IKA - PGD

07.06

Stase di bagian IKA, dibagi ke 12 divisi yang lebih kecil: PGD (Pediatri Gawat Darurat), PBRT (Perawatan Bayi Risiko Tinggi) dan Bayi Sehat, Poli Umum, Pediatri Sosial, Nefrologi, Kardiologi dan Endokrinologi, Gizi dan Imun-Alergi, Hematologi dan Onkologi, Pulmologi, Neurologi, Infeksi Tropik, dan Gastro-Hepatologi. Semuanya berkesan dengan caranya masing-masing.


1.PGD
Minggu pertama stase di bagian IKA, saya bertugas di divisi PGD. Kerjaannya? Nerima pasien anak yang datang ke IGD dan butuh pertolongan secepatnya karena gawat berarti butuh penanganan segera dan darurat berarti mengancam jiwa. 

Selama tugas di divisi PGD, saya dan dua orang teman lain, Sumi dan Arif, dapet tugas untuk bikin kasus gawat darurat. Kebetulan penguji saya waktu itu memang subspesialis kegawatdaruratan pediatri, jadi beliau minta kasus yang benar-benar gawat dan darurat. 

Apesnya, dari dua kasus paling gawat dan paling darurat di IGD, dua-duanya berujung pada kematian, dan kita disarankan oleh dokter PGD, "Cari kasus lain aja ya, dek." Dan yang lebih ngehe, ternyata itu jumlah kasus kematian terbanyak dibanding ketika temen-temen saya yang lain yang tugas di divisi PGD. Sampai-sampai suatu hari ada residen yang bilang kalau aura saya mungkin aura pembawa kematian -_____-" dem!

Tentang anak yang akhirnya + (plus = meninggal) ini, akan saya share sedikit ceritanya supaya jadi pelajaran buat kita dan nggak terjadi pada anak-anak kita atau saudara kita.

Sebut saja dia C, umur 1 tahun. Beberapa hari diare dan muntah, tapi oleh orang tuanya dianggap sebagai hal yang biasa aja dan nggak dibawa berobat. Kenyataannya emang sebagian orang tua masih menganggap kalo anak sakit tandanya dia mau tumbuh lebih besar dan tambah pintar. Faktanya, itu adalah mitos. Jadi, selama empat hari si anak diare dan muntah, orang tua masih tenang. Bahkan ketika anaknya jadi malas minum susu/ menetek, orang tuanya masih menganggap itu wajar karena anak sedang sakit dan tidak doyan minum. Sampai anaknya letargi, penurunan kesadaran, anak lebih banyak tidur dan sulit dibangunkan, orang tua nggak segera bawa anaknya ke rumah sakit. Ketika akhirnya mereka memutuskan membawa anaknya ke rumah sakit, si anak sudah dalam keadaan syok karena dehidrasi.

Diare, muntah, kurangnya asupan cairan/ minum/ makan ke tubuh itu bisa menyebabkan dehidrasi atau kekurangan cairan. Saat tubuh kita kekurangan cairan, kekentalan darah menjadi berlebihan dan sulit untuk disalurkan ke seluruh organ tubuh. Padahal di dalam darah terdapat oksigen yang dibutuhkan oleh tiap-tiap sel kita agar tetap hidup.

Tanda awal terjadinya dehidrasi pada anak adalah:
1. anak rewel
2. anak tampak kehausan dan minum dengan lahap
3. mata anak tampak cowong, bila menangis masih keluar air mata
4. cubitan kulit perut kembali lambat > 2 detik

Sedangkan tanda anak mengalami dehidrasi berat:
1. anak tampak tidur, tidak merespon ketika dipanggil namanya atau digoncang tubuhnya
2. anak tidak mau minum
3. mata anak tampak cowong, bila menangis tidak keluar air mata, hanya merintih
4. cubitan kulit perut kembali sangat lambat

Yang sangat perlu diperhatikan oleh orang tua adalah poin 1-3. Selain itu, orang tua juga harus memperhatikan kapan anak terakhir kali kencing dan seberapa banyak. Karena pada keadaan dehidrasi, tubuh mengeluarkan air sesedikit mungkin, sehingga kencing yang dikeluarkan anak jumlahnya juga lebih sedikit daripada biasanya. Lebih lanjut orang tua juga perlu memperhatikan apakah telapak tangan dan kaki anak dingin karena hal ini menunjukkan terjadinya syok. 

Pada syok, kaki dan tangan menjadi dingin karena aliran darah di daerah tersebut berkurang. Karena kurangnya jumlah cairan yang membawa sel-sel darah yang mengandung oksigen, maka sel-sel darah lebih diutamakan untuk organ-organ vital seperti jantung dan paru, sehingga 'jatah' untuk daerah kulit dikorbankan dan menyebabkan kulit teraba dingin.

Oleh karena itu, untuk menghindari terulangnya kasus An. C, sebaiknya bila anak diare segera diberikan oralit, 1 bungkus dilarutkan dalam 1 liter air dan diminumkan pada anak setiap kali anak BAB. Untuk anak usia < 6 bulan dapat diberikan 50-100 ml (seperempat atau setengah gelas belimbing) setiap kali BAB sedangkan untuk usia > 6 bulan dapat diberikan 100-200 ml (setengah - 1 gelas belimbing). Bila anak muntah saat diminumkan oralit, tunggu 10 menit kemudian berikan lagi pelan-pelan menggunakan sendok atau dot. Selain itu berikan minum pada anak sebanyak ia mau. Dianjurkan memberikan minuman yang mengandung elektrolit seperti kuah sup atau jus buah ketimbang hanya air putih karena pada diare, selain cairan, elektrolit dalam tubuh ikut terbuang.

Anak juga sebaiknya diberikan tambahan tablet Zinc. Untuk anak kurang dari 1 tahun dapat diberikan setengah tablet Zinc dilarutkan dalam air, sedangkan untuk usia lebih dari 1 tahun dapat diberikan satu tablet dilarutkan dalam air. Selain itu pemberian makanan harus diteruskan. Orang tua juga harus memperhatikan apakah ada tanda dehidrasi pada anak, bila terdapat tanda-tanda dehidrasi, anak harus segera dibawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.

Emmm... Segitu dulu ya, masih harus revisi kasus untuk besok. Hihi, daaaah, salam sehat selalu!

You Might Also Like

0 comments