Peace

19.01


Nyadar nggak sih? Akhir-akhir ini postinganku dangkal banget. Nggak memberi sesuatu yang menginspirasi, nggak nulis tentang berita ter-update. Padahal sebenernya aku pengen. Di arsip bloggy ku ini banyak banget postingan yang nggak jadi dipublikasikan. Hmmm. Waktu udah nulis sampe tengah, mendadak buntu gitu.
Soal hubungan Indonesia - Malaysia yang makin panas tiap hari. Selain karena kebakaran hutan, juga karena tingkah iseng negara tetangga kita itu yang nge- klaim ini itu. Well, sebenernya aku juga kesel sama tingkah negara iseng itu, kesel harga diri bangsaku diinjak-injak. Tapi, aku tetep pada pendirianku. Aku menolak join grup di suatu situs jaringan sosial yang pokoknya mengandung unsur kebencian terhadap negara tersebut.

Bukan berarti aku nggak berjiwa nasionalis, tapi aku nggak mau memperruncing masalah. Well, aku punya cukup banyak temen yang berasal dari Malaysia, salah satu hasil ikut program Jenesys. Memang, sebagian dari mereka tuh nyolot banget sama kita yang warga negara Indonesia, tapi banyak juga dari mereka yang bersikap baik dan santun sama kita. Yah, bisa dibilang, yang nyebelin itu oknumnya.

Kebetulan juga, selama ikut program Jenesys
itu, aku dapet roommate seorang Malayan. Dan kita menjalin hubungan yang sangat baik, bahkan kita menganggap saudara satu sama lain. Kita pernah ngebicarain masalah klaim-klaim an itu dan tanggapan kita sama:

"Budaya Indonesia - Malaysia memang sebagian ada yang sama/ mirip. Kalo kita tengok masa lalu, kita sebenernya pernah jadi satu. Di bawah kerajaan-kerajaan Islam maupun Hindu/ Budha. Dan tindakan orang iseng yang mengeklaim itulah yang sebenernya harus diberantas."

Di suatu acara Welcome Party, aku dan roommate- ku disuruh nunjukin kebudayaan kita, bisa berupa tarian atau nyanyian. Dan kita milih nyanyi lagu 'Rasa Sayange'. Tapi dia nggak ngeklaim lagu itu sebagai lagu daerah di negaranya, seperti yang beberapa anak Malayan lain lakukan. Dia cuman bilang, "We'll sing 'Rasa Sayange', a popular folk song among Indonesian and Malayan."

Beside, di salah satu majalah remaja "KaWanku" yang pernah aku baca, yang tahun ini punya motto, "Be a Peacemaker", ada satu quote dari Mother Teresa, seorang suster asal India yang terkenal karena kontribusinya terhadap perdamaian dunia:

"I was once asked why I don't participate in anti-war demonstrations. I said that I will never do that, but as soon as you have a pro-peace rally, I'll be there."
Mother Theresa (1910-1997)

So, never count me in such group. But, count me in a group offering way to make peace. Because peace isn't only for you and me, it's the world rights.
*pic taken from here, here, and here

You Might Also Like

0 comments