Koas Teruji

12.23

Saya pernah janji untuk nulis tentang masa koas yang indah (namun tidak untuk diulang). Well, rencana saya untuk menulis per stase sepertinya akan saya ubah dengan menulis sesuai topik yang menarik dalam dunia perkoasan. Karena ada banyak hal yang mungkin bakal bikin boring kalo semua masalah perkoasan dibahas. 

Jadi, tulisan ini bakal saya dedikasikan untuk sahabat saya Rr. Retno Suminar yang bertugas di pelosok Indonesia entah dimana (karena sebulan ini susah dihubungi).

Salah satu keseruan dan sumber gontok-gontokan di dunia perkoasan adalah pengaturan jadwal jaga. Yes, kami para koas alias dokter muda, harus mengikuti kegiatan jaga malam di beberapa stase bidang tertentu, misalnya Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Bedah, Kandungan dan Kebidanan, Anestesi (Ilmu Bius/ Ilmu Menidurkan Orang), Ilmu Saraf, Forensik, dan Ilmu Kedokteran Jiwa.

Biasanya jaga ini dimulai sejak hari pertama stase. Jadi kerjaan di hari pertama itu selain orientasi, bagiin buku log, dan nentuin ketua kelompok, adalah bikin jadwal jaga. Biasanya kami akan buat tabel di kertas berisi hari Senin-Minggu yang dibuat seperti kalender, dan di kalender hari Sabtu-Minggu, satu kotak akan dibagi menjadi 2, karena ada shift pagi dan shift malam. Di hari kerja, jam jaga adalah jam 14.00 sampai jam 07.00 besok paginya. Sedangkan di hari libur dan weekend, jam jaga adalah jam 07.00-19.00 untuk shift pagi dan jam 19.00-07.00 besoknya untuk shift malam.

Nah, umumnya kita akan isi tabel itu dengan angka, sesuai dengan jumlah koas yang ada saat itu. Kalo misal ada berlima belas, akan ada angka 1-15. Kalo cuma 5 orang, akan ada angka 1-5. Bisa dibayangin dong ya, kalo koasnya cuma 5 artinya gantian jaga nya cepet banget dan pastinya capek banget. Buat ngisi angka ini, kita bikin undian berupa angka di atas kertas yang dilipat sedemikian rupa dan diundi.

Jaga pertama kelompok kami adalah saat stase Ilmu Kesehatan Anak. Stase yang cukup berdarah-darah kalo bisa dibilang. Karena selama 1 bulan juga, tiap koas setidaknya punya 8 kasus untuk dibahas. Mungkin akan dibahas di post berikutnya tentang Koas Wangi vs Koas Bau.

Hari pertama ini, sebagian besar dari kami, udah siap bawa baju jaga, alat mandi, dan baju untuk esok harinya. Karena udah turun temurun dikasih tau sama senior, hari pertama kita ga tau siapa yang bakal jaga duluan, karena undian baru dilakukan hari itu, sekaligus juga bikin jadwal jaga sebulan ke depan. 

Nah sahabat saya yang satu ini, punya semacam keyakinan klenik bahwa dia harus bertindak sebaliknya.

Kalo kamu nggak mau jaga pertama, kamu harus yakin bahwa kamu nggak akan jaga pertama. Jadi karena kamu yakin kamu nggak akan jaga pertama, kamu nggak perlu bawa baju jaga, alat mandi, dan sebagainya.
Yah, namun seringkali harapan nggak sesuai dengan kenyataan. Sahabat saya yang biasa dipanggil Sumi ini, malah jadi orang yang dapat undian jaga hari pertama. Luar biasa bukan?!

Of course dia minta tuker sama temen lain yang bawa baju jaga. Saya, misalnya. Tapi siapa sih yang mau tukeran jadi jaga hari pertama?! GA ADA! Dan akhirnya saya cuma bisa nawarin pinjemin baju jaga :))))

Kejadian kayak gini kalo cuma sekali namanya jackpot. Tapi kalo kejadiannya tiap stase?! Namanya adalah NASIB. Dan NASIB ini lah yang dialami oleh Sumi sepanjang kehidupan koas, dari stase satu ke stase lainnya. Ketika teman lain bisa menikmati hari pertama stase dengan bobo cakep di rumah, dia udah mulai berjibaku sama pasien.

Masalahnya ga cuma itu aja, ketika jaga, umumnya esok hari harus udah buat laporan kasus jaga dan harus dipresentasikan ke dokter spesialis yang sudah ditunjuk. Artinya pagi-pagi buta laporan mesti udah kelar dan difotokopi. Nah, koas yang harus jaga pertama pastinya harus segera beradaptasi sama keadaan ini. Ketika temennya masih punya kesempatan mengobservasi, dia harus udah trial and error.

Karena Sumi mengalami ini di sepanjang masa koasnya, termasuk ketika kita dilepas untuk tinggal dan jadi dokter puskesmas selama sebulan, dinobatkanlah ia oleh kelompok kami sebagai "KOAS TERUJI" karena ia mendapat ujian sejak hari pertama :))) Jahat memang, tapi itulah cara kami menunjukkan perhatian. Muahahahahahaha...

Tapi nggak heran memang, karena di antara kami sekelompok, Sumi lah yang mengambil jalur "DOKTER TERUJI". Mulai pertengahan tahun ini, sampai 2 tahun ke depan, Sumi akan menjalani program Nusantara Sehat di pelosok Indonesia. Mari kita doakan supaya Sumi senantiasa sehat dan bahagia, dan bisa bermanfaat bagi rakyat Indonesia di pedalaman yang membutuhkan akses kesehatan dan pertolongan :)

Gonna miss you, Sum!

You Might Also Like

0 comments