Empati

09.32

Semakin berkembang diri kita tiap harinya, semakin bertambah usia kita, semakin banyak yang kita tahu, semakin luas rasa yang kita punya, mestinya kita makin bisa nerima.

Dulu, tiap kali ada temen patah hati, kesusahan, down, apapun itu, selalu bilang, "sabar ya" disertai embel-embel, "laki masih banyak" "kamu pasti bisa" "cepet move on" "semangat" dan sebagainya tergantung situasi yang dihadapi. Makin ke sini, makin ngerti kalau kadang saking seringnya denger kata itu, jadi semacam resisten. Kayak tubuh yang terlalu sering dicekokin antibiotik sampe antibiotik itu nggak mampu lagi ngebunuh kuman, kata-kata tadi nggak lagi menenangkan karena terlalu mudah diucapkan. 

Buat saya, menunjukkan empati itu amat sangat sulit karena seseorang nggak mungkin ada di posisi orang lain, walaupun dia berusaha untuk memposisikan diri di posisi orang lain. "Kalo aku jadi kamu...," itu omong kosong. Saya nggak bakal bisa merasakan persis sama dengan yang kamu rasain. Dan nggak ada, "Mestinya..." karena kita dua orang yang beda dengan otak dan hati yang sama sekali lain, belum lagi faktor eksternal. Saya terbiasa berpikir sinis seperti itu. 


taken from here
Orang yang down adalah orang yang butuh, jadi dipenuhi aja apa yang jadi kebutuhannya. Kalo dia butuh ditemani, temani. Kalo butuh peluk, peluk. Kalo butuh didengarkan, dengarkan. Kalo butuh masukan, beri masukan. Kalo butuh sendiri, biarkan dia sendiri. api kalo dia butuh silet, racun serangga, atau tali untuk bunuh diri, segera seret ke psikolog atau psikiater. Hehe. Oke serius lagi, ini sok tau sih, tapi saya rasa kalo emosinya udah menguap karena kebutuhannya terpenuhi, temen yang down ini udah bisa balik ke akal sehatnya, dan siap untuk menjalani hari esok yang lebih baik. Yeaaaahhhh!!! ;)

PS. for all my girls who always say, "aku tau kamu nggak butuh disuruh move on atau apalah itu, kita ada di sini kalo kamu butuh apapun," thank you "VERYBIGHUG*

You Might Also Like

0 comments