Stigma tentang Anak Ilmu Sosial

22.22

Stigma, menurut KBBI, adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Banyak orang yang menderita karena adanya stigma ini. Di berbagai bidang pasti ada aja orang yang jadi korban stigma yang dibuat dan terlanjur menempel di masyarakat. Berikut ini saya akan sedikit bahas contoh nyata yang saya temui di bidang pendidikan.

Beberapa bulan lalu, saya mendapat kesempatan menjadi salah satu tim interviewer kepribadian untuk sebuah organisasi nirlaba di bidang youth exchange. Peserta terakhir yang saya wawancarai hari itu adalah anak berprestasi yang bisa dibilang menderita karena stigma yang melekat di masyarakat tempat dia tinggal sekaligus dipercaya oleh dirinya sendiri. Dia keren banget, menurut saya. Saya mah apa jaman SMA nggak ikut ekstrakurikuler, nggak ikut organisasi. Nah, dia ini udah menghasilkan sebuah karya ilmiah yang bahkan berhasil memenangi sebuah penghargaan. Karya ilmiah yang dia buat waktu itu mengenai kenyataan dan harapan anak-anak SMA mengenai orang tuanya. Hasilnya, ternyata kebanyakan anak mengharapkan orang tuanya memberikan lebih banyak pujian seperti Mario Teguh atas usahanya ketimbang terus menerus menuntut si anak, bahkan dengan kata-kata kasar dan kekerasan fisik. Anak-anak berpikir hal tersebut dapat memacu mereka untuk berprestasi lebih baik lagi. Wow! Bahkan saya selama ini cuma berangan-angan doang dan nggak pernah bikin karya ilmiah macam itu. Saya mah gitu orangnya *sigh.

Well, sembari wawancara, saya membaca berkas tentang kepribadiannya dan bertanya tentang apa hal yang membuat dia sangaaaat down. Jawabannya agak mengagetkan, sekaligus tidak. Dia sedih karena saat penjurusan dia masuk ke jurusan Ilmu Sosial, bukannya Ilmu Alam. Agak mengagetkan, karena saya pikir orang yang begitu peduli dengan kondisi sosial di sekitarnya dan bahkan bikin karya ilmiah bertema sosial, ternyata nggak kepingin masuk jurusan Ilmu Sosial. Dia ingin masuk jurusan Ilmu Alam karena bercita-cita jadi ahli mesin atau scientist (adek saya banget!). Dia cerita kalau saat itu dia nggak bisa terima dan menangis berhari-hari. Dia bahkan tanya ke gurunya, kenapa dia nggak bisa masuk kelas Ilmu Alam? Dan gurunya bilang, dari hasil penilaian dia lebih cocok di kelas Ilmu Sosial, bukan karena dia nggak mampu di kelas Ilmu Alam. Dan sejujurnya, itu juga yang saya lihat dari dia.

"Kenapa kamu nggak mau masuk kelas Ilmu Sosial?" Karena kelas itu identik dengan anak-anak nakal kak. Saya malu dan takut dipandang sebagai anak nakal karena saya anak sosial. Nggak kaget sih, memang stigma seperti itu masih ada sampai jaman modern seperti sekarang. Walaupun saya sendiri nggak terpengaruh.

Saya mungkin orang yang simple-minded. Menurut saya, yang kamu lakukan harus sesuai dengan apa yang kamu minati, baru apa yang kamu lakukan dengan baik. Karena ketika kamu udah berminat, kamu pasti bisa melakukan dengan baik. Saya sendiri sejak SMP sudah berangan-anagan untuk masuk kelas bahasa atau sosial. Simply karena saya suka kedua bidang itu, terutama yang pertama. Dan saya sadar banget, karena sukaaaaa pelajaran bahasa, saya jadi menikmati saat-saat saya belajar bahasa Inggris, bahasa Jepang, bahasa Indonesia, bahkan bahasa Jawa! LKS saya mungkin udah hampir penuh walaupun belum ada setengah semester berjalan. Dan usaha nggak mengkhianati, nilai bahasa saya di rapor selalu jauuuh di atas nilai mata pelajaran lainnya. Sampai suatu saat di kelas Ilmu Alam saya dibilang salah jurusan oleh salah satu teman saya. I was!

Alasan saya waktu itu nggak masuk di kelas bahasa maupun sosial karena kedua orang tua saya masih memiliki cap stigma terhadap anak-anak kelas sosial. Mirip yang dialami si peserta di atas. Bahkan ada salah satu teman saya yang memang pintar, tapi dia berwawasan sosial luar biasa, sampai diajak bertemu guru BK, karena dia memilih untuk kelas sosial. Bahkan guru pun memberikan stigma!

Saya jadi kepikiran, dari mana stigma itu awalnya terbentuk?

Mungkin awalnya sederhana. Mereka yang berminat atau nilainya menonjol di bidang IPA masuk kelas Ilmu Alam, sedangkan yang berminat atau menonjol di bidang IPS masuk kelas Ilmu Sosial. Kemudian macam main komunikata yang di hulu ngomong apa sampai hilir jadi apa, terjadi salah kaprah, bukannya memasukkan yang nilainya menonjol di bidang IPS ke kelas sosial, mereka memasukkan yang nilainya kurang di bidang IPA ke kelas sosial, walaupun mungkin si siswa ini nilainya nggak menonjol juga di bidang IPS. Jadilah kelas sosial semacam buangan untuk mereka yang gagal masuk ilmu alam. Lebih parah lagi kalau si anak ini sebenernya nggak ada minat di kelas sosial dan jadi asal-asalan. Memang sih anak kelas sosial nggak sekutu buku anak ilmu alam, namanya juga sosial ya udah sewajarnya skill mereka dalam bidang itu menonjol. Nah, orang juga sering menyalahkaprahi ini dengan cap 'anak nakal'.

Kalau memang berminat dengan bidang bahasa atau sosial dan ingin memperdalamnya, jangan takut dicap dengan stigma. Kenyataannya, banyak anak bahasa atau sosial yang emang sejak awal berminat dan menonjol di bidang tersebut bersinar lebih terang daripada anak ilmu alam yang mungkin jiwanya entah dimana tapi karena orang tua selalu bilang: IPA IPA IPA akhirnya dia ngikut arus aja. Waktu si peserta ini mengungkapkan kegundahan hatinya, saya suruh dia googling tentang Iman Usman. Dia peduli tentang isu sosial, dia dulu masuk kelas sosial, dan lihat apa yang dia lakukan sekarang. Dan itu hanya satu dari sekian banyak anak sosial yang sukses. Karena kesuksesan nggak bergantung kamu anak ilmu alam atau ilmu sosial. Kamu bisa sukses karena passion, kerja keras, dan doa tanpa henti. Jadi berhentilah mengasihani diri dan tunjukin kalo anak sosial juga bisa berprestasi. 

Dan di wawancara selanjutnya dia cerita kalau dia saat ini sedang meneliti tentang anak miang yang memilih putus sekolah dan membantu orang tuanya jadi nelayan. Dia melakukannya karena kehidupan anak miang ini sudah menggelitik pikirannya sejak lama. So, what you say? Is he a perfect kind to be a scientist? Or an awesome anthropologist, a sociologist, a psychologist, you name it?

You Might Also Like

0 comments