The Pilgrimage - Paulo Coelho

03.44

Beberapa minggu terakhir saya kembali ke hobi lama saya dan mencoba untuk menjaga supaya saya keep up these good habits: membaca dan menulis. Walaupun itu saya lakukan untuk diri saya sendiri, menurut saya ini adalah hobi yang cukup produktif (daripada bobo-bobo melulu sampai kepala pusing).

Tapi, saking semangatnya saya dengan hobi membaca, belakangan ini saya jadi agak boros. Saya bisa beli buku sekali sampai dua kali seminggu *ketawa miris*. Akhirnya saya memutuskan kalo pas balik Semarang saya akan bawa buku lama yang belum dibaca, bahkan belum dibuka segelnya. Dan kalo saya kehabisan buku bacaan di Brebes, saya akan beli buku yang harganya kurang dari 50.000 rupiah (dan kalo bisa bacaannya cukup berat) untuk memenuhi hasrat dan waktu saya membaca.

Lalu, hampir dua minggu yang lalu saya beli buku ini: The Pilgrimage (Ziarah) - Paulo Coelho. Well, sampai sekarang saya masih nggak yakin apakah buku ini 'karangan' atau Paulo menceritakan pengalamannya sendiri karena nama tokohnya sama. Dan seperti dugaan saya, buku ini cukup berat. Tapi.... Juga cukup mudah dicerna. Dan saya merasa buku ini keren banget. Padahal dulu baca The Alcemist aja sampe 6 bulan lebih gara-gara nggak mudeng dan bosen. Atau mungkin sesuai kata Sumi waktu itu, kita nggak membaca buku itu di saat yang tepat, jadi kita nggak mudeng dan bosen.

Buku ini menceritakan pencarian pedang yang dilakukan oleh Paulo, seorang anggota ordo Tradisi, dengan melalui Jalan menuju Santiago yang merupakan rute ziarah penganut agama Katolik. Selama perjalanan, Paulo dipandu oleh Petrus untuk menaklukkan iblis yang ditemuinya dalam berbagai wujud. 

Saya terkesan dengan beberapa paragraf yang ada di dalam buku ini, jadi saya akan membaginya di sini:

Halaman 62-64:

"Jalan yang sekarang kau tempuh adalah Jalan kekuatan, dan hanya latihan yang melibatkan kekuatan yang akan diberikan padamu. Perjalananmu yang sebelum ini penuh dengan siksa karena yang kau inginkan hanyalah sampai ke tujuan, kini mulai menjadi kenikmatan. Inilah yang dinamakan kesenangan pencarian dan petualangan. Kau coba meraih hal yang sangat penting -impianmu."

"Kita tidak boleh berhenti bermimpi. Impian menyediakan nutrisi bagi jiwamu, seperti makanan bagi tubuh. Ada banyak momen dalam kehidupan kita saat impian tercerai dan harapan tak sampai, tapi kita harus terus bermimpi. Jika kita berhenti bermimpi, jiwa kita akan mati, dan agape takkan pernah dapat mencapainya."

"Pertempuran untuk kebaikan adalah pertempuran mewujudkan impian. Saat kita masih muda dan mimpi-mimpi kita meledak di dalam diri kita dengan segenap kekuatannya, kita menjadi sangat pemberani, tapi kita belum mengetahui cara bertempur. Melalui usaha yang keras, kita belajar bertempur, namun saat kita akhirnya bisa bertempur, kita kehilangan nyali untuk pergi bertempur. Jadi kita berbalik bertempur melawan diri sendiri. Kita menjadi musuh terburuk bagi diri sendiri. Kita akan mengatakan mimpi-mimpi itu kekanak-kanakan, atau terlalu sulit diwujudkan, atau impian itu ada karena kita belum belajar banyak tentang kehidupan. Kita membunuh impian karena takut berjuang dengan sekuat tenaga."

"Gejala awal kita berada dalam proses membunuh impian adalah keterbatasan waktu. Orang-orang tersibuk yang pernah aku kenal dalam hidupku selalu memiliki cukup waktu untuk semua hal. Mereka yang tak pernah melakukan apapun selalu merasa letih dan tak memperhatikan pekerjaan mereka yang berbeban sedikit. Mereka sering mengeluh hari terlampau singkat. Sebenarnya, mereka hanya takut berjuang dengan sekuat tenaga."

"Gejala kedua impian kita mulai mati terletak dalam keyakinan kita. Karena kita tak ingin lagi memandang hidup sebagai petualangan hebat, kita lalu memandang diri sendiri bijaksana dan adil serta benar karena sedikit sekali mempertanyakan hidup. Kita melihat hal-hal yang terbentang di balik kehidupan sehari-hari, dan mendengar suara perisai bersahutan, membaui segala debu dan keringat, serta melihat kekalahan besar dan api semangat yang terpancar dari mata para kesatria. Namun kita tak pernah menangkap kebahagiaan yang tak terkira yang timbul dari hati para pemenang di medan perang. Bagi mereka kalah atau menang menjadi tak penting; yang paling penting adalah kau bertempur untuk membela kebaikan."

"Dan yang terakhir, gejala ketiga kita melepaskan impian adalah kedamaian. Hidup seperti Minggu sore, kita tak lagi menginginkan sesuatu yang luar biasa, dan kita pun tak lagi meminta sesuatu lebih dari yang akan kita berikan. Saat ini terjadi, kita berpikir inilah yang disebut dewasa; kita melupakan impian masa muda, dan kita mencari pencapaian pribadi dan profesional. Kita akan terkejut mengetahui orang semacam kita masih menginginkan banyak hal dalam hidup mereka. Namun jauh di lubuk hati, kita tahu yang sungguh terjadi adalah kita menyerah bertempur demi mimpi kita -kita menolak bertempur demi kebaikan."

"Saat kita berhenti bermimpi dan menemukan kedamaian, kita akan merasakan kedamaian singkat. Namun impian tang tak tercapai itu membusuk dan mempengaruhi seluruh kehidupan kita. Kita menjadi kejam terhadap orang di sekitar kita, kemudian mengarahkan kekejaman ini berbalik melawan kita. Itulah saat penyakit dan depresi melanda. Apa yang kita hindari dalam pertempuran -kekecewaan dan kekalahan -hadir karena kepengecutan kita sendiri. Dan suatu hari, impian yang mati dan rusak ini akan membuat dada sesak, dan kita jadi mencari kematian. Kematian akan membebaskan kita dari segala kepastian, pekerjaan, dan kedamaian semu Minggu sore kita."

Sejauh itu yang bisa saya bagi, masih bersambung...

You Might Also Like

0 comments