Cerita Cinta Enrico

17.37

Cerita Cinta Enrico bercerita tentang ingatan Enrico tentang kisah hidupnya mulai saat dia berusia satu hari. Lahir di Bukittingi pada masa pemberontakan PRRI, Enrico menjadi bayi gerilya sejak usia satu hari. Ayahnya, Muhammad Irsad, adalah seorang anggota Angkatan Darat yang loyal sedangkan ibunya, Syrnie Masmirah, adalah seorang wanita berpendidikan tinggi dan modern yang digambarkan berkaki kokoh, berambut pendek, dan suka memakai sepatu pantovel.

Enrico sangat mengagumi ibunya yang cantik dan gagah hingga suatu hari ia menyadari ibunya berubah menjadi keras dan menarik diri. Perubahan sikap ibunya itu selanjutnya dimengerti oleh Enrico sebagai bentuk kesedihan yang teramat dalam atas kematian kakaknya, Sanda.

Ibunya mendapat pencerahan atas kematian Sanda melalui sebuah sekte keagamaan, yang dianggap Enrico konyol dan membuat ibunya makin menjauh dari kesenangan duniawi. Ibunya tidak lagi mengijinkan perayaan ulang tahun dan natal, ibunya tidak lagi suka nonton film di bioskop. Ibu Enrico merasa bahwa setiap tindakan harus ada nilai manfaatnya, perayaan dan acara menonton dianggapnya bukan salah satu dari itu.

taken from here

Karena perubahan sikap ibunya itu, Enrico yang beranjak dewasa makin mengenal dekat ayahnya yang selama ini sibuk bekerja. Ia baru mengerti bahwa ayahnya, walaupun seorang tentara, adalah seorang yang tidak suka kekerasan, lapang dada, sangat toleran, dan jujur. Itu sebabnya ayahnya mendapat posisi di bidang administrasi. 

Sejak liburan ke Jawa bersama kedua orang tuanya, Enrico seperti menemukan jalan untuk bebas. Ia bercita-cita melanjutkan kuliah di Bandung selepas SMA. Setelah melalui perdebatan alot dengan ibunya, tentu saja ayahnya langsung mengabulkan keinginannya itu, dan memenuhi macam-macam persyaratan dari ibunya, Enrico diijinkan kuliah di ITB. 

Selama kuliah, Enrico menjadi aktivis penentang rezim Soeharto dan hampir mati karenanya. Ketika segala bentuk organisasi kampus dilarang, Enrico mulai menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan, seperti panjat tebing dan fotografi. Kelak ia memilih fotografer sebagai profesinya. 

Lepas dari ibunya berarti kemerdekaan bagi Enrico. Ia melakukan semua hal yang dilarang oleh ibunya sebagai bentuk perayaan kebebasannya. Merokok, bercinta, dan merayakan ulang tahun misalnya. Enrico memilih untuk tidak beragama karena merasa agamalah yang membuat ibunya jadi asing. Enrico juga berkomitmen untuk tidak menikah maupun punya anak.

Tahun 2000 adalah tahun yang ditunggu-tunggu oleh Muhammad Irsad. Beberapa tahun sebelumnya, ayah Enrico minta dibangunkan saat pergantian milenium tersebut, Ia ingin merayakannya bersama Enrico. Enrico yang saat itu di Jakarta dan ayahnya di Bukittingi akhirnya hanya mengobrol lewat telepon untuk merayakan pergantian tahun sekaligus milenium tersebut. 17 hari setelahnya, ayah Enrico, satu-satunya anggota keluarga yang tersisa, wafat. Ibunya telah meninggal 15 tahun sebelumnya. 

Sejak kematian ayahnya, Enrico merasakan kekosongan yang amat sangat. Ia dihantui mimpi-mimpi demam yang mengerikan. Ia merindukan hadirnya seorang kekasih. Dan dua bulan sejak kematian ayahnya, ia menemukan kekasih itu, A. A seperti refleksi dari Enrico, keduanya sama-sama manusia bebas, keduanya sama-sama tak mau dikekang, keduanya seimbang. Dengan A, Enrico tidak perlu lagi menyembunyikan hal-hal yang sebelumnya ia sembunyikan dari pacar-pacarnya karena A tidak melihat segala sesuatu sebagai hitam dan putih. A adalah seorang pribadi yang baik, dingin, feminis, dan logis.

Enrico tidak hanya menemukan sosok kekasih dalam diri A, tapi juga sosok ibu. Itulah yang membuatnya menjadi kekanak-kanakan di mata A, dan hampir saja menyebabkan hubungan mereka retak di akhir tahun ketiga. Tapi keduanya belajar memahami dan memperbaiki diri masing-masing sehingga akhirnya pada 2011 mereka menikah.

...

Buku ini adalah seri kedua dari Trilogi Parasit Lajang. Saya baru baca setengah buku pertama dan agak kurang paham, sebenarnya. Tapi buku kedua ini ceritanya mengalir dan sangat mudah dicerna sehingga saya betah membacanya sampai halaman terakhir. Novel semi-non fiksi ini dituturkan oleh Ayu Utami, si A, berdasarkan cerita dan ingatan suaminya, Enrico.

Mengutip endorsement dari Butet Kertaradjasa di cover buku ini, "Indonesia harus bersyukur, punya perempuan yang dengan segenap kesopanannya menelanjangi lelaki sampai ke akarnya."


You Might Also Like

0 comments