Mortem

23.36

Hampir seluruh istilah kedokteran menggunakan bahasa Latin, salah satunya mortem yang berarti kematian. Namun pada praktiknya, kami lebih sering menggunakan istilah plus. Mungkin asalnya dari tanda salib yang mirip dengan tanda tambah atau plus


Selama 4 bulan saya jaga IGD, beberapa kematian nggak bisa dihindari. Ya, karena dokter hanya berusaha, sementara yang menentukan hasilnya adalah Tuhan. Pernah di suatu shift jaga malam, saya harus berhadapan dengan keluarga dari enam pasien yang meninggal dunia. Rasanya, jujur saja, melelahkan. Walaupun orang bilang, "Dokter kan sering orang meninggal, jadi udah biasa ya?"

Ibu saya pernah berpesan ketika awal saya jadi koas, "Walaupun nanti kamu akan sering ketemu dengan pasien yang meninggal, jangan sampai kamu kehilangan empati karena sudah terbiasa." Momen-momen empat bulan ini banyak mengingatkan saya dengan pesan ibu yang satu itu.

Seringkali saat melihat pasien yang masuk dengan kondisi kritis, saya sebagai dokter bisa melihat kemungkinannya untuk bertahan hidup sangat kecil. Saya yakin dokter-dokter lain pun seperti itu. Untuk itu biasanya kami menginformasikan pada keluarga dan meminta mereka berdoa lebih-lebih banyak daripada biasanya untuk kesembuhan pasien. 

Ada momen dimana saya terlalu lelah dan tidak bisa berempati, menganggap keluarga yang rewel ketika keluarganya dalam kondisi kritis adalah sesuatu yang mengganggu. Ketika ada jeda waktu dimana saya bisa sedikit rileks, saya inget pesan ibu, dan merasa menyesal. 

Pernah suatu ketika ada seorang pasien yang dirawat entah berapa hari di ruang resusitasi IGD karena ICU sedang penuh. Fyi, ruang resusitasi adalah tempat untuk melakukan pertolongan saat pasien mengalami henti jantung atau henti napas -paling sering digunakan saat ada pasien yang akan meninggal. Keluarganya ribut melulu tanya kapan dipindah lah, minta pasiennya dicek lah, dan sebagainya.

Pernah suatu kali, keluarga pasien minta saya periksa pasien tersebut karena katanya badannya panas nggak turun-turun. Padahal setengah jam sebelumnya, perawat sudah melaporkan suhu tubuh pasien tersebut yang mencapai 40 derajat Celcius dan saya sudah minta untuk diberi obat turun panas. Karena saya masih sibuk nulis rekam medis yang udah numpuk, saya jawab aja, "Iya, Bu, sebentar ya saya selesaikan ini dulu."

Nggak sampe lima menit si ibu balik lagi dan minta saya periksa bapaknya, saya minta tunggu sebentar lagi. Akhirnya ketika saya ke sana lima menit kemudian, saya cek suhunya sudah turun jadi 38 derajat Celcius. Saya bilang ke keluarganya kalo kondisi pasien sudah lebih baik, panasnya sudah turun. Eh si keluarga marah, "Ya iya untung turun, coba kalo naik jadi 50 derajat." Karena kesal, saya membentak keluarganya, bilang kalau sampai suhu segitu, pasien pasti udah lewat.

Setelah itu saya sholat Dzuhur dan selesai sholat saya keinget pesan ibu. Kematian mungkin biasa aja buat seorang dokter, karena kami tahu kalau semua orang yang hidup pasti akan meninggal. Tubuh kita dirancang Tuhan untuk mengalami mati pada akhirnya. Kami juga mengerti apa yang terjadi saat tubuh sakit sehingga bisa menyebabkan mati. 

Pasien itu dirawat hampir 5 hari di ruang resusitasi, keluarganya menunggui di sana. Dan setiap ada pasien yang gawat dan perlu diresusitasi, kami mendorongnya ke sana, melakukan pijat jantung, bantuan napas, dan sebagainya. Sebagai dokter, saya tidak takut melihat itu semua karena itu adalah suatu bentuk pertolongan. Tapi buat orang umum, melihat hal seperti itu menimbulkan rasa was-was, nggak menutup kemungkinan mereka merelasikan hal tersebut dengan kematian yang sudah dekat. Saya lupa akan kemungkinan itu, saya tidak berempati dengan keluarga pasien tersebut.

Rasanya menyesal dan malu. Selesai sholat saya ketemu keluarganya lagi, dan keluarga yang menunggui pasien itu malah minta maaf lebih dulu ke saya, "Maaf ya dok, kalau saya rewel terus. Saya kan orang umum, nggak paham kondisi bapak, saya takut kalau bapak kenapa-kenapa, makanya panik," saya juga minta maaf ke dia karena udah galak, dan berusaha menjelaskan ke dia kondisi pasien saat itu.

Banyak dokter yang kehilangan rasa empatinya karena telah terbiasa melihat kematian. Salah satu dosen saya nggak memberikan eksepsi apapun pada mahasiswanya yang ijin untuk menghadiri pemakaman orang tuanya. Dokter yang saya kenal sering menebak-nebak kapan kira-kira pasien akan meninggal dunia. 

Dokter mampu memprediksi kondisi pasien karena ilmu yang dipelajarinya bukan untuk tebak-tebakan, saya rasa, tapi untuk berusaha yang terbaik untuk pasien hingga akhir hayatnya. 

You Might Also Like

0 comments