Malam Takbir

05.15

Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar... Laa illaaha illaallahu wallaahu akbar... Allaahu akbar walillaahil hamd...

Gema suara takbir terdengar jelas dari tempat saya duduk sekarang, begitu agung diselingi suara petasan yang bersahut-sahutan. Rasa bahagia, terberkati, dan sedih menyusup jadi satu. Ya, besok hari raya, kami akan solat ied, bermaaf-maafan dengan keluarga dan tetangga, kemudian makan opor ayam. Terberkati karena rasa syukur telah dipertemukan dengan Ramadhan kali ini, diijinkan menikmati suka citanya. Dan sedih... Karena harus berpisah dengan bulan yang indah dan suci ini. Semoga bisa bertemu lagi di tahun depan dan tahun-tahun berikutnya. Semoga dipanjangkan umur kita...

Ada satu hal lagi yang masih ngganjel buat saya. Entahlah, saya merasa kotor, merasa dosa, dan Ramadhan kemarin belum cukup untuk membersihkan semua itu dari diri saya. Bahkan selama bulan Ramadhan yang penuh berkah dan pengampunan ini saya masih nggak bisa melawan hawa nafsu saya, rasa marah, iri, egois, serakah, dan sebagainya. Mulut saya masih sering berkata-kata keras dan kasar. Dan saya cuma puasa setengah bulan karena si tamu bulanan ini entah kenapa ingin stay lebih lama. Belum cukup rasanya ibadah saya sebulan ini, nggak ada bedanya dengan bulan-bulan lain. Rasanya kayak si bocah di film The Polar Express yang nggak bisa denger suara lonceng natal, rasanya ada kekosongan yang pekat saat saya mendengar suara takbir. Astaghfirullahaladzim... Semoga saya masih diberi cukup usia untuk bertemu bulan Ramadhan berikutnya, untuk membersihkan diri dari dosa dan khilaf, untuk beribadah lebih banyak dam lebih khusyuk. Semoga Ramadhan depan, si tamu bulanan ini kehilangan minat untuk berlama-lama tinggal. 

Selamat Idul Fitri! Mohon maaf lahir dan batin. 

You Might Also Like

0 comments