Ikutan Ribut Soal Penutupan Warung Saat Ramadan

22.55

Di Indonesia, lagi rame-ramenya orang berdebat masalah boleh atau enggak warung buka saat Ramadan. Apalagi kalo bukan karena razia warung di Serang, Banten oleh Satpol PP beberapa waktu yang lalu. Nah, saya ada di kubu yang mana?


Jujur saya sebenernya nggak terlalu peduli warung itu mau buka atau tutup. Tapi mungkin saya ada di kubu warung boleh buka, seperti juga restoran-restoran mahal lainnya. Emang kenapa kalo ada orang makan? Trus yang puasa jadi kepingin? Trus mokah (buka puasa sebelum waktunya, saya belum cari tau kata ini asalnya dari mana dan penulisannya yang bener kayak apa)?

Saya rasa, orang Islam, yang emang udah berniat puasa karena Allah dan keimanannya, nggak akan dengan mudah tergoda untuk makan kok. Dan orang yang emang sedang tidak puasa atau punya common sense pasti dengan sendirinya malu makan di luar, di depan orang yang berpuasa. 

Jadi, kalo ada yang bilang warung harus ditutup untuk menghormati yang puasa (supaya nggak tergoda) kok kayaknya agak menghina ya? Masa iya, nggak sanggup nahan nafsu makan minum barang sehari aja (dikali 30 sih). Masa iya, orang yang berpuasa karena Allah selemah itu imannya sampe nggak tahan lihat lodeh di warung?

Lagipula, kalo nggak boleh buka warung, trus itu bapak ibu yang biasa jualan, selama puasa mau kamu kasih kerjaan apa? Trus kalo mereka nggak bisa kerja, mereka mau sahur dan buka pakai apa? Cari kerjaan lain? Bisa aja, kalo punya modal, keahlian lain, dan kalau mereka emang sangat kuat prinsipnya untuk menghormati orang yang berpuasa. Saya salut dengan mereka. Tapi, lagi-lagi, nggak semua orang bisa seperti itu...

Intinya puasa kan menahan hawa nafsu, artinya kita yang ngontrol diri kita supaya 'menang'. Bukan kita yang kontrol orang lain supaya kita 'menang'. Cukuplah warung itu ditutup dengan tirai kalau memang mau menghormati orang yang berpuasa, nggak perlu sampai menyita segala makanan yang dia jual.

Di dekat kos saya ada warung makan (nggak akan saya sebutin dimana, takut digrebek tiba-tiba), dia buka sejak jam 2 pagi sampai subuh dan lanjut dari jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Si ibu yang berjualan pun berpuasa lho. Bayangin dia bangun dari jam berapa untuk masak? Capek, tapi karena orang lain butuh makan makanya dia berjualan. Lingkungan saya memang heterogen, banyak perantauan dan banyak yang tidak berpuasa. Walaupun begitu dia jualan dengan warung yang super tertutup, nggak semua orang tau kalo warung itu buka, kecuali udah biasa.

Saya delapan hari ini belum juga puasa. Tapi, di rumah saya tetap ikut sahur dan minum hanya setelah orang serumah sudah buka. Di kos saya mungkin ke warung untuk beli makan tapi saya pun makan sembunyi-sembunyi di kos dan saya punya banyak 'simpanan' supaya saya nggak perlu jajan siang-siang bolong. 

Saya ingat punya teman Nasrani yang selama sebulan tinggal bareng saya di bulan Ramadan. Waktu saya sahur, dia sarapan. Waktu saya sholat dzuhur, dia secepat kilat makan siang (dia nggak mau keliatan lagi makan siang saat saya selesai sholat, dia MALU tidak puasa padahal itu bukan kewajibannya). Dan waktu saya buka, dia makan malam. 

Nggak sedikit juga teman saya yang rutin puasa Senin Kamis melihat makanan dimana-mana tapi nggak batal juga. 

See, semua itu kembali lagi pada individunya. Kembali pada keimanan yang berpuasa dan common sense mereka yang nggak berpuasa.

Buat saya alasan warung boleh tetap buka adalah karena mereka yang berjualan butuh menyambung hidup, pasang tirai saja cukup lah untuk menghormati yang berpuasa. Dan yang puasa, coba diingat lagi puasa itu untuk menahan hawa nafsu bukan untuk menghilangkan 'stimulan' yang ada di luar sana. Karena semut di seberang pulau tampak dan gajah di pelupuk mata tak tampak.

You Might Also Like

0 comments