Nasehat yang Menampar

04.07

Saya mengawali hari ini dengan malas-malasan. Dan untuk kesekian kali saya menyalahkan sindrom premenstruasi. Hahaha. 


Saya datang ke rumah sakit sengaja lebih siang dari biasanya. Saya nggak ngikutin dokter spesialis visit dari awal. Saya, lagi-lagi sengaja, nunggu beliau di ruang yang terakhir beliau datangi. Saya ikut transfer knowledge dengan setengah tertidur. Tapi mendadak saya duduk tegak setelah ditampar oleh ucapan dokter spesialis yang sedang saya ikuti.

Berawal dari transfer knowledge oleh dokter spesialis mata, beliau meng-encourage para dokter umum (GP) untuk sekolah PPDS Mata. Saat saya dan seorang GP ikut visit dokter spesialis ini, iseng dia bilang ke saya, "Tuh Wi, kamu ambil mata aja..." Saya tau dia bercanda karena dia tau banget saya pengin jadi psikiater. Sambil ketawa saya bilang, "Nggak ah, nanti aku merasa salah jurusan." 

Eh tau-tau dokter spesialis di sebelah saya ngomong dengan nada tinggi sambil lurus menatap saya, "Mbak, kamu itu boleh aja idealis, tapi semuanya itu tergantung Tuhan lho. Kamu nggak boleh bilang kayak gitu. Kalau rejeki kamu ternyata jadi dokter spesialis mata gimana? Tapi karena kamu bilang kayak gitu rejeki kamu ditarik dan kamu malah nggak keterima di mana-mana (Naudzubillah, kata saya dalam hati)." "Saya ini dulu nggak pengin jadi dokter malah jadi dokter. Saya dulu daftar sekolah Bedah di UI nggak keterima, dafta Obsgin di Undip nggak keterima, ternyata keterimanya di UGM tapi harus di Penyakit Dalam. Ternyata bisa kaya juga. Dulu cita-cita saya jadi dokter bedah atau obsgin biar kaya. Mungkin kalau saya bisa sekolah itu saya malah jadi kere." "Wajar kalau masih muda idealis, tapi ingat rejeki semua yang nentuin itu Tuhan. Ucapan itu doa, kalau ada yang bilang gitu, kamu harusnya jawab 'insya Allah'. Itu jawaban yang menyenangkan untuk orang lain."

Duh mungkin muka saya udah abang ireng kali ya. Saya selalu berusaha menerima nasehat orang lain dengan senyuman, apalagi dari orang tua. Tapi pasti keliatan banget kalo senyum saya tadi dipaksa. Bahkan saya berpikir untuk nggak usah senyum sekalian aja karena nggak bisa. 

Nasehatnya bener banget sih, semua itu diatur Tuhan, kita manusia cuma bisa berencana dan berusaha. Dan saya yakin nasehatnya berdasar karena beliau lebih sepuh daripada saya, istilahnya udah tau pahit manis kehidupan. Ceileh. Tapi, tetep aja saya merasa tersinggung. Nggak semua anak muda yang idealis itu berorientasi uang walau tentu aja siapa sih yang nggak pengin kaya? Saya pengin jadi psikiater karena saya suka ilmunya dan nggak ada yang lebih nikmat daripada mempelajari sesuatu yang memang disukai. Soal penghasilan di kemudian hari, bismillah saja semoga selalu dicukupkan. 

Di akhir sesi nasehat yang panjang lebar tadi, GP yang nampaknya tadi juga cukup kaget karena becandanya dia ke saya berujung ke nasehat yang menampar saya, ngomong ke dokter spesialis ini, "Si Tiwi ini cita-citanya pengin jadi psikiater, Dok." And you know what? Beliau tampak kaget luar biasa. Sama seperti saya yang tadi nggak bisa nyembunyiin muka malu, beliau pun nggak bisa menyembunyikan muka kagetnya. Saya nggak tau apa yang membuat dia sekaget itu, mungkin karena selama ini psikiatri sering dianggap 'lahan kering'? Haha, entahlah, saya cukup puas melihat ekspresi kagetnya. Satu sama, dok ;)

You Might Also Like

0 comments