Pandji dan Buku-Bukunya

02.09

Beberapa tahun yang lalu, stand up comedy mulai hype di Indonesia. Orang yang bisa dibilang pioneer stand up comedy Indonesia, menurut orang awam seperti saya, antara lain adalah Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono. Kalo Radit terkenal sejak dia bikin buku Kambing Jantan (yang maaf saya lupa ceritanya tentang apa, cuma inget kata orang itu buku lucu, saya lupa udah pernah baca atau belum, tapi yang Marmut Merah Jambu lucu sih seinget saya), Pandji mulai dikenal sejak dia jadi host acara "Kena Deh!" yang diam-diam suka saya tonton (maklum anaknya suka merasa tertantang pengin ikutan jawab kalo ada kuis, apalagi soal pengetahuan umum).

Even so, beberapa kali lihat Pandji di acara stand up comedy di awal kelucuannya, saya merasa dia nggak lucu. Entah karena Pandji memang nggak lucu, atau karena saya gagal menangkap kelucuannya karena kebanyakan guyonan receh. Tapi, saya suka banget sama buku-bukunya Pandji. 

Awalnya saya penasaran dengan buku Nasional.Is.Me secara saya anaknya nasionalis ya wkwk. Nasionalisme dan politik selalu menarik minat saya sejak SD. Namun, di suatu titik dalam hidup saya, api nasionalisme dan ketertarikan saya terhadap politik meredup. Setelah saya akhirnya bisa ikut pemilu dan pilih presiden yang waktu itu terpilih, SBY, saya agak kecewa dengan pilihan menteri-menterinya di kabinet Indonesia Bersatu jilid kedua. Saya merasa beberapa menteri yang berasal dari parpol waktu itu seperti nggak cocok dan agak maksa kalo diposisikan sesuai posisinya waktu itu. Saya jadi merasa kurang segan aja karena seseorang bisa jadi menteri karena satu koalisi bukan karena kompetensi. Karena hal itu juga, saya jadi enggan untuk memilih calon walikota di kota tempat tinggal saya. Ada satu calon yang saya harap bisa terpilih, tapi saya merasa tidak cukup percaya untuk memilih dia jadi walikota. 

taken from WSYDNshop.com

Tapi karena saya nggak dapat buku itu, akhirnya saya beli buku lain yang ditulis Pandji, judulnya Berani Mengubah. Yang saya ingat tentang buku itu adalah ia menyampaikan opininya mengenai pemerintah apa kelebihan dan kekurangan masing-masing rezim dan sebagai warga negara peran apa yang bisa kita lakonkan untuk mengubah keadaan dan pemerintah Indonesia menjadi lebih baik. Tidak selalu dengan cara yang besar, namun dengan cara-cara yang mudah dan mungkin dilakukan. Misalnya, sebelum kita memilih seorang pemimpin, perlu untuk kita tahu latar belakangnya, tau visi misi nya, dan track record nya selama ini. Pandji memukau saya dengan pengetahuannya yang luas, sekaligus caranya yang santai dan bahkan mengundang tawa dalam tulisannya.

taken from bukukita.com

Buku lainnya yang saya baca adalah Menemukan Indonesia, berisi tentang cerita Pandji sepanjang melakukan world tour stand up comedy selam 365 hari ke 20 kota di 9 negara di 4 benua. Berbagai pengalaman yang didapat selama perjalanan lengkap dengan perbandingan kelebihan dan kekurangan masing-masing tempat dibandingkan dengan Indonesia, sekaligus ulasan mengenai kekuatan dan kelemahan Indonesia serta bagaimana cara untuk mengubahnya dituangkan dalam buku ini, lagi-lagi dengan bahasa yang renyah yang membuat kita tidak bosan dan ingin terus melanjutkan. Seolah-olah kita dibawa dalam perjalanan tersebut dan ikut merasakan vibe menjadi trenyuh dan bangga. Pandji menemukan Indonesia dalam perjalanannya ke berbagai negara tersebut. Dan kita, bisa menemukan Indonesia dengan membaca buku ini.


taken from WSYDNshop.com

Juru Bicara adalah buku Pandji yang baru saja saya baca. Buku ini merupakan kumpulan beberapa post Pandji di blognya, jadi memang berisi cerita-cerita dan tulisan pendek. Yang jelas, di buku ini pun Pandji tidak berhenti menginspirasi. Kali ini tidak melulu masalah nasionalisme dan kebangsaan namun juga masalah sosial dan kehidupan berkeluarga yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Di buku ini, favorit saya adalah perdebatan antara Pandji dan abang tukang ojek mengenai SCBD! Funny!

Setelah membaca buku-buku tersebut, saya memutuskan untuk menonton kembali stand up comedy Pandji di Youtube dan lucu! Hmm... maka terbukti waktu itu selera saya yang receh hahaha. 

You Might Also Like

0 comments