TGIF

20.31

Now I know what "TGIF" means. Not only it stands for 'Thank God It's Friday', but also the fact that Friday is the second best day of a week beside Sunday. 


Being an intern who works my legs off all day, I thank God for Friday because it only has 4 hours of work. And after that, I can do everything I want: going home early and watching films on tv, having lunch with friends, or shopping with mom.

Being an intern is surely exhausting and depressing. Ultimately, when you're in the ENT (Ear, Nose, and Throat) division, in my university. It is a small division, with a big demand. In only a month, I needed to collect 8 case reports, attend at least 15 case discussions and 3 operations, do or watch 15 examinations, write a follow up book, and map the ENT patients from first to fifth floor of the building. And the tests, there were five kind of test: presentation test, interview test, peer assessment test, physical examination test, and organized and structured clinical examination test (OSCE). It was just so depressing that I couldn't wait for it to end. And finally, it does. 

...

Capek. 

Tapi tetep aja, selalu ada yang bisa disyukuri dan diambil hikmahnya. Saya merasa beruntung banget selama di THT ketemu dosen yang kece dengan caranya masing-masing. 

dr. K, yang jadi pembimbing saya pas ujian presentasi, minta saya untuk presentasi kasus pakai bahasa Inggris, alasannya di universitas lain (mungkin international class) udah pake bahasa Inggris untuk laporan kasus. Itu jadi tantangan tersendiri buat saya di stase ini dan walaupun belibet ternyata saya dapet nilai bagus. 

Prof. S, yang jadi penguji saya pas ujian wawancara atau responsi, yang sedikit ngujinya tapi banyak ceritanya. Saya cuma dikasih satu pertanyaan,disuruh ngulang karena nggak bisa jawab, dan saya jadi belajar banyak banget tentang kanker nasofaring (diawali satu pertanyaan itu). Dan segala nasihat serta petuahnya tentang rejeki yang nggak kemana, cerita romantisnya dengan suami yang sama-sama dokter, dan bahwa di balik gelar profesor nya, dia masih ibu rumah tangga yang kalo pagi masak sarapan buat keluarga dan bersih-bersih rumah sepulang kantor :)

dr. Y, yang suka ngasih review materi tentang rhinitis alergi dan how to survive in real life: for fresh graduate doctor. Beliau masih muda, cerdas, dan kritis abis. Beliau selalu ngingetin kita kalo setelah ini kita bakal berhadapan sama kehidupan. Yah, karena kelamaan sekolah, anak kedokteran sering lupa kalo pada akhirnya semua orang butuh hidup dan untuk hidup perlu wawasan yang luas, nggak melulu soal textbook dan jurnal. Pokoknya keren banget! Dan beliau ini adalah anaknya Prof. S, subhanallah, buah emang nggak jatuh jauh dari pohonnya.

dr. B, residen favorit saya! Pembimbing saya yang satu ini, ngetop di kalangan koas sebagai residen yang rebek dan suka nyusahin koas. Tapi, saya nggak percaya. Karena dari awal pertama, beliau udah kelihatan suka ngajarin dan berbagi ilmu. Jadi kalo kesannya dia rebek itu pasti karena koasnya yang males. Dan selama ini saya selaluuuu diajarin tentang banyak hal berkaitan dengan kasus dan tips trik menghadapi pasien. Tiap kali mau ujian, beliau selalu manggil saya dan temen satu lagi untuk dibimbing khusus. Bener-bener ini nih yang namanya residen pembimbing. Lagipula, dia gentleman abis. Pas saya jaga dan baru kelar maghrib langsung disuruh pulang, "nanti dicariin orang tua lho," ck kebapakan banget emang.

Ya, segitu kesan saya selama stase THT, semoga stase berikutnya lebih lancar dan nggak pato lagi. Aamiin...

You Might Also Like

0 comments