Talkshow Interaktif: Kontemplasi Pendidikan Indonesia (antara Kenyataan dan Harapan) - I

07.45

Sabtu lalu, saya dan Pampam janjian pagi-pagi di auditorium Prof. Soedharto buat ikutan talkshow interaktif dengan tema Kontemplasi Pendidikan Indonesia (antara Kenyataan dan Harapan). Kami berdua tertarik ikut talkshow ini karena dua dari pembicaranya adalah orang dari gerakan Indonesia Mengajar. Pasti udah pada tau kan tentang gerakan ini? Buat yang belum tau, bisa cek di sini.


Entah denger dari mana, yang saya tau acaranya mulai jam 07.30. Saya dan Pampam juga janjian jam segitu. Udah bangun tidur langsung mandi, panasin mobil, capcus, nggak pake sarapan, eh sampe sana masih sepi -_____- Udah pilih tempat strategis persis di tengah biar jelas, eh si Pampam telat. Banget. Akhirnya sepanjang talkshow saya duduk sendirian di tengah.

Ada satu hal yang aneh. Seumur-umur kuliah di Undip, saya nggak pernah denger Himne Undip loh, mungkin pas upacara ospek dulu kali ya, dan saya kaget pas disuruh berdiri nyanyiin Himne Undip, semua orang di auditorium itu apal. Rasanya kek saya sendiri yang nggak apal. Dilema lah, hahahaha...

Talkshow nya menarik, terutama saat paparan Kak Slamet Riyanto, alumni Undip yang juga Pengajar Muda angkatan IV, mengenai pengalamannya selama mengajari di Dusun Baku, Bima. Mulai dari dia datang ke situ dan semua orang nggak mau deket-deket dia karena malu nggak bisa ngomong Bahasa Indonesia, pengalaman dia ngebawa siswanya yang ketusuk bambu ke Puskesmas dan habis itu malah dilabrak ibu-ibu sekampung, sampe pengalaman lucu saat dia ngajak murid-muridnya untuk ikut lomba. Saya suka kata Kak Riyan tentang jadi Pengajar Muda itu selain setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi, juga punya feedback ke dia berupa setahun belajar, seumur hidup terinspirasi :)

Selain itu, ada hal yang mungkin perlu dicerna oleh calon dokter di luar sana yang terus terus dan terus mengeluh soal internship, mungkin buat saya juga. Kak Riyan di sini bercerita tentang guru muda yang bekerja secara sukarela di sana. Bayangkan, dia bekerja dengan gaji Rp 100.000,00 dibayarkan setiap tiga bulan, masa kerja entah berapa lama karena kalo bukan dia yang ngajar anak-anak di daerah terpencil itu, siapa lagi? Dokter internship, ditempatkan di manapun, akomodasi tidak ditanggung, digaji Rp1.200.000,00 setiap tiga bulan, masa kerja satu tahun, tapi masih banyak yang ngeluh nggak karuan. 

Saya jadi inget kata Kak Riyan, kenapa Pengajar Muda hanya bertugas selama satu tahun? Karena bekerja sepanjang hayat di daerah terpencil itu memang berat, sangat berat. Tapi kalau hanya setahun saja, untuk nyicil melunasi hutang janji mencerdaskan kehidupan bangsa, masa Pengajar Muda nggak mampu sih? Memang mengajarnya cuma setahun, tapi inspirasi yang dibawa, yang diserap oleh anak-anak di daerah terpencil itu bisa bertahan seumur hidupnya. 

Semoga aja dokter-dokter masa depan Indonesia juga punya sense of belonging yang sama kuat seperti Pengajar Muda. Kita bahkan udah 'diprogram' lho untuk, kalo bisa dibilang, melunasi hutang janji memajukan kesejahteraan umum terutama di bidang kesehatan. Kalo cuma setahun, masa sih kita nggak bisa? ;)

PS. Setahun yang lalu, di sela obrolan keluarga besar, seperti biasa Opa membagi idealismenya yang nggak luntur dimakan umur. Opa bilang, kalo udah lulus, kalo bisa jangan langsung kerja mati-matian cari uang, lunasi hutang dulu ke negeri karena kamu bisa sekolah tinggi di universitas negeri kan pakai uang rakyat, pergi ke daerah, mengabdi di sana, jadi anak muda harus punya sense of devotion :)

*sebenernya masih panjang, disambung nanti ya

You Might Also Like

0 comments