bisa dia afford adalah BPJS. Masalahnya, untuk jadi anggota BPJS, harus sekeluarga, which means bayar iurannya x kali jumlah anggota keluarga. Padahal yang sakit hanya satu orang. Apalagi kalo jenis penyakitnya macam gangguan jiwa yang obatnya sering cocok-cocokan. Udah bayar BPJS, obat yang cocok nggak ditanggung, jadi tetep harus beli obat di samping bayar BPJS. Ga faedah lagi.
...
Gue belum sejauh itu mikirin orang lain. Tapi untuk kasus gue kayaknya gue yang perlu untuk mengubah mindset. Gue harus mulai berpikir bahwa bayar BPJS itu bukan bayar asuransi untuk kepentingan kita di kemudian hari, tapi untuk sedekah. Sedekah untuk membantu orang sakit lainnya agar mendapat keringanan dari segi pembiayaan. Karena kalo hanya memikirkan keuntungan apa yang gue dapet, kayaknya gue emang ga akan pernah ikhlas untuk bayar BPJS.
Satu lagi yang bikin gue malas bayar BPJS. Klaim BPJS untuk dokter rendah banget, padahal pegawainya yang verifikasi diagnosis aja ngga mesti sekolah kesehatan, gajinya jor-joran. Hahah, dasar.

0 comments