Visi Keluarga

21.23

Keluarga saya adalah keluarga dengan mobilitas tinggi. Saya dimana, ibu dimana, papa dimana, adek dimana. Dan ini bukan hal yang baru terjadi karena 'anak-anak sudah besar dan berpencar'. Sejak kecil saya udah biasa ditinggal papa tugas dimana dan ibu tugas dimana. Satu-satunya waktu kami bisa kumpul sekeluarga adalah saat weekend atau hari libur nasional. Dan secara nggak sadar saya selalu mengkhususkan weekend untuk berkumpul dengan keluarga. "Pokoknya jangan ajak Tiwi keluar hari Sabtu Minggu, pasti ga bakalan mau!"


Waktu saya remaja, saya merasa setiap weekend adalah masalah. Papa saya pulang dari tugasnya di luar kota, dan ampuuun hobi banget nyuruh-nyuruh dan marah-marah. Saya yang berada di titik puncak ABG labil juga gampang banget kesentil dan uring-uringan karena masalah sepele. Tapi seiring saya beranjak dewasa (dan papa juga bertambah tua -mungkin), saya jadi lebih sabar dan santai ngeladenin papa yang hobi nyuruh-nyuruh dan marah-marahnya lumayan menyusut. Hahaha. Beberapa tahun belakangan ini baru deh saya merasa weekend adalah anugerah.

Obrolan yang terjadi selama kami berkumpul me-reveal diri kedua orang tua saya dan kami anak-anaknya dan secaa nggak langsung membentuk diri saya dan adik. Kalo kata ilmu psikologi: id, ego, dan superego kami terbentuk lewat obrolan-obrolan di saat weekend itu.

Ada satu pertanyaan saya yang akhirnya terjawab di obrolan beberapa weekend yang lalu. Selama ini saya sering baca novel tentang keluarga dan selalu ada semacam motto atau visi keluarga yang diturunkan dari generasi ke generasi. Saya belum menemukan hal seperti itu dalam keluarga saya, adakah?

Momen penting pada hari itu membawa kami ke dalam obrolan mengenai 'pesan nenek moyang', ada satu cerita yang disampaikan oleh papa saya:

'Jaman dulu, bapaknya kakek saya, kerjanya sebagai tukang emas. Dia nggak sekolah, jadi nggak bisa baca tulis. Suatu hari saat naik kereta, dia sok-sokan baca koran, biar dikira orang terpelajar. Lalu ada penumpang yang ngelokke (baca: menegur), "Pak, korannya terbalik." Membela diri, dia jawab, "Lha terus kenapa? Saya kan orang pinter, saya bisa baca koran walaupun terbalik."

Turun dari kereta, dia segera pulang ke rumah. Dengan rasa malu yang luar biasa, dia bersumpah pada anak istrinya, "Anak cucuku harus bisa baca tulis, harus sekolah yang tinggi. Aku ini malu jadi orang tidak bisa baca tulis, ditertawakan oleh orang lain."'

Mungkin itu hanya sekedar cerita masa lalu, tapi buat saya itulah yang membentuk visi hidup tak hanya satu orang, tapi bahkan keluarga. Keluarga besar saya sangat concern dengan urusan pendidikan dan ternyata itu ada sejarahnya. Hal tersebut membuat saya kagum, inilah visi turun menurun yang selama ini saya cari. 

Berpatokan dari visi tersebut, saya mulai terpikir untuk mengembangkan visi lainnya demi keluarga saya di masa depan kelak. Terima kasih, kek. You must be very proud of your legacy now.

You Might Also Like

0 comments