filosofi stek

07.25

pernah nggak sih lo pengen banget cerita tentang sesuatu, menguarkan segala yang ada dalam pikiran dan hati lo, tapi lo nggak bisa. bukan karena lo nggak mampu, tapi karena adanya sekat-sekat kasat mata yang menghalangi lo. sekat-sekat bernama norma dan nilai. sekat yang sama sekali pengen lo tembus. dan sebenernya lo mampu tapi lo harus nanggung resiko yang lo sendiri nggak tau seperti apa resiko itu.

gwe lagi merasa seperti batang pohon yang baru aja disetek. gwe emang batang yang bagus, buah gwe manis, tapi gwe dipisahkan, untuk hidup sendiri, membentuk kehidupan gwe sendiri. dan gwe goyah. karena gwe hanyalah sebuah batang. tanpa akar yang menancap pada tanah tempat gwe berpijak. gwe bisa aja sewaktu-waktu roboh, dan mati. tapi, gwe harus bertahan untuk bisa menciptakan kehidupan baru gwe sendiri.

dan sekarang, angin besar tengah berhembus. gwe yang hanya sebuah batang tanpa akar bingung harus berpegang pada siapa. mungkin juga gwe nggak berdaun dan berbunga. mereka keburu layu karena gwe berkonsentrasi untuk menumbuhkan akar. lo mungkin tau mungkin nggak. berat bagi sebatang stek untuk bertahan. gwe, sebagai batang itu kadang berharap dicabut saja, dibakar, atau dibuang. tapi itu artinya gwe mati. mati dan nggak berarti.

hmm... mungkin yang bisa gwe lakukan sekarang adalah berusaha keras, layaknya batang itu berusaha keras mendorong nutrisinya, memfungsikan agar terbentuk akar. jangan terlalu jauh berpikir tentang daun, atau bunga. yang penting bagaimana bertahan. setelah itu, gwe yakin, satu per satu akan tumbuh sendirinya. dan gwe akan menjadi sosok yang utuh, kuat, dan bisa berdiri sendiri. gwe akan menunjukkan kemampuan gwe yang selama ini tersembunyi, persis seperti tanaman stek yang suatu saat akan menunjukkan keindahan bunganya, hadiah dari tuhan atas ketabahannya dan kegigihannya berjuang.

btw, gwe rasa alenia pertama nggak nyambung deh. haha.


*especially for my seniors, help me to stand this, please*

You Might Also Like

0 comments